selasar-loader

Apa yang diharapkan oleh seorang investor ketika mendanai sebuah perusahaan startup?

LINE it!
Answered Oct 25, 2017

Ma Isa Lombu
Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar

8ZklWazGGV-3PBmf4ccJqFAVQnEavBtS.jpg

Capital Gain 

Jika diterjemahkan secara bebas, berinvestasi adalah usaha dengan motif ekonomi yang dilakukan oleh seseorang ataupun perusahaan dengan cara menempatkan uang atau modal yang dimiliki demi mendapatkan sejumlah keuntungan tertentu. 

Bentuk investasi ini beraneka ragam, mulai dari yang paling sederhana seperti membeli emas untuk kemudian dijual lagi setelah harganya meningkat, sampai kepada investasi di bidang properti (tanah, rumah, cluster), valuta asing, obligasi (surat hutang) ataupun membeli saham di pasar primer (IPO) ataupun sekunder (pasar saham).

Lebih jauh, return atas investasi yang diharapkan oleh seorang investor sebenarnya terbagi menjadi dua: dividend dan capital gain. Dividend sederhananya adalah bagi hasil dari net profit yang disepakati pada RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham), sedangkan capital gain adalah keuntungan yang diperoleh dari selisih harga beli dan harga jual saham. 

Bicara tentang investment flow di startup company, mungkin lebih menarik untuk disimak. Kurang lebih seperti ini prosesnya:

r1E5dMmsSo4jdTzDA-2Ydt6FV5HME2m8.png

Dari infografis di atas, kita dapat saksikan bahwa ada banyak pihak yang terlibat dan berpotensi untuk menjadi investor dalam perusahaan startup digital, mulai dari diri sendiri yang membiayai perusahaan di awal berdiri, para cofounder, teman-teman/keluarga, angel investor, VC (Venture Capitalist), Investment Bankers, sampai setiap orang yang membeli saham perusahaan tersebut ketika go public (IPO).

Begitu pula terkait kepemilkan saham pada sebuah perusahaan. Saham yang ada dalam sebuah perusahaan dimiliki oleh para pemegang saham (shareholders). Shareholders terbagi menjadi dua bagian. Pihak yang pertama adalah setiap orang yang menanam dananya dalam perusahaan/investor (Individual Investor, Venture Capital, Stock Market) dan yang tidak (co-founder, former employee, high level employee dan pihak-pihak lain yang sengaja diberikan kepemilikan saham karena aset nonfinansial yang mereka miliki. 

Jawaban saya yang lain tentang detail investasi pada perusahaan startup digital, khususnya mengapa para founder berhak mendapatkan bagian saham, dapat dilihat di sini.

Masih bingung?

Jika masih butuh penjelasan tambahan, termasuk bagaimana skema investasi di dalam perusahaan startup digital, silakan simak video berikut ini:

Pada dasarnya, tidak ada pembeda yang signifikan antara perusahaan digital/tech dengan non-digital/non-tech ketika masih berupa rintisan (startup) dalam usahanya untuk tumbuh (growth).

Namun demikian, ada dua hal yang paling membedakan keduanya: Waktu monetize dan tingkat risiko. Dua hal inilah yang akan menentukan investor seperti apa yang akan berinvestasi pada sebuah perusahaan digital startup dan seperti apa return yang diharapkannya.

Seperti kita ketahui bahwa setiap usaha yang baru dimulai membutuhkan biaya awal untuk membeli aset. Aset tersebutlah yang kemudian diharapkan dapat menghasilkan uang untuk perusahaan tersebut. Contoh sederhananya, jika seseorang ingin menjadi seorang pengusaha bakso, maka setidaknya ia harus membeli gerobak ataupun menyewa tempat untuk usahanya tersebut. Komponen biaya awal tersebutlah yang dinamakan initial outlay (IO).

Tidak selesai sampai disana, biaya akan selalu ada seiring dengan berjalannya kegiatan operasional si perusahaan bakso tersebut. Beberapa komponen biaya lain yang terjadi ketika warung bakso mulai berjalan adalah biaya pembelian bahan material bakso (tepung, daging, saos, kecap, dll) ataupun gaji pegawai, misalnya. Komponen biaya inilah yang sering disebut sebagai operating cost.

Sebenarnya, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal flow investasi antara si Amin sang pedagang bakso dengan (katakanlah) si Sukerberg (bukan nama sebenarnya) sang founder Pacebok. Mereka sama-sama akan mengeluarkan initial outlay dan operating cost selama menjalankan aktivitas bisnisnya. Yang membedakan adalah kapan mereka bisa memonetisasi (ngeduitin) bisnis mereka itu.

Si Amin, sang pengusaha bakso, dapat segera mendapatkan revenue manakala ada orang yang membeli baksonya. Tentu, beda Amin, beda Sukerberg.

Sang pendiri Pacebok itu baru hanya dapat me-monetize bisnis mereka manakala terjadi traction yang baik pada produk yang dikembangkan. Traction pada Pacebook di awal-awal kehadirannya dapat ditandai dengan diminatinya produk tersebut di market berdasarkan ukuran kuantitatif tertentu, seperti number of users atau number of apps downloaded, misalnya. Ketika traction ada (bahkan mencapai level ketergantungan), barulah si Sukerberg akan memunculkan fitur-fitur berbayar sebagai revenue stream dari produk yang dikembangkannya tersebut.

Jadi intinya, Sukerberg baru akan mendapatkan revenue manakala traction (bahkan addiction) dari usernya terjadi. Sebelum ada traction, biasanya para founders tidak akan terburu-buru meminta para user-nya (yang masih sedikit) untuk membayar fitur-fitur khusus yang ada. Memberikan semuanya gratis merupakan strategi penetrasi ataupun edukasi pasar yang jamak dilakukan oleh para startup founders dalam early stage mereka.

Masalahnya adalah untuk menciptakan traction itu butuh uang yang cukup (banyak). Belum lagi ketika kita bicara tingkat risiko gagal yang dimiliki oleh perusahaan teknologi/digital. Uraian atas risiko yang lebih besar yang akan dialami oleh produk-produk digital dapat selengkapnya dibaca di sini).

Karena risiko yang sangat besar tersebutlah maka opsi "meminjam uang di bank" sama sekali tidak menjadi pilihan ketika menjalankan sebuah perusahaan digital. Mengapa? Karena baik untung ataupun buntung, pihak bank akan tetap menagihkan piutangnya kepada subyek hutang.

H7ePr0fU21UkK54irU1d2CjBFhz2h-b3.jpg

Karena meminjam dari bank bukanlah pilihan yang bijak, equity sharing lewat jalur investasi adalah pilihan selanjutnya yang dapat dilakukan. Ketika skemanya adalah equity sharing lewat jalur investasi, sang founder tidak perlu kebingunan untuk mengembalikan uang yang telah disuntikkan kala produk yang dikembangkanya gagal. Jika produknya gagal dan kemudian perusahaan tersebut dinyatakan bangkrut, maka yang harus dilakukan setelahnya adalah membagi aset yang ada. Tidak seperti bank yang mau untung ataupun buntung, para founders harus mengembalikan uang (beserta interest) kepada bank selaku pihak yang meminjamkan uang.

Jadi, pilihannya hanya lewat investasi.

Nah, sayangnya, dari semua investor yang tadi saya sebutkan di atas, hanya Venture Capitalist (VC) yang memiliki daya tahan paling tinggi untuk menerima semua risiko tinggi yang ada. Untuk itulah maka tidak mudah mendapatkan kepercayaan dari VC untuk berinvestasi di sebuah perusahaan digital. Hanya perusahaan yang memiliki market besar, memiliki founders yang kredibel, ataupun market dan produk yang tervalidasilah yang akan di-support dana. Sangat selektif.

Selain memiliki sifat risk taker, (sepertinya) hanya VC yang "mengerti" keadaan industri bisnis teknologi.

Para venture capitalist sadar betul bahwa pengeluaran yang besar pasti akan terjadi untuk mendapatkan traction. Perusahaan pasti akan membakar uangnya untuk mengedukasi market, melakukan promosi produk, dan kegiatan lain yang mengeluarkan biaya besar. Sedang, bisa jadi belum ada revenue yang dihasilkan. Pun ada, jumlahnya masih lebih kecil dari cost yang dikeluarkan. Maka, rugi menjadi sebuah keniscayaan. Untuk itulah maka venture capitalist tidak mungkin (terutama di early stage) mengharapan dividend sebagai imbal hasil atas kegiatan investasi yang telah mereka lakukan.

Lalu apa yang diharapkan para Venture Capitalist tersebut?

Jawabannya adalah Capital Gain.

Karena sadar dividend tidak dapat didapat, maka VC akan memfokuskan diri untuk mendapatkan capital gain.

Selain selektif dengan hanya memilih startup yang memiliki potensi tumbuh yang besar saja, VC juga akan melakukan segala macam cara untuk memastikan perusahaan yang disuntik dananya dapat tumbuh berkali-kali lipat, seperti dengan memfasilitasi para founders dengan komunitas untuk berbagi informasi, pelatihan untuk meningkatkan skill, ataupun usaha lainnya seperti mempersiapkan si startup tersebut untuk mendapatkan round pendanaan (investasi) yang lebih besar lagi.

Setelah perusahaan bertumbuh, nilainya meningkat berkali lipat, barulah VC akan exit dengan menjual sahamnya. Keuntungan yang didapat dari selisih antara harga beli saham dan harga jual investasi tersebutlah yang (sekali lagi) dinamakan dengan capital gain. Bentuk inilah yang paling sering diharapkan oleh seorang/sebuah lembaga investasi ketika mendanai perusahaan startup digital.

Sekali lagi, memang tidak mudah untuk mendapatkan kepercayaan dari VC. Belum lagi proses kompetisi yang berat dan juga usaha untuk mendapatkan traction yang kadang membuat kepala pusing tujuh keliling.

Namun jangan khawatir, jika sedang lelah dan merasa sendirian dalam perjuangan ini, video ini dapat disimak untuk melipur hati yang sedang lara. :)

 

719 Views
Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia