selasar-loader

Apakah Pepih Nugraha pernah menyesal keluar dari Kompas?

LINE it!
Answered Oct 23, 2017

Pertanyaan ini muncul dalam kepala saya tentu bukan tanpa alasan.  Beberapa alasan yang membuat saya menanyakan hal ini antara lain:

1. Pepih Nugaraha adalah jurnalis (wartawan Kompas). 

2. Kemudian dia membangun Kompasiana, sebuah platform blog yang bisa dikatakan terbesar di Indonesia (mungkin juga Asia). 

3. Setelah membesarkan Kompasiana sehingga bisa seperti sekarang ini, Pepih Nugraha malah memilih meninggalkannya. Apakah dia pernah merasa ingin kembali saat melihat Kompasiana telah berinovasi seperti sekarang ini? 

4. Terbukti Pepih Nugraha tak bisa lepas dari dunia tulis menulis. Hal itu terlihat dari blog PepNews.com yang dibangunnya dan bahkan sudah mendapat penghargaan bergengsi. Dia tetap menulis di PepNews sekalipun telah membangun Selasar. 

5. Apakah Pepih Nugraha pernah menyesal saat ternyata (ini seandainya atau mungkin juga benar) membangun startup (Selasar) tak semudah yang dibayangkannya? 

6. Apakah Pepih Nugara pernah merasa menyesal meninggalkan Kompas saat ternyata ada perbedaan visi-misi bersama pimpinan Selasar saat membangun startup tersebut? 


Pepih Nugraha
Co-founder Selasar & Founder PepNews.com

vaOUOJ4pbg5N-Nptyc-tYAP2_-EcbMN3.jpg

Sebelum menjawab pertanyaan ini dengan segenap aspeknya, perkenankan saya menghargai Boris Toka Pelawi yang iseng melempar pertanyaan ini. Insya Allah saya jawab sebegai berikut;

1. Benar bahwa saya adalah wartawan Harian Kompas, sebuah perusahaan koran terbesar di negeri ini di mana saya sudah menjadi bagian darinya (meski cuma seringan debu yang melayang, barangkali) sejak 1990. Saya meniti karier mulai dari pustakawan, Litbang (sebentar bahkan belum pernah merasakan duduk kursinya barang sekejap pun), kemudian wartawan.

Panggilan untuk menjadi wartawan mirip sebagai "suatu keharusan", atau semacam ambisi begitulah, yang tidak bisa saya sandingkan dengan cara saya mengejar kekasih pada masa saya jaya-jayanya dulu. Saya bisa cepat melupakan jika ditolak perempuan, jika ambisi saya tidak terlaksanakan. Tetapi ambisi menjadi wartawan, butuh kengototan tersendiri meski usaha yang saya lakukan bersifat diam-diam. 

Mungkin karena terpengaruh membaca komik banyak-banyak, saya seperti pendekar yang berguru di keheningan dan kesenyapan pegunungan atap awan di mana pada waktunya saya turun gunung untuk membela kebenaran.... kebenaran versi saya, yaitu menjadi seorang wartawan. Jadi, kalau ditanya apakah saya pernah punya ambisi dalam hidup ini, saya jawab "ya", yaitu waktu berambisi menjadi wartawan Harian Kompas itu.

Singkat cerita, ambisi saya pun tercapai. Saya benar-benar menjadi pendekar yang berhasil membela kebenaran "a la" saya, yaitu menjadi wartawan.

2. Apakah saya membangun Kompasiana dari awal? Tentu saja. Agar tidak berpanjang-panjang cerita, silakan baca buku yang saya tulis, yang saya beri judul "Kompasiana Etalase Warga Biasa", diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Ada bagian menarik dari buku itu bahwa Kompasiana nyaris saja ditutup oleh para bos saya sendiri di Kompas karena satu dan lain hal, hahaha....

3. Mengapa kemudian saya meninggalkan Kompasiana? Saya pernah menulis kisah panjang lebar mengenai "Hengkangnya Saya dari Palmerah ke Kemang". Silakan baca saja. Banyak yang kaget dan bahkan seperti tidak percaya saya meninggalkan Kompasiana, terlebih lagi meninggalkan Harian Kompas yang dianggap bergengsi itu untuk mengejar sebuah "ketidakpastian" atau setidak-tidaknya merintis usaha yang belum/tidak pasti.

Saya tidak pernah menyesali pilihan hidup, setidak-tidaknya menyesal karena merasa salah memilih jalan ketika berada di perempatan. Saya memutuskan sesuatu bukan tanpa pertimbangan, bahkan pertimbangan ketika saya gagal total dalam usaha yang saya rintis bersama kawan-kawan di Selasar.com. Jika gagal total, saya bisa kembali menjadi pengajar atau kembali menekuni bidang yang saya geluti, yaitu MENULIS. 

Saya akan tetap menulis sampai orang tidak membaca tulisan saya lagi. Bahkan kalaupun tulisan saya tidak laku lagi, rencana terakhir adalah pulang kampung dan mulai bertani di sana, kembali mancing ikan di sungai (moga sungainya masih ada), atau memelihara ikan di kolam. Pada mulanya, saya orang kampung, hidup di kampung dengan bau tanahnya yang pekat tatkala terkena siraman hujan musim penghujan pertama. Jadi, saya akan lebih awal menggunakan sisa waktu saya di kampung halaman.

4. Berbicara soal weblog yang saya miliki, yaitu PepNews.com, sejujurnya barang itu sudah terlebih dulu ada sebelum saya menyatakan bergabung dengan Selasar.com pada awal Desember 2016. Website pribadi itu sudah mulai ujicoba sejak akhir Agustus, akan tetapi baru saya lepas (launch) alias online minggu pertama bulan September 2016. 

Di luar dugaan, belum berusia dua bulan, PepNews! sudah diganjar sebagai website terbaik tingkat nasional oleh Pandi karena PepNews! menggunakan domain .id. Belakangan karena saya bersama anak saya ingin mengembangkan sejumlah website, saya akhirnya membeli domain .com untuk PepNews! meski harus merogoh saku agak dalam. 

Saya ingin membimbing anak sulung saya, Zhaffran N. Munggaran, yang berniat mengembangkan Friksi.com sebagai situs khusus fiksi. Sedangkan PepNews! yang sudah menjadi PepNews.com akan saya kembangkan ke arah situs digital yang lebih baik, tidak sekadar private blog sebagaimana yang terlihat sekarang ini.

Penobatan sebagai "website terbaik tingkat nasional" itu menjadi semacam berkah tersembunyi, sebab tidak lama kemudian saya diundang makan malam oleh putra orang terkaya Indonesia yang bergerak di bidang digital. Intinya, saya diajak bergabung dengan imbalan yang menggiurkan untuk mengurus sejumlah situs di perusahaan digital itu, sementara seiring dengan itu PepNews! akan dikembangkan menjadi situs profesional dalam arti bukan hanya sekadar blog di mana hanya saya sendiri yang mengisinya.

Sejujurnya, saat PepNews! berdiri, sudah ada beberapa teman yang menjadi kontributornya. Mereka menulis dan punya akun di PepNews! tanpa bayaran sepeser pun, menulis dengan passion. Beberapa nama di antaranya Zulfikar Akbar, Shulhan Rumaru, Faizal Assegaf, Muhadzier Maop dan beberapa penulis lagi. Perkembangannya melesat cepat. Di Alexa, trafiknya melesat bagai meteor. 

5. Jujur, tawaran saya untuk bergabung dengan anak orang terkaya se-Indonesia itu menggoda saya. Tetapi, saya orang yang biasa memegang etika. Etikanya adalah, saya sudah telanjur menandatangani kerjasama dengan beberapa teman di Selasar. Saya tidak mungkin wanprestasi atas apa yang sudah saya tandatangani bersama. Gaji yang besar (bahkan jauh lebih besar dari yang biasa saya terima sebagai jurnalis Kompas) dan fasilitas berupa kendaraan baru (apa saja, tinggal pilih) yang ditawarkan harus saya tolak dengan baik-baik karena berpegang pada etika dan komitmen tadi. 

Tergoda bukan berarti menyesal setelahnya. Sebagai jurnalis, saya telah memiliki materi meski tidak sebesar materi yang ditawarkan, sehingga saya tidak terlalu "silau" kepada materi. Komitmen dan etika moral saya pegang, meski mungkin tidak ada materinya di sana. Berjalan menuju "ketidakpastian" adalah tantangan tersendiri setelah saya melepas tawaran menggiurkan itu. 

Bergabung di Selasar pilihannya cuma dua; berhasil atau gagal. Kalau berhasil, itu namanya alhamdulillah. Kalau gagal, saya sudah mengantisipasi hal terburuk sekalipun, sebagaimana yang tadi saya uraikan. Sementara itu, PepNews! yang saya kelola sendirian harus saya telantarkan selama beberapa bulan di saat saya dan kawan-kawan membangun Selasar, sampai trafiknya jatuh dan berada di titik nadir. Baru beberapa pekan lalu saja saya mulai kembali mengisi PepNews! dengan tulisan-tulisan yang sesuai passion saya.

Membangun startup seperti Selasar juga butuh komitmen, kerja keras, kerjasama, dan kesabaran. Namun di luar itu, membangun bisnis rintisan perlu dana kuat (untuk tidak mengatakan dana besar). Setelah saya jalani, kelangsungan hidup startup juga sangat bergantung pada investor. Ini pelajaran berharga dan sangat penting, yang tidak akan saya jumpai di bangku sekolah.

6. Saya tidak pernah menyesal terhadap pilihan hidup saya, termasuk saat saya memutuskan keluar dari Kompas.

***

 

513 Views
Rosiana

Luar biasa, sangat inspiratif sekali, Kang! Terima  kasih banyak...

Walaupun belum pernah bertatap muka secara langsung, tapi saya selalu mendapatkan banyak pelajaran hidup dari setiap tulisan Kang Pepih. Hatur nuhun pisan, Kang.
  Apr 30, 2018

Write your answer View all answers to this question