selasar-loader

Bisakah Anda menjelaskan keterkaitan antara ekonomi dan psikologi?

LINE it!
Answered Oct 25, 2017

Ma Isa Lombu
Kadang Skeptis, Seringnya Rasional

LJE4zBKGneFCi9uVGhv8DB-0kjGCSQZe.jpg

Ini adalah pertanyaan yang sangat kontekstual untuk ditanyakan, mengingat peraih penghargaan Nobel Ekonomi tahun 2017 adalah seorang ahli yang menggabungkan antara ilmu ekonomi (khususnya finance) dengan psikologi. 

Richard H. Thaler lah orang yang akhirnya mempopulerkan kembali kedahsyatan bidang ilmu behavioral economics, sebuah ilmu yang sebenarnya sangat kental pengaruhnya pada era perkembangan ekonomi klasik (classical economics), namun terhenti pada era neo-classical economics yang cenderung lebih matematis.

Apa yang membuat Richad Thaler mendapatkan penghargaan nobel ekonomi? Salah satunya karena Nudge Theory yang digagasnya. Simak video berikut:

Sebelum masuk lebih dalam tentang hubungan antara ekonomi dan psikologi, Anda juga dapat melihat video dari Richard Thaler tentang misbehaving sebagai pengantar.

Mari kita kembali ke pertanyaan yang diajukan.

Pada dasarnya, ilmu ekonomi adalah bidang ilmu yang mempelajari, menganalisis, dan memprediksi perilaku dan interaksi para pihak-pihak yang terlibat pada aktivitas ekonomi dan juga bagaimana ekonomi bekerja dalam sebuah negara (makro) atau rumah tangga (mikro).

Nah, pihak-pihak yang terlibat pada aktivitas ekonomi tersebut adalah manusia. Manusia berakal yang (katanya) sangat dinamis dan kompleks. 

Mempelajari manusia dengan segala perilaku, tindak tanduk, maupun alam pikirannya itu berarti mempelajari ilmu psikologi.

Dari penjabaran sederhana inilah akhirnya kita bisa temukan bahwa ada keterkaitan antara kedua disiplin ilmu tersebut.

Tidak sampai di sana, ternyata ada sesuatu yang lebih menarik untuk didalami terkait pertanyaan di atas. Mari kita elaborasi kisah cinta dua bidang ilmu tersebut (ekonomi dan psikologi) dan kaitannya dengan cabang ilmu behavioral economics yang diperjuangkan oleh Richard Thaler.

Perlu dijelaskan pula lebih lanjut bahwa selama berpuluh tahun ke belakang, dunia ini berada dalam pengusasaan mazhab ekonomi neoklasik (neo-classical economics). Para ahli yang berada dalam mazhab tersebut berkeyakinan bahwa perilaku manusia sejatinya dapat diprediksi (predictable). "People respond to incentives", kata Paul Krugman, pemenang Nobel Ekonomi yang lain. 

Sederhananya, dengan mengatur variable incentives dan disincentives yang ada pada manusia, sejatinya perilaku manusia dapat diprediksi. Ketika dapat diprediksi, maka dapat pula kita atur perilaku manusia yang katanya kompleks dan dinamis itu. 

Nah, karena perilaku manusia dapat diprediksi, maka perilaku manusia yang selalu berubah dan kompleks itu sejatinya dapat diketahui secara lebih mudah melalui persamaan matematika. 

Mungkin dalam analogi yang sederhana (secara agak kasar), mazhab ini memposisikan manusia layaknya mesin. Ia akan mengeluarkan output perilaku ekonomi tertentu jika ia diproses dengan cara tertentu dan berdasarkan input tertentu pula. Predictable

Meski memiliki banyak varian teori, para ekonom neo-klasik ini memiliki 3 (tiga) pandangan dasar.

a. Manusia sejatinya merupakan makhluk yang rasional dan akan melakukan pemilihan secara rasional pula (rational preferences). Pilihan yang rasional tersebut adalah pilihan-pilihan yang dapat diidentifikasi dan diasosiasikan dengan sebuah nilai tertentu.

b. Pada dasarnya, setiap manusia selalu berusaha untuk memaksimalkan kepuasannya (maximizing utility) dan perusahaan akan selalu berusaha untuk memaksimalkan profit yang didapat (maximizing profits)

c. Manusia akan selalu bertindak secara independen berdasarkan informasi yang sempurna dan relevan (full and relevant information).

Menariknya, pemikiran ini dan juga turunannya mendapatkan sambutan yang sangat gemilang dari para pengambil kebijakan. Sejak saat itulah maka dapat dikatakan bahwa era kejayaan ekonom neo-classical economics yang dimotori oleh beberapa ekonom dari University of Chicago dimulai. Perlu diketahui bahwa ekonom di Universitas Chicago terkenal sebagai ekonom yang memiliki skill layaknya matematikawan atau fisikawan yang mahir mengutak-atik rumus dan angka.

Karena pemikiran dan capaiannya tersebut, banyak ekonom dari University of Chicago yang mendapatkan penghargaan Nobel Ekonomi, di antaranya adalah Gary BeckerRonald CoaseEugene FamaMilton Friedman, ataupun Lars Peter Hansen

Namun, bisa jadi pada tahun 2017 ini, pendulum mazhab ekonomi telah kembali bergerak menuju arah yang berbeda. Meskipun beberapa behavioral economist lain seperti George Akerlof, Robert Fogel, Daniel Kahneman, Robert Shiller, ataupun Elinor Ostrom sudah mendapatkan penghargaan Nobel Ekonomi sebelumnya, kehadiran Richard Thaler dalam bursa peraih penghargaan nobel ini mungkin menjadi penegas bahwa homoeconomicus yang rasional telah mati. 

Seperti layaknya pemikiran ekonomi neo-klasik, bidang ilmu behavioral economics juga memiliki tiga pandangan dasar bahwa:

a. Manusia membuat 95% keputusannya berdasarkan mental shortcuts atau rules of thumb (Heuristics)

b. Manusia melakukan filter atas sesuatu (Framing)

c. Pada dasarnya, keadaan pasar tidak efisien karena informasi yang tidak sempurna (Market inefficiencies)

Intinya, ekonom aliran ini berpendapat bahwa mungkin manusia memang rasional, tetapi tidak selamanya rasional. Ada beberapa hal yang membuat manusia ternyata dapat bertindak irrasional.

Irrasionalitas manusia yang diketahui inilah yang pada akhirnya dapat membantu para policy makers untuk membuat kebijakan yang sesuai dan tepat guna, seperti yang dilakukan oleh David Camerron dan Nudge Unit-nya. Bekerja di bawah supervisi Richad Thaler, unit khusus ini berusaha merancang public health policies yang lebih efektif terkait beberapa isu kesehatan penting di UK, seperti obesitas, konsumsi alkohol, ataupun organ donation.

Untuk memudahkan penjelasan tentang Rational Economics versus Behavioral Economics, Anda dapat melihat video berikut ini:

Nah, dari penjelasan di atas, dapat kita ketahui bahwa meskipun terdapat perbedaan pandangan antara rational economics versus behavioral economics, benang merah yang masih menyatukan kedua pandangan tersebut adalah bahwa mereka ingin memprediksi perilaku (behavior) manusia secara tepat.

Kembali, bicara perilaku, erat kaitannya dengan bidang ilmu psikologi. Di sana lah kedua ilmu tersebut saling terkait.

832 Views
Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia