selasar-loader

Apa yang membuat jumlah perempuan yang terjun ke dalam bursa pemilu masih tergolong sedikit?

LINE it!
Answered Oct 27, 2017

Grace Natalie
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia

Ini pertanyaannya bagus banget, Nur Fadhilah. Rasanya jawabannya begini; karena selama ini, ajang politik itu, apalagi kontestasi pemilihan ya, baik itu pilkada atau pemilihan umum, selama ini memang didominasi oleh kaum pria. Jadi rasanya maskulin banget gitu, dunia politik. Nggak cuma di Indonesia, di negara-negara lain juga kayak begitu.

Dan perempuan baru-baru ini aja dikasih akses lebih ke politik, misalnya dengan adanya kebijakan bahwa caleg perempuan itu harus 30% dari total caleg/daftar caleg yang diserahkan oleh suatu partai. Jadi baru-baru ini aja memang ada kebijakan yang memungkinkan perempuan untuk dapat tempat. Nggak bisa dipungkiri bahwa karena maskulin banget, maka perempuan mungkin jadi lebih enggan. Karena mereka merasa kotor, begitu ya, politik. Terus, harus sikut-sikutan, harus tega. Perempuan kan nggak suka kebanyakan yang seperti itu. Lalu, harus siap bertarung. Memang kesannya nyeremin, sih. Rapat, misalnya, kebanyakan sampai malam sekali di mana kalau berkeliaran di jalan malam hari kan bahaya juga bagi perempuan. Terus belum lagi banyak menyita waktu, sementara banyak perempuan yang kalau sudah berkeluarga, mereka meskipun berkarier kan punya tanggung jawab terhadap anak, misalnya. Ini yang jadi penghambat.

zS6tVtZZXEXQs5D86iviBxv-WK0B4Tg8.jpg

Nah, kita sih menyiasatinya antara lain dengan begini; di PSI, kita selalu usahakan rapat-rapat dan kegiatan itu dilakukan di jam kerja. Ya, sekitar jam 8-9 pagi sampai sekitar jam 5 sore. Jadi, itu adalah jam yang wajar kalau para perempuan ini mau beraktivitas. Pulang ke rumah juga jamnya masih oke. Kalau sudah punya anak juga nggak kehilangan waktu sama anaknya. Kita upayakan. Kalau terpaksa banget, baru deh pulang malam, tapi itu agak jarang karena juga mempertimbangkan segi keamanan, ya.

Lalu, kalau di sini kan kita banyak banget ibu-ibu muda yang baru punya baby. Saya sendiri punya baby usia 13 bulan dan 3,5 tahun. Kita buat ruang-ruang yang nyaman untuk menyusui, untuk bawa anak. Jadi, para peserta acara-acara kita itu banyak banget yang bawa anak kecil. Padahal, rapat partai yang pengurus dari berbagai daerah datang, tapi banyak yang bawa anak kecil. Malah pernah suatu hari, kita dapat konfirmasi bahwa banyak yang bawa anak. Kita sampai mencari baby sitter khusus untuk jagain anak selama hari itu. Kita mencari waktu itu kurang lebih 2 baby sitter, ditempatkan di sebuah ruangan. Tugasnya adalah jagain anak-anak saat mama-mamanya sedang rapat. Jadi, kita coba membuat senyaman mungkin.

Kita juga buat peraturan, kalau lagi rapat, dilarang merokok. Boleh merokok, tapi di luar. Ada waktunya. Karena banyak perempuan juga, jadi biar lebih nyaman. Kan perempuan suka males ya, selain kita harus menghirup asap rokok yang sudah pasti tidak sehat, terus dari ujung kepala sampai ujung kaki bau rokok. Sebel, kan, keluar ruangan dengan bau rokok? Jadi, itulah antara lain ya, contoh sederhana yang kita buat agar situasi nyaman buat perempuan.

Lain dari itu, di PSI, kita keukeuh harus punya kepengurusan lebih dari 30% perempuan yang diwajibkan. Jadi, kami dari pusat sampai kecamatan punya 42% perempuan dan mereka harus menempati 1 dari 3 jabatan penting, yaitu ketua, sekretaris, dan bendahara.

Jadi, kita punya banyak perempuan di PSI.

364 Views
Write your answer View all answers to this question