selasar-loader

Apabila poligami adalah ibadah, mengapa banyak perempuan muslim yang tidak mau melakukannya?

LINE it!
Answered Oct 29, 2017

Hilmy Maulana
memperbaiki diri tanpa henti. Serving you exceed your expectations

a713nQ8eFUf2NeSYGDV7GSTTPQzACs_l.jpg

Poligami, terlepas dari hakikatnya sebagai ibadah ataupun bukan, merupakan sesuatu yang diperbolehkan dalam islam. Bernilai ibadah atau bukan, poligami bergantung dari sikap kita kala menjalankannya; apakah penuh keikhlasan, ataukah banyak diwarnai keluhan. Poligami atau beristri lebih dari 1 pun menyaratkan beragam hal yang tidak mudah, menandakan bahwa amalan poligami bukan ditujukan untuk sembarang orang. 

Mungkin banyak argumen yang menyatakan Rasulullah SAW pun berpoligami, kemudian orang-orang menjadikannya sebagai patokan dalam berbuat. Namun, perlu disadari terlebih dahulu bahwasanya Rasulullah SAW baru berpoligami kala istrinya yang pertama, Khadijah binti Khuwailid, wafat. Maka, monogami pun menjadi hal yang tidak kalah penting.  

Muslimah yang enggan untuk dipoligami, bukan berarti mereka tidak ingin beribadah. Namun, mereka juga adalah wanita yang juga memiliki perasaan. Kala ada pertanyaan untuk mendua, wanita mana yang kiranya tidak sakit kalbunya? Bilamana ada keengganan atau penolakan, hal tersebut sangatlah wajar. Muslimah adalah manusia biasa yang berperasaan juga. 

Ada pula ungkapan yang seharusnya menjadi teguran bagi pihak yang ingin berpoligami, yaitu "poligami adalah obat bagi yang membutuhkan". Hal ini menunjukkan bahwasannya berpoligami dilakukan kala kita menghadapi kondisi yang membuat kita berpoligami, bukan sebebasnya. Semisal, pasangan kita terkena penyakit sehingga menyebabkan rahimnya kurang subur. Ada kelainan yang membahayakan bagi kandungan, ataupun wafat. 

Jadi, dalam berpoligami, banyak syarat yang harus dipenuhi. Utamanya untuk seorang laki-laki, mereka harus bisa berlaku adil. Adil ini pun bukan pekara yang sepele. Perlu juga adanya kesiapan dan kelapangan di antara pasangan yang menjalani. Bilamana satu orang istri sudah cukup, itulah yang wajib disyukuri. Karena nafsu takkan pernah berujung cukup, maka peran dari kita lah yang harus mampu menahan dan menyalurkan nafsu tersebut. 

 

Ilustrasi via polygamy.com

166 Views
Write your answer View all answers to this question