selasar-loader

Bagaimana cara perusahaan besar bertahan di era di disrupsi?

LINE it!
Answered Oct 31, 2017

Ma Isa Lombu
Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar

2IvhuzVsBvl82nf6IXfDmO_Jsd6AayvE.jpg

Kembangkan intrapreneur di dalam perusahaan.

Kita semua tahu bahwa saat ini, dunia sudah bergerak sangat cepat. Semua hal go digital. Dampaknya adalah banyak value creator bermunculan, tetapi tidak jarang juga ada pemain lama berguguran, mulai dari media cetak yang hilang dari peredaran sampai ke perusahaan transportasi konvensional yang memecat banyak sekali karyawannya.

Ketika jawaban ini dibuat, banyak juga toko serta peritail besar yang gugur satu demi satu, sebut saja beberapa gerai brand asuhan MAP di Indonesia yang menutup gerainya di mal-mal besar Tanah Air atau tutupnya beberapa gerai kenamaan lainnya (daftar lengkapnya Anda bisa lihat di sini). 

Inilah yang terjadi tahun 2017. Tahun 2018, penutupan gerai kelas dunia diprediksi akan terus bertambah.

Meskipun ada yang bilang bahwa penutupan ini terjadi karena adanya pergeseran perilaku dari perilaku membeli produk non-leasure (baju, tas, dll) menjadi leasure dan experience-based consumption (restoran yang menawarkan konsep unik, traveling, dll) seperti yang dinyatakan Yuswohadi di sini, tetapi saya yakin bahwa pergeseran yang sedang terjadi ini adalah perubahan perilaku belanja masyarakat dari nondigital ke digital. 

Perubahan pola konsumsi ini sungguh nyata terjadi. Saya akan menjabarkan perubahan pola perilaku berbelanja di keluarga saya sendiri. 

Sejak menjamurnya e-commerce di Indonesia, istri saya sudah hampir tidak pernah berbelanja di gerai offline dan mengubah perilaku berbelanjanya menjadi serba online. Selain karena faktor kepraktisan (belanjaan dapat diantar ke rumah), dengan berbelanja online, pilihan produk akan jauh lebih bervariasi dan mudah bagi para konsumen untuk melakukan perbandingan produk. 

Coba bayangkan jika kita berbelanja offline, berapa besar usaha yang kita keluarkan untuk sekedar memilih produk yang kita akan beli. Jalan dan memilih dari satu bagian toko ke toko lainnya di sebuah mall konvensional sungguh benar-benar menguras tenaga. Belum lagi ketika masyarakat Indonesia mengenal Go-Jek dan "anak-anak produknya" seperti Go-Food, Go-Massage dan Go-Go lainnya, keluarga kami praktis tidak akan mau membuang waktu di jalan-jalan Jakarta yang macet hanya untuk mendapatkan sejumlah pelayanan tertentu.

Sekarang ini, para konsumen sudah begitu dimanjakan dengan teknologi. Di era ini, produk yang kita inginkan dapat langsung hadir ke depan pintu rumah. Effortless, efektif, dan juga efisien.

Kembali, pertanyaan selanjutnya yang harus diutarakan adalah apakah mereka yang gugur adalah perusahaan-perusahaan kecil yang kurang modal ataupun unmanage? Sama sekali tidak. Mereka yang gugur adalah produk-produk dari perusahaan besar yang sudah puluhan tahun merajai industri.

Lalu apa yang menyebabkan mereka gugur? Mereka jelas terdisrupsi!

Para raksasa itu sepertinya mengalami gejala kekalahan di era dimana para Daud millenials, yang notabede baru belajar bisnis, dapat dengan sukses menghancurkan para seniornya dengan dengan teknologi.

Perlu diketahui istilah disrupsi (disruptive innovation) sebenarnya bukanlah barang baru dalam terminologi ilmu management/ekonomi. Istilah ini pertama kalo dilahirkan oleh Clayton M. Christensen dalam sebuah artikel yang berjudul Disruptive Technologies: Catching the Wave. Artikel yang sangat luar biasa futuristiknya itu ditulis bersama koleganya di Harvard Business School, Joseph Bower, di tahun 1995.

Untuk lebih jelasnya, Anda dapat lihat video berikut ini:

Prediksi bahwa zaman akan berubah seperti yang diramalkan oleh Christensen dan Bower itu, saat ini menjadi kenyataan. Setelah selesainya era dotcom dan berlanjut ke era aplikasi, kini setiap hal rasanya sudah berada di genggaman tangan (telepon pintar yang Anda miliki) seperti toko pakaian, toko makanan, bioskop, surat kabar, pool taxi, sampai gerai pijat. Jelas, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya tentang shifting behavior di keluarga saya sendiri, dengan adanya teknologi aplikasi, perilaku manusia berubah. Dari membeli dengan mengunjungi sesuatu, menjadi membeli dengan mendatangkan sesuatu.

Sebenarnya penutupan beberapa outlet peretail besar ini tidaklah selalu buruk dampaknya. 

Memang benar, dengan ditutupnya sebuah outlet, artinya ada beberapa karyawan dalam outlet tersebut yang dirasionalisasi keberadaannya (baca: dipecat). Tapi setidaknya, penutupan beberapa outlets di atas semakin menyiratkan bahwa para pengusaha tidak terjebak pada "cinta matinya" kepada sebuah produk sehingga secara irrational ia akan mempertahankan sesuatu yang ia cintai melebihi dampak buruk yang harus ia tanggung.

Sikap irrational ini dikenal oleh para bahavioral economist sebagai endowment effect yang penjelasannya Anda dapat lihat di sini. 

Mudahnya, teori ini ingin bilang bahwa manusia sering kali mencintai sesuatu yang dimilikinya secara berlebihan yang pada akhirnya membuat manusia gagal memberikan value secara objektif atas property yang dimilikinya tersebut. 

Penutupan beberapa outlets retail besar yang tadi saya sebutkan di atas mengindikasikan bahwa para pengusaha kelas dunia (yang outlets-nya ditutup) tidak terjebak akan endowment effect. Hal ini menjadi bukti bahwa para pengusaha itu tetap dapat berpikir rasional, bahwa ketika mereka menutup sebuah outlets yang dirasa merugikan, maka sejatinya (in general) mereka telah menyelamatkan nyawa perusahaan. 

Menutup outlets artinya mereka hanya sedang melakukan amputasi terhadap bagian perusahaan mereka yang sakit. Sebaliknya, mempertahankan outlets yang terus merugi itu sama saja dengan membunuh diri mereka sendiri, pelan-pelan. Hal inilah yang sejatinya lebih berbahaya karena ketidakinginan mengamputasi unit bisnis yang rusak akan mengorbankan lebih banyak nyawa karyawan dan seluruh value perusahaan yang sebenarnya dapat dipertahankan.

Lalu bagaimana seharusnya para Goliath dapat survive melawan Daud yang gesit dan skillfull tiada terkira ini?

Jawabannya adalah menciptakan intrapreneur di dalam perusahaan, sekaligus mengkondisikan kondisi startup yang ramping (lean) dan result oriented, bergerak berdasarkan data (data driven mindset) yang sanggup bergerak dalam kondisi yang cepat berubah ini.

Berdasarkan buku Lean Startup karangan Eric Ries, kondisi "startup" tidak harus disosialisasikan dengan perusahaan rintisan yang baru hadir di market. Startup didefinisikan sebagai "a human institution designed to create a new product or service under condition of extreme uncertainty"

Dengan definisi tersebut, sebenarnya kondisi a la "startup" sejatinya juga dapat dihadirkan dalam perusahaan-perusahaan yang sudah well established dengan cara memfasilitasi para intrapreneur untuk bergerak bebas menciptakan sebuah produk baru yang competitive, layaknya para entrepreneur membangun startupnya dari awal. Sebuah lingkungan kerja yang memungkinkan para engineer dan business staff melakukan penelitian, percobaan, dan pengembangan produk baru secara cepat dan tepat. 

Sebenarnya strategi membiakkan para intrapreneur ini sudah dilakukan oleh Google. Hari ini, Google adalah perusahaan raksasa yang sudah sangat jauh berkembang dibandingkan dengan di awal kemunculannya di Stanford tahun 1995. Bahkan sangking besarnya, sang founder, Larry Page dan Sergei Brin memutuskan untuk membuat holding company yang dapat menampung anak-anak perusahaan Google/Alfabet yang makin merajalela.

Namun, di Google, setiap googlers (karyawan google) dapat mengalokasikan 20% waktunya untuk mengembangkan ide dan passion mereka sendiri untuk akhirnya dapat dijadikan sebuah produk yang responsif terhadap kebutuhan manusia dan kondisi market yang terus berubah. Maka, tidak heran para googlers dapat mengembangkan banyak sekali project-project yang super innovative, mulai dari projects yang sudah launch di market hingga project bawah tanah super rahasia yang sedang mereka kerjakan saat ini.

Sebut saja gmail. Google mail (Gmail) sejatinya bukan pemain awal surat elektronik, beberapa pemain awal seperti Hotmail, Yahoo mail, dll sudah menguasai Industri terlebih dahulu. Namun karena Google memiliki kultur mengembangkan intrapreneur yang kuat, akhirnya mereka berhasil memiliki market share yang sangat luar biasa besar di dunia eletronic mail. Belum lagi ketika kita bicara Google Maps ataupun Google Chrome yang saat ini sudah sangat mendunia. Keberhasilan produk-produk Google tersebut dihasilkan dari kultur perusahaan yang supportive dalam membiakkan para intrapreneur dalam organisasi mereka yang sudah sangat besar.

Sejatinya, apa yang dilakukan oleh Google juga bisa dilakukan oleh perusahaan besar lain. Yang harus mereka lakukan hanyalah membuat sebuah tim kecil dan mengkondisikan tim tersebut untuk bergerak layaknya para startup founders ketika mendirikan perusahaan rintisannya.

Harusnya, dengan kepemilikan modal yang jauh lebih besar, kondisi cash flow yang sehat, serta lingkungan yang kondisif untuk melakukan market dan product research, probability untuk menghadirkan sebuah "produk baru dari perusahaan lama" dapat lebih besar terjadi. Tidak seperti kondisi 9 dari 10 perusahaan startup yang mati di tahun-tahun pendiriannya.

Jika memang option untuk menciptakan intrapreneur memang sulit untuk dilakukan, perusahaan besar tersebut sebenarnya juga dapat melakukan opsi lain seperti yang dilakukan Facebook dan Google lakukan. Apa yang mereka lakukan? Mereka membeli produk digital yang sudah proven di market. Seperti apa yang Facebook lakukan terhadap WhatsApp dan Instagram atau apa yang Google lakukan terhadap Youtube.

Atau, jika opsi itu juga tidak dimungkinkan, terdapat satu lagi opsi yang sebenarnya dapat dilakukan, yakni dengan memfasilitasi para startup founder (yang menciptakan sebuah produk yang berkesesuaian dengan lini bisnis si perusahaan) dengan sebuah program inkubasi dan menanamkan modal dengan kepemilikan saham mayoritas di sana. Lewat strategi ini, perusahaan dapat tetap melakukan inovasi produk tanpa harus merubah budaya perusahaan yang sudah exist (dan bisa jadi sulit diubah).

Saat ini, memang zaman telah berubah. Lebih cepat, lebih tidak menentu. Zaman VUCA (Volatile, Uncertain, Complex and Ambiguous), bahasa kerennya. Untuk itulah diperlukan cara pandang yang juga progressive untuk dapat beradaptasi secara lebih baik. Sehingga survival rate akan semakin besar. 

Ya, survive di era yang super dinamis ini. Era dimana di Daud dapat dengan gemilang mengalahkan Goliath berkali-kali.

Eranya kids zaman now!

607 Views
Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia