selasar-loader

Apa pengalaman terbaik, value yang didapat, dan cerita seru serta unik yang kamu dapatkan selama menjadi bagian dari keluarga besar Palabs-Carvedium?

LINE it!
Answered Oct 23, 2017

Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

etiWkLS8oa0WAGxjj-6elzYbxOSq-NaF.jpg

"Anak gunung keren!"

Itulah motivasi dan kesan awal saya terkait anak gunung atau yang kita kenal dengan anak pecinta alam.

Seperti cerita lalu yang saya jawab di Selasar tentang alasan utama saya suka mendaki gunung (jawaban lihat di sini), bayangan tentang keseruan mendaki gunung terus membayang-bayangi pikiran saya sejak SMP. Sampai akhirnya sebuah organisasi yang bernama Palabs (Pencinta Alam Labschool/SMUN 81 Jakarta) mengakomodasi keinginan tersebut dengan memfasilitasi para siswa baru untuk mendaftarkan diri.

Saya ingat betul, waktu itu hari sabtu pagi di pekan-pekan awal sekolah. Kala itu, saya masih kurus dan planga- plongo layaknya lulusan SMP lain. Saya bersama kawan-kawan kelas satu lainnya dikumpulkan oleh para senior Palabs untuk menghadiri briefing pascapendaftaran ekskul.

Kesan pertama kali yang saya dapatkan ketika bersinggungan dengan organisasi ini (ataupun para seniornya) adalah bahwa benar menjadi anggota pecinta alam itu keren, juga membanggakan.

9jGGj9SBlUsh0cGHgdf046IoHFqyLVMZ.jpg

Make a long story short, akhirnya saya bersama 7 orang kawan lain mengikuti program Latihan Dasar Pecinta Alam SMUN 81. Ketujuh orang tersebut adalah Yudi Prihatin, Citra Puspita, Rizky H. Tajudin, Riza Ramadan, Rendy Indraprana, Harris Agustian, dan Benjamin Mario Djaroh. 

Perlu diketahui bahwa masa-masa pendidikan kami adalah masa yang penuh dinamika bagi organisasi. 

Meski Masih jadi CaPa (Calon anggota Palabs) kala itu, kami sering dilibatkan oleh para senior untuk ikut mempersiapkan rapat ataupun terlibat dalam agenda kultural untuk mengubah nama dan bentuk organisasi. Prosesnya panjang dan cukup kompleks. Bahkan kompleksitas ini belum berhenti hingga 5 tahun setelahnya. 

Akhirnya, dengan segala plus-minusnya, organisasi Pencinta Alam SMUN 81 Jakarta bertransformasi dari Palabs menjadi Carvedium.

Change or die! 

Pepatah asing ini ada benarnya. Dengan keadaan yang terus berubah, keberadaan nama baru pecinta Alam SMUN 81 menjadi relevan untuk diusahakan. 

Kala itu, saya melihat bahwa perbedaan yang amat tegas dari Palabs menuju Carvedium adalah pola pendidikannya. Jika mungkin Palabs berwarna ke-Wanadri-an, saya melihat Carvedium cenderung ke-Mapala UI-an. Dua organisasi pecinta alam tertua di Indonesia mempengaruhi warna organisasi kami...

...which is great, saya pikir. 

Gaya Mapala UI yang lebih khas masyarakat sipil, urban, dan educated lebih pas untuk merespon perubahan zaman dibandingkan Gaya Wanadri yang militeristik. Ada beberapa orang yang menjadi tokoh utama perubahan ini, namun Rudi "Aghe" Haerudin (P.14) lah yang menjadi tokoh utama lahirnya organisasi "baru tapi lama" ini.

Anyway, kebahagiaan menjadi bagian dan berada dalam organisasi yang diimpikan sejak kecil tentu sulit dilukiskan. Mungkin rasanya seperti kawan-kawan Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang tiba-tiba bertemu Wiji Tukhul ketika mereka sedang makan di warung Padang, setelah sang demonstran tersebut dikabarkan hilang dan tewas diculik pasukan mawar belasan tahun silam. 

Tidak lama setelah dilantik, pada liburan caturwulan, saya dan Rizki Tajudin akhirnya memberanikan diri untuk naik gunung. Gunung pertama yang kami daki sampai puncak, Gunung Gede Pangrango. 

Sejak saat itu, saya terlibat kembali dalam beberapa project pendakian lain bersama kawan-kawan Palabs-Carve, seperti Pendakian Gunung Salak, Gunung Slamet, Gunung Semeru, dan Gunung Rinjani. 

NBDA5RmIWyHsaVuw7TOJNL6JMHvumugt.jpg

Dari semua project pendakian tersebut, mungkin Pendakian Gunung Gede-Pangrango dan Gunung Salak/Bunder adalah yang memiliki frekuensi paling tinggi. Alasannya sangat sederhana; selain karena berlokasi paling dekat dengan Jakarta, pendakian kedua gunung tersebut memerlukan waktu yang relatif sebentar. Cocok dengan keadaan saya sebagai pelajar yang juga dibebani dengan target-target akademis kala itu.

Sampai jawaban ini dibuat, terhitung sudah 18 tahun saya mengenal dan berinteraksi dengan organisasi ini. Pahit-manis kami lakukan bersama. Bahkan hingga Carvedium 10, saya (sepertinya) masih terlibat cukup intens di sana.

Ada beberapa value dan insight berharga yang saya dapatkan selama menjadi bagian dari keluarga besar Palabs-Carvedium, di antaranya adalah sebagai berikut.

A. Mengenal Tuhan

7uWOA9vX5eO8pXn4dKE_fOzECVFcD7zP.jpg

Berinteraksi bersama Palabs-Carvedium artinya berinteraksi pula dengan alam dan segala ciptaan Sang Maha Pencipta. 

Naik gunung, turun lembah, masuk gua, berenang ke kedalaman, memanjat tebing curam sampai berkemah di savana luas pada ketinggian, jelas memaksa seluruh indera kita menyaksikan seluruh kenindahan dan kompleksitas ciptaan-Nya yang begitu megah dan menakjubkan.

Coba kita bayangkan. Apabila dalam sebuah perjalanan, kita menemukan tiga buah batu yang terusun rapih, lalu kita rusak susunannya dengan cara menyebarkan ketiga batu tersebut secara acak. Secara common sense, kita pasti yakin bahwa ketiga batu tersebut tidak mungkin dapat terusun kembali (dengan sendirinya) secara kebetulan, kecuali jika ia diintervensi (dipindahkan) oleh pihak lain.

Begitu pula dunia ini bekerja. 

Ketika kita lihat gugusan bintang yang tersebar indah di Padang Suryakencana di malam hari, tumbuh teraturnya bunga-bunga edelweiss yang hanya terjadi di waktu-waktu tertentu, hingga kemampuan tubuh manusia untuk sembuh dengan sendirinya akibat mountain sicknesses dengan treatment tertentu, semakin membuktikan bahwa ada yang Maha Besar dan Kuat yang menciptakan semua itu dengan algoritmanya masing-masing. 

Algoritma buatan Sang Pencipta yang akhirnya membuat dunia ini bekerja dalam sebuah "The Law of Universe", tidak mungkin terjadi secara kebetulan, seperti yang para materialis dengung-dengungkan. 

Pun, ketika ada yang bilang bahwa alam ini dapat berkerja secara autopilot, maka pertanyaan kritis selanjutnya yang harus ditanyakan adalah siapa yang mendesain dan membuat alam yang luar biasa ini akhirnya bisa bekerja secara autopilot

Jawabannya adalah karena ada intervensi dari Sang Pencipta.

Saya adalah seorang muslim yang suka berkegiatan alam bebas. Maka dengan bukti-bukti akan kompleksitas alam semesta ini, sudah seharusnya saya mengakui dan menyadari kehadiran Sang Pencipta di balik keberadaannya. 

Meyakini keberadaan Tuhan harusnya memiliki konsekuensi percayanya kita akan konsep afterlife dan konsep judgment day. Lebih jauh lagi, percaya akan judgment day, seharusnya diikuti pula dengan sikap ingin bersungguh-sungguh menjalani apa saja yang diperintahkan-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. 

Untuk itulah maka, saya cukup terheran apabila ada seorang muslim yang mengaku pecinta alam, tetapi ia tidak salat. Mungkin analoginya seperti halnya anak gym yang berotot tapi merokok. 

Ia ingin sehat tapi perilakunya malah justru kontraproduktif dengan apa yang ia citakan. Paradoks.

Bicara tentang paradoks yang terjadi, mungkin ketika naik gunung dan bencengkrama dengan alam, mereka terlalu sibuk main gitar dan makan indomie, seperti yang Galatuping (istilah yang sempat populer di kalangan kami. Singkatan dari: Gabungan Laki-Laki Tukang Kemping) lakukan. 

Maka, alih-alih bisa mendapatkan insight atas petualangan yang mereka lakukan, bisa jadi mereka hanya mendapatkan kesenangan jangka pendek akibat naik gunung semata. Tak ubah seperti orang-orang yang memindahkan aktivitasnya di kota, ke alam liar saja. Hanya itu.

B. Mengenal Indonesia

9Yy9sCQEo5WO-MxfUkT_DpIjsramugFV.jpg
Berinteraksi bersama Palabs-Carvedium artinya berinteraksi pula dengan Indonesia dan segala kompeksitasnya. Mulai dari beragamnya budaya yang dimiliki, bervariasinya tingkat social economics status (SES) warganya, hingga progres pembangunan yang masih saja belum merata, meski sudah lebih dari 7 dasawarsa bangsa ini mendeklarasikan diri sebagai negara merdeka.

Saya ingin menceritakan sedikit pengalaman ketika bersama para anggota Palabs-Carvedium mendaki Gunung Semeru. 

Kala itu, saya masih kelas dua SMA. Pendakian Semeru kala itu dilakukan di bawah asuhan Lilik Kurniawan (P-15) bersama beberapa juniornya, seperti saya sendiri, Yudi Prihatin, Harris Agustian, Rendy Indraprana dan si mas ganteng-jaim, Aldino. 

Menuju Gunung Semeru di pertengahan tahun 2002 jelas menceritakan banyak pengalaman seru yang tidak dapat dilupakan, mulai dari berada dalam kereta ekonomi yang super sesak dengan gabungan bau ketek, keringat para penjaja makanan, lumpur sepatu penumpang, juga kuah pop mie selama 22 jam nonstop; bergairahnya pasar Tumpang di Malang; miskinnya para petani di lerang Bromo-Semeru; hingga profil orang-orang super unik yang ditemui selama pendakian.

Bencengkrama dengan alam di negeri ini berarti pula bencengkrama dengan Indonesia; orang-orangnya dan segala kompeksitas yang ada padanya. 

Melihat dan merasakan secara langsung keadaan Tanah Air dari dekat seyogyanya dapat menjadikan diri ini lebih cinta dan engage kepada Ibu Pertiwi secara lebih konkret. Beyond slogan-slogan yang sering diungkapkan oleh politisi dan para pemimpi di siang bolong.

Mengenal Indonesia seharusnya diikuti dengan sikap mencintai Indonesia. 

Sejatinya ada beberapa sikap patriotik yang masih relevan dilakukan di hari ini terkait kecintaan kita yang mendalam kepada Ibu Pertiwi, seperti dengan tidak mencontek ketika ujian sekolah, tidak melakukan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) ketika menjalankan aktivitas profesional, mengembangkan komunitas di lingkungan rumah, sampai bertekad masuk perguruan tinggi terbaik di negeri ini untuk dapat melompat lebih tinggi serta berlari lebih kencang pada kehidupan pasca kampus nantinya. 

Mencintai Indonesia yang tidak sebatas slogan sejatinya bisa kita lakukan. Actually we have ability, but how about willingness

Hal ini lah yang harus kita renungkan bersama, apakah bercengkramanya kita dengan Indonesia telah benar-benar membekas dan meninggalkan jejak?

Hanya kita dan Tuhan saja yang tahu jawabannya.

C. Mengenal Diri Sendiri.

QfrG9AnOEKV4koTS62-N2Q6HmLwLyj71.jpg

Perjalanan Jakarta-Bali-Lombok dan rute sebaliknya selama 10 hari lewat jalan darat dalam rangka mendaki Gunung Rinjani, jelas menjadi pengalaman super seru yang pernah saya lakukan bersama kawan-kawan Palabs-Carvedium.

Awalnya, rencana kami hanyalah ingin mengisi liburan lebaran. Setelah diskusi sana-sini, muncul ide untuk melakukan sebuah petualangan yang memiliki tingkat keseruan yang lebih memacu adrenalin; mendaki puncak tertinggi Pulau Lombok sambil menyambangi kediaman sang Dewi Anjani.

Saya ingat betul, beberapa opsi moda transportasi kami masukan dalam list, mulai dari mobil boks milik Vino (mobil boks, Bro!), sampai mobil pick-up sewaan. Absurd sih, sebenarnya. Namun pada saat itu, kami benar-benar miskin pilihan. Alhamdulillah, dengan kebaikan hati Davina Amalia (C.3), akhirnya kami bisa juga melakukan perjalanan darat dengan Mobil APV abu-abu miliknya.

Project pendakian itu diikuti oleh saya sendiri, Yudi Betawi, Vino, Riza, Alm. Dean, Puthut, Banu, dan Imron (Teman Betawi di STAN). 

Meski sebenarnya kami sudah saling kenal cukup lama, namun bersama-sama dan berinteraksi secara intensif selama 10 hari melewati jalan darat Jakarta-Banyuwangi, selat Bali-Lombok, serta indahnya padang sabana, juga ketinggian Gunung Rinjani menjadi sebuah journey yang sangat luar biasa untuk mengenal diri sendiri.

Mendaki gunung sejatinya sama saja dengan melibatkan diri dalam masalah dan pada saat yang bersamaan menikmati pleasure yang tiada terkira. 

Mungkin begitulah esensi hidup, fluktuatif antara sorrow and happiness. Bedanya adalah, dengan mendaki gunung, segala esensi kehidupan itu seakan memadat hanya dalam hitungan hari saja. Amazingly, diri ini akan menampilkan karakter sejatinya. 

Jika kita memang pemberani, setia kawan, penuh inisiatif, dan mudah menjadi bagian dari tim, maka sikap tersebut akan tampak dalam pendakian singkat yang kita lakukan tersebut. Sebaliknya, apabila kita seorang yang tricky, egois, sok kuat, ataupun tidak mau diatur, maka seluruh sikap itu akan mudah tergambar dalam setiap detail proses petualangan yang kita lakukan...

...which is great, saya pikir!

Saat ini kita hidup di disruptive era dan VUCA (Volatile, Uncertain, Complexity, and Ambiguity) world, yang artinya menjadi manusia yang kompetitif di hari ini bukanlah sebuah pilihan. 

It is a must!

Coba saja tengok beberapa peristiwa kontemporer berikut: Nokia mati malawan gempuran Andoid yang open source, pengusaha e-commerce Tanah Air kelabakan setelah Alibaba 'masuk' ke Lazada, dan moda transportasi konvensional kocar-kacir setelah aplikasi transportasi online datang. 

Dunia ini sekarang sudah lebih cepat berubah; competition rate semakin menguat, kompetitor ada dan datang di waktu-waktu yang tak terduga. Dunia kita hari ini membutuhkan figur manusia yang tahan banting, kolaboratif, kompetitif, cepat belajar, dan juga memiliki street smartness yang seimbang dengan academic smartness yang dimiliki. 

Mudahnya dunia kita hari ini membutuhkan profil manusia yang ubersexual. Profil manusia paripurna yang menggantikan konsep metrosexual yang telah usang.

Maka, seperti kata Sun Tzu dalam salah satu puisi perangnya. Ia berkata bahwa hanya pasukan yang mengenal dengan baik diri dan lawannya sajalah yang memiliki rasio mendekati sempurna untuk memenangkan pertempuran.  

Dengan bertualang ke alam bebas, seseorang akan mengalami proses akselerasi atas proses mengenal diri, tanggap terhadap lingkungan, dan tentunya mengalami percepatan atas kepemilikan karakteristik seorang ubersexual yang saya katakan sebelumnya.

Seperti yang dikatakan Walt Whitman:

"Now I see the secret of making the best person: it is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth."

Semoga.

301 Views
Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia