selasar-loader

Seperti apa saja bentuk program kreatif yang bisa diwujudkan melalui fitur Question-Answer di Selasar?

LINE it!
Answered Oct 09, 2017

Ma Isa Lombu
Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar

DmmH6TS6WFbclEeov6T5C83f9DBsAkQK.jpg

Selasar lahir di Indonesia sebagai platform berbagi pengetahuan (knowledge sharing) yang dapat membantu setiap user-nya untuk bisa lebih dikenal kualitas dan kapasitas kepakaran/keahliannya, secara lebih masif di environment digital yang kondusif (bebas junk dan hoax). Detailnya Anda dapat lihat di sini.

Simak juga video ini untuk mengetahui selasar lebih dekat:

Namun demikian, ada beberapa manfaat kreatif lain yang dapat Anda peroleh ketika menggunakan platform ini. Saya akan menyebutkan beberapa contoh implementasi terbaik yang dapat dilakukan di Selasar. Di antaranya adalah:

A. e-Learning

gbhhxOTbNTUaUfvPYwRRlAmmt3S4VW8U.jpg

Kenapa tahu bulat digoreng dadakan? 

Pertanyaan yang sangat "ringan", tetapi siapa sangka bisa dijawab oleh salah satu seorang selasares yang bernama Naufan Nurrosyid P secara sophisticated dengan perspektif keilmuan yang solid. Jawabannya dapat Anda lihat di sini.

Coba kawan-kawan bayangkan apabila jawaban di atas adalah salah satu jawaban dari sebuah pertanyaan yang dilempar oleh seorang dosen pada mata kuliah kimia dasar di pembahasan chapter tertentu, sebagai "post test" setelah selesai dilakukan kepada setiap mahasiswa yang mengikuti kuliah tersebut. 

Dengan skema "post test" ini, si dosen sejatinya dapat mengetahui apakah materi yang diajarkannya tersampaikan secara efektif atau tidak ke mahasiswa.

Yang menarik adalah satu pertanyaan di Selasar bisa dijawab secara multiple answer (banyak jawaban) sehingga banyaknya jawaban yang dihasilkan oleh mahasiswa yang mengikuti perkuliahan tersebut (katakanlah sebanyak 30 orang mahasiswa/i) dapat digunakan sebagai bahan ajaran/bacaan mata kuliah yang sama di semester berikutnya.

Bayangkan, sang dosen dapat mendapatkan 30 bahan ajar yang berkualitas hanya dengan melempar pertanyaan. Semudah itu.

Jadi, dengan format ini, fungsi e-learning bisa diwujudkan juga di Selasar.

Metode ini jelas akan sangat berguna bagi si dosen yang makin sibuk karena tuntutan untuk melakukan riset dan terindeks dalam SCOPUS. 

Karena sifatnya yang effortless, selain si dosen bisa mendapatkan inspirasi dan materi ajar secara mudah untuk dapat digunakan kembali di kelas yang sama di semester yang akan datang (seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya), bertanya dan menjawab via Selasar juga dapat mempermudah sang dosen untuk memenuhi kewajiban melaksanakan komponen "kegiatan terstruktur" yang merupakan salah satu variabel yang harus dilakukan dalam proses belajar-mengajar di kampus.

Peraturan pemerintahnya dapat dilihat di sini.

Mudahnya, hanya dengan bertanya kepada mahasiswa, metode ini jelas proven bersifat effortless bagi si dosen terkait dengan proses membuat bahan ajar. Tanpa si dosen harus melakukan apapun dengan cara-cara konvensional seperti dengan merekam dirinya sendiri ketika sedang mengajar ataupun membuat slide sebagai bahan ajar e-learning, konten-konten bahan ajar akan datang dengan sendirinya dan terakumulasi, waktu demi waktu.

Benefit lain yang pastinya dapat diperoleh oleh si dosen adalah ia dapat menjadikan Selasar sebagai digital archive (arsip digital) untuk tulisan-tulisannya yang tersebar di berbagai media, baik surat kabar, blog, web berita ataupun publikasi jurnal yang ada. Di Selasar, berbagai macam tulisan (yang diposisikan sebagai portofolio keahlian si dosen) dapat dikumpulkan dengan mudah. Apabila sewaktu-waktu si dosen ingin menunjukannya kepada pihak lain, ia hanya perlu membagikan URL dari profile page-nya kepada orang yang dituju. Semudah itu.

Selain beberapa hal yang menjadi benefit untuk sang dosen, tentu ada juga benefit yang dapat diperoleh oleh mahasiswa. 

Berdasarkan riset yang kami lakukan, proven (sudah berhasil dibuktikan) bahwa metode "menjawab" jauh-jauh lebih mudah dibandingkan "menulis".

Menulis merupakan kegiatan susah dilakukan oleh sebagian besar orang. Mudahnya, tidak setiap orang bisa menulis. Namun, riset kami membuktikan bahwa setiap orang bisa menjawab. Mengapa? Karena dengan menjawab, user akan diberikan stimulus melalui sebuah pertanyaan yang (ajaibnya) pada saat itu juga mengaktifkan otak untuk bekerja. Stimulasi itulah yang akhirnya menyebabkan proses "menjawab" pertanyaan jauh lebih mudah dibandingkan "menulis". 

Pendeknya, metode menjawab pertanyaan adalah cara yang lebih efektif untuk mengeluarkan "isi otak" mahasiswa dibandingkan dengan metode lain. Hal ini berarti, ketika si dosen "menantang" mahasiswa untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkannya, probabilita si mahasiswa bisa untuk melakukan "tugas" tersebut lebih besar dibandingkan jika si dosen meminta si mahasiswa menulis sebuah esai.

Dengan menjawab pertanyaan dosen melalui social media (Selasar), si mahasiswa juga akan ngerasa asik dan tidak terbebani dalam melakukan belajar karena melakukan proses belajar dengan cara kekinian. Caranya anak-anak zaman sekarang. Bermain media sosial.

Seperti layaknya social media lain, selasar juga mengakomodasi setiap bentuk interaksi a la social media yang ada seperti mention, notifikasi, follow/following, dan lainnya. Segala bentuk ekspresi digital bisa terakomodasi, baik video, audio, text, image, gif bahkan slide presentasi, bisa ditampilkan di selasar. 

Sebagai contoh, coba bayangkan apabila pertanyaan ini dikeluarkan oleh seorang dosen teknik informatika di salah satu sesi pengajarannya: 

"Apa inovasi teknologi yang diprediksi akan mengubah dunia?" (Link pertanyaan dapat dilihat di sini.)

Dari jawaban di atas, terlihat bahwa si mahasiswa dapat menjawab pertanyaan selain dengan menggunakan teks, si mahasiswa juga dapat menjawab dengan menggunakan image, video, dan lainnya.

Intinya, teknologi yang Selasar gunakan ini akan memudahkan mahasiswa dengan tipe belajar apapun untuk belajar dan menjawab pertanyaan. Dengan cara berselasar, mahasiswa dengan tipe belajar visual, auditori ataupun kinestetik bisa memahami/melakukan knowledge sharing process atas materi pembelajaran jarak jauh dengan lebih baik. 

Apalagi ketika sang dosen menantang mahasiswa di kelasnya dengan gimmick "jawaban gak boleh sama", saya yakin bahwa setiap mahasiswa di kelas tersebut bisa belajar lebih cepat karena selain otaknya dirangsang untuk aktif berpikir, si mahasiswa jg akan ter-update informasinya dengan melihat jawaban mahasiswa lain (yang ga boleh disamakan jawabannya). 

Intinya, dengan akumulasi Informasi yang disajikan dalam teknologi social media, dan proses belajar yang dilakukan oleh mahasiswa secara lebih aktif akan membuat mahasiswa menjadi lebih pintar dalam waktu yang lebih cepet dibandingkan jika dengan menggunakan metode konvensional lainnya.

B. Advertisement (Digital PR)

Ej5s5LONsEQQoC9pgMfdho6m_Q9e7X5r.jpg

Simak video ini terlebih dahulu untuk mengetahui tentang public relation dan hal-hal yang membedakannya dengan proses marketing yang lain, sebut saja selling.

Coba bayangkan: Anda adalah orang kreatif yang merupakan bagian dari salah satu agency. Klien agency Anda saat ini adalah LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan).

Dalam project ini, Anda ditantang untuk meningkatkan jumlah pendaftar beasiswa LPDP dengan sebuah pesan yang spesifik, katakanlah "Tidak sulit lho untuk mendapatkan beasiswa dari LPDP".

Dengan teknologi Question-Answer yang ada di Selasar, Anda dapat bertanya kepada publik yang berkaitan dengan bagaimana cara dan tips terbaik untuk mendapatkan beasiswa di LPDP. Anda lempar pertanyaan tersebut via Selasar dan biarkan publik menjawabnya. Voila, seketika banyak jawaban dapat Anda dapatkan, seperti link yang dapat Anda lihat di sini.

Tidak hanya sampai sana, Anda pun dapat melakukannya lebih jauh lagi. Untuk jawaban terbaik, Anda juga bisa membuat video semacam ini:
 

Dengan bentuk kampanye seperti ini, Anda dapat memberitahukan betapa mudah dan bergengsinya mendapatkan beasiswa LPDP dari orang lain. Ketika proses ini dilakukan secara virtual, inilah yang kita sebut dengan digital public relation (PR). Melalui strategi PR, orang lain akan berbicara untuk Anda sesuai dengan konten yang Anda inginkan. Hal ini juga dapat digunakan untuk kegiatan advertisement lain seperti product review, product survey, personal branding, poltitical electability, brand perception, ataupun crisis handling.

Contoh riilnya, coba simak campaign berikut Trans Studio Bandung di tautan ini.

ymtxhdzsGHBgTEeymk82eaywCBPEVfZE.png

Menarik bukan?

C. Political Campaign

4p6KMxguiv2yG0Fd9RQKLirUcDuvRKWB.jpg

Laporan dari kantor berita ANTARA menyebutkan bahwa terdapat kesepakatan terbaru tercapai antara pemerintah dan DPR RI dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota.

Kesepakatan terbaru itu menyangkut jadwal penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung dan serentak, yang intinya semula telah dijadwalkan tiga gelombang penyelenggaraan pilkada serentak pada 2015 dan 2018 untuk kepala daerah yang habis masa jabatannya pada kurun waktu itu, untuk kemudian melakukan pilkada nasional serentak pada 2020. Kini pada kesepakatan baru itu bertambah menjadi tujuh gelombang, yakni, pilkada serentak gelombang pertama akan dilakukan pada Desember 2015 untuk kepala daerah yang masa jabatannya berakhir pada 2015 serta pada semester pertama 2016.

Lalu pilkada serentak gelombang kedua akan dilaksanakan pada Februari 2017 untuk kepala daerah yang masa jabatannya berakhir pada semester kedua 2016 dan kepala daerah yang masa jabatannya berakhir pada 2017. Pilkada serentak gelombang ketiga akan dilaksanakan pada Juni 2018 untuk kepala daerah yang masa jabatannya berakhir pada 2018 dan 2019. Pilkada serentak gelombang keempat akan dilaksanakan pada 2020 untuk kepala daerah hasil pemilihan Desember 2015. Pilkada serentak gelombang kelima akan dilaksanakan pada 2022 untuk kepala daerah hasil pemilihan pada Februari 2017. Pilkada serentak gelombang keenam akan dilaksanakan pada 2023 untuk kepala daerah hasil pemilihan 2018. Kemudian, dilakukan pilkada serentak secara nasional pada 2027. Jadi mulai 2027, pilkada dilakukan secara serentak di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota di Indonesia, untuk seterusnya dilakukan kembali tiap lima tahun sekali.

Dalam hal ini, saya ingin gambarkan bahwa perhelatan politik di negeri ini adalah sesuatu yang akan dihadapi oleh masyarakat Indonesia hampir setiap tahun, apalagi pada tahun 2019 kita juga akan menghadapi pemilu presiden. Sebuah ajang politik yang memiliki hingar bingar yang sangat luar biasa.

Sayangnya, dengan tingkat kedewasaan umur politik orang Indonesia dan difasilitasi dengan social media yang memungkinkan setiap orang untuk berpendapat, demokrasi di Indonesia seperti terkesan kebablasan. Lebih banyak destruktifnya dibandingkan konsolidasi politik dan efek konstruktif yang terbangun.

Hal ini tidak dapat dipungkiri, sebab kekisruhan yang terjadi sekarang ini adalah kolom komentar yang memungkinkan setiap orang untuk mengekspresikan isi pikirannya dengan bebas dalam menanggapi link utama yang dibagikan. Keadaan akan bertambah parah apabila isi link berita tersebut merupakan konten yang provokatif dan mengandung unsur kedustaan (hoax).

Intinya, alih-alih untuk membuat kondisi politik masyarakat Indonesia lebih dewasa, interaksi politik di ranah digital seperti ini justru akan membawa Indonesia ke dalam lubang kejumudan demokrasi yang lebih luas lagi.

Berkaitan dengan mudahnya netizen berkomentar di social media, simak video berikut ini:
 

Akan berbeda hasilnya apabila proses interaksi antarwarganet dilakukan dengan fitur tanya jawab.

Pertanyaan (yang juga dihasilkan secara crowd-source) selain akan membuat jawaban yang dihasilkan lebih fokus terkait dengan peristiwa yang akan diangkat, jawaban yang akan tercipta dari sebuah proses bertanya (apalagi dilakukan di Selasar, sebagai platform yang kondusif dan bebas hoax karena sistem kurasi dan pemantauan user secara partisipatif), juga akan menghasilkan jawaban yang berkualitas.

Untuk memperjelas deskripsi di atas, saya berikan contoh riil yang diimplementasikan pada pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu:
a. Lihat di sini untuk pasangan Ahok-Djarot
b. Lihat di sini untuk pasangan Anies-Sandi
c. Lihat di sini untuk pasangan AHY-Sylvi

Termasuk pandangan dan analisa apakah Ahok benar-benar melakukan penistaan agama Islam? Analisis dan jawabannya dapat dilihat di sini. Atau analisis pribadi saya mengapa pasangan Ahok-Djarot kalah di Pilkada DKI Putaran 2? Jawaban dapat dilihat di sini

Coba Anda lihat jawaban-jawabannya. Berkualitas, bukan? Jauh berbeda dengan pola interaksi poltik di ranah digital kebanyakan.

Hal inilah yang membedakan Selasar yang memiliki basis interaksi "jawaban", dengan forum ataupun platform lain yang berbasis "komentar". Dengan menjawab, secara alam bawah sadar, user selasar sedang me-recall setiap data dan informasi di dalam otaknya dan menuangkannya dalam boks jawaban yang tertera. Dengan asumsi si user juga ingin menjaga kredibilitasnya, maka jawaban yang dihasilkan si user pun merupakan jawaban memiliki kualitas baik.

Pada dasarnya, karena teknologinya adalah berbasis tanya jawab dengan multiple answer, banyak fungsi lain yang dapat kita gunakan di Selasar, terutama untuk tujuan kampanye politik, baik yang diadakan dalam lingkup nasional, wilayah, bahkan kampus sekalipun. 

Langsung saja, untuk memudahkan, saya coba kasih contoh dan penerapan teknologi Selasar lainnya yang dapat dilakukan.

a. Memudahkan calon konstituen politik (warga/masyarakat) untuk tahu calon-nya lebih dekat dengan mengajukan pertanyaan seputar pasangan calon tersebut. Contoh pertanyaan dari publik via Selasar dengan meminta sang kandidat untuk menjawab serangkaian pertanyaan adalah sebagai berikut, "Mengapa Anda maju jadi presiden RI? Bisa jelaskan alasannya?" Si kandidat dapat menjawab pertanyaan ini dan, tentunya, jawaban ini juga dapat dijadikan bahan kampanye untuk si kandidat. 

b. Memudahkan konstituen untuk berkomentar secara jujur tanpa harus merasa tidak enak dengan fitur anonymous. Komentar dengan fitur anonymous ini dijaga ketat oleh admin dan user Selasar yang lain guna memastikan bahwa jawaban yang dihasilkan berdasarkan data, meski pahit (negative campaign) bukan fitnah (black campain)

c. Sebagai portofolio digital seluruh media kampanye baik tulisan, video, bahkan power point dengan fitur embed media dalam satu URL profil kandidat. Contoh: dalam profil akun pemenangan kandidat, semua portofolio tulisan/video/dll bisa dikumpulin di sana.

d. Atmosfer positif yang tercipta pada setiap jawaban karena dipancing dengan pertanyaan yang juga positif. Contohnya adalah dalam setiap pertanyaan, kita dapat membuat nuansanya positif. Nuansa positif di pertanyaan akan melahirkan jawaban yang positif juga. Ini yang dapat mencegah komentar liar seperti yang kita temukan di social media lain. Hal ini akan berdampak pada kampanye yang sehat dan konstruktif serta dapat meminimalisasi risiko konflik horizontal.

e. Alat bagi kandidat atau BAWASLU/KPU/DKPP untuk mengumpulkan aspirasi. Contoh pertanyaan, "Pemilihan Umum sebentar lagi kita mulai, apa kriteria terbaik seorang ketua presiden RI menurutmu?"

f. Sebagai metode bagi para kandidat mengumpulkan dukungan ataupun testimonial pribadi, seperti di friendster (digital PR). Melalui sebuah pertanyaan, si pendukung dapat menjelaskan latar belakang personal yang jarang diketahui orang lain, seperti mengapa ia mendukung kandidat tertentu. Contoh pertanyaan: "Faktor apa yang membuat kamu memilih x (nama calon) sebagai presiden RI di Pemilu tahun ini?"

g. Sebagai alat digital untuk menjaring aspirasi dari khalayak umum. Aspirasi ini dapat dibagikan kepada para kandidat untuk menyusun program kerjanya. Contoh pertanyaan: Apa asiprasi kamu untuk Indonesia yang lebih baik?

Jadi, akan sangat menarik Selasar (sebagai social media karya anak bangsa) dipakai secara official oleh KPU atau KPUD, ataupun oleh para kandidat secara kultural, sebagai produk teknologi yang berkeksesuaian dengan standar internet sehat, dimana dapat menggantikan/melengkapi social media yang existing (Facebook, Twitter, Instagram, dll).

D.Writing Competition 

TQ0LC-8oBUOC04K--Ol7HBWklSC29W0q.png

Selama ini, writing competition baik yang dilaksanakan untuk tujuan komersial ataupun nonkomersial dilaksanakan dalam format blogging competition.

Sayangnya adalah, perkembangan blog di ranah digital selama kurang lebih 2 tahun belakangan ini semakin sepi dan jauh dari peminat. Apa sebabnya? Sebab utama kemunduran ini adalah ketidakpraktisan penggunaan blog sebagai etalase digital pemikiran/karya seseorang akibat skill minim yang dimiliki oleh para calon blogger akan teknis pengelolaan blog/web, seperti penguasaan design (user interface), sampai ke strategi SEO agar konten yang kita buat makin terindeks di Google. 

Hal ini diperparah dengan semakin bertambahnya platform digital baru yang memfasilitasi seluruh substansi dari blog, bahkan dalam angle yang lebih spesifik.

Sebagai contoh, saat ini para blogger sudah lebih banyak melakukan value creation dan berinteraksi dengan audience-nya di berbagai macam social media platfom seperti layaknya facebook (untuk user yang menginginkan social media untuk tujuan pertemanan, update berita politik, bahkan berjualan gamis), instagram (untuk dagang dan mencari barang-barang dengan display visual yang baik secara digital) dan twitter (untuk user yang ingin sekedar melihat berita cepat dalam format yang pendek).

Pendeknya, saya katakan di sini bahwa zaman keemasan blog sudah berakhir!

Kesulitan lain jika mengadakan writing competition via blog (blogging competition) adalah kesulitan panitia/juri melakukan rekap dan menilai hasil karya yang ada karena masing-masing tulisan (yang berada pada sebuah blog tertentu) memiliki URL-nya masing-masing. Ketika ada 200 peserta, para panitia/juri harus mengumpulkan 200 link tersebut dan membedahnya satu demi satu.

Di Selasar, writing competition dapat dilakukan dalam format yang jauh lebih sederhana. 

Para panitia hanya harus mengumumkan detail pengumuman lomba menulis dalam format pertanyaan (Ask Question), dan para peserta hanya harus melakukan klik pada tombol "Answer" untuk menuliskan pemikirannya sebagai bagian dari lomba menulis yang diikutinya. Setelah konten selesai ditulis, para peserta lomba hanya harus menyetor jawabannya dengan klik tombol "Submit".

Ketika writing competition dilakukan di Selasar, para panitia dapat mendapatkan update rekap total tulisan/peserta lomba yang ada secara real time dengan hanya me-refresh URL pertanyaan yang telah dibuat sebelumnya.

E. Registration for branding purpose

G40yL4Ry1WcpNt-_XV_5D9h1NLmIYIZy.jpg

Di zaman yang modern seperti ini, orang-orang sudah dapat melakukan registrasi dalam acara offline/program dengan menggunakan platform digital. Hanya dengan satu URL pendaftaran, calon peserta dapat mendaftarkan namanya dengan menyertakan beberapa data yang diperlukan dan setelah klik submit, orang tersebut bisa langsung terdaftar dalam acara tersebut. Efisien, mudah, dan kekinian.

Namun, biasanya sang penyelenggara acara menginginkan efek brand/event exposure yang lebih luas ketika menyelenggarakan sebuah acara/program. Apakah platform registrasi online konvensional bisa memfasilitasi itu? Mungkin bisa. Tapi saya yakin, kebanyakan tidak bisa karena biasanya sebuah produk teknologi didesain dengan satu tujuan spesifik tertentu. Jadi mudahnya, jika objective-nya adalah pendaftaran secara online, fitur-fitur yang dibuat oleh developer juga adalah fitur-fitur yang menyokong objective tersebut.

Ini berbeda dengan Selasar. Selasar didesain dengan fitur Question-Answer dan memang dapat digunakan untuk mengingkatkan brand exposure/equity, maka secara praktis para user di Selasar yang memiliki acara dapat menggunakan Selasar sebagai tempat untuk melakukan pendaftaran acara mereka secara online.

Bagaimana caranya?

Penyelengara acara hanya harus membuat pertanyaan yang memiliki tone undangan, seperti: Mengapa Anda tertarik untuk mengikuti acara X ini? Elaborasi jawabannya. Pertanyaan di Selasar dapat pula dilengkapi dengan description. Description inilah yang menjadi guidance bagi calon peserta acara untuk dapat meningkatkan exposure acara ini dengan metode digital PR. Beberapa contoh description pertanyaan serupa adalah 1) Jawab pertanyaan tersebut minimal 100 kata dan 2) Sebarkan ke tiga orang teman Anda di social media yang ada dan capture buktinya.

Dengan menggunakan Selasar sebagai tempat pendaftaran digital, para penyelenggara acara dapat secara gratis dan effortless untuk meningkatkan exposure acara ini.

Simple dan menciptakan multiplier effect.

F. Digital Archive dan Personal Branding

QP2Kq6k3zOtT-LhheInJUGiw4aOkwNGI.jpg

Para ahli, profesional, ataupun akademisi seringkali memiliki banyak portofolio tulisan yang tersebar di banyak media, baik media tradisional (paper based), digital (website berita), ataupun social media. Semua konten tersebut tersebar dan memiliki format yang berbeda-beda. Pada akhirnya, jalan tengah untuk mengumpulkan semua portofolio karya yang tersebar dan hadir dalam format yang berbeda itu adalah dengan menyimpan data soft copy-nya dalam hard disk komputer di rumah. Ketika portofolio-portofolio itu tersimpan di komputer rumah, tidak ada value yang dapat diciptakan dari portofolio yang menumpuk (dan bisa jadi usang) tersebut.

Lalu, apa solusinya? Solusinya adalah menyimpan semuanya pada sebuah produk teknologi yang selain dapat menjadi digital archive. Teknologi ini juga dapat menjadi etalase digital bagi seluruh karya para content creators yang ada. Harapannya adalah ketika proses menyimpan sekaligus memamerkan karya yang (tadinya) terserak itu, dapat menciptakan opprotunities yang lebih besar di kemudian hari.

Apa produk teknologi tersebut? Selasar adalah jawabannya.

Di Selasar, para ahli, profesional, ataupun akademisi dapat mengumpulkan kembali tulisannya yang tersebar di medium apapun dan memamerkannya (kembali) di Selasar secara lebih kondusif, bebas noise, bebas hoax dan berkesesuaian dengan profil demografis para user selasar. Sebuah profile target market yang sedang serta terus tumbuh ini: SES (Social Econ Status) A/B, urban, dan educated

G. Mengumpulkan tugas (Awardee penerima beasiswa, kuliah, Ospek)

4lzIDP2YdscWUonA8JThy1m9QFqOi932.jpg

Kegiatan mengumpulkan tugas adalah kegiatan yang jamak dilakukan di berbagai macam institusi. Pada institusi pendidikan, tugas kuliah/sekolah adalah komponen tugas yang harus dikumpulkan. Ketika institusinya adalah lembaga pemberi beasiswa, tugas khusus yang di-assign kepada para awardee adalah komponen tugas yang harus dikumpulkan. Dan seterusnya.

Proses pengumpulan tugas yang dilakukan melalui metode tradisional (baik dengan kertas ataupun melalui email) tentu akan menyulitkan tidak hanya bagi orang yang mengerjakan tugas, ataupun sang pemeriksa. Apalagi jika tugas yang dikumpulkan banyak dan berseri. Hal ini akan semakin menyulitkan para pemeriksa untuk meng-audit kuantitas tugas terkumpul dan kualitas hasil pengerjaan tugas yang ada.

Dari sisi orang yang mengerjakan tugas, proses mengerjakan tugas sepertinya tidak lebih dari proses menggugurkan kewajiban yang bersifat mandatory dari pihak eksternal. Contoh, tugas kuliah dari seorang dosen kepada mahasiswanya. Mengapa mengerjakan tugas untuk banyak orang menjadi tidak valueable? Hal ini terjadi karena tugas yang dikerjakan (yang seharusnya valuable karena berisi pemikiran dari orang-orang yang memiliki kapasitas) sejatinya telah "habis umur dan masa manfaatnya" ketika tugas sudah selesai diperiksa. Setelah tugas diperiksa, hasil pengerjaan tugas (yang sebenarnya valueable itu) akan berakhir di hardisk para pemeriksa tugas, tempat sampah, bahkan abang gorengan (untuk bungkus gorengan). Sangat disayangkan.

Di selasar, proses pengumpulan dan pengerjaan tugas berjalan dengan sangat sederhana dan menyenangkan. Mengapa saya berani bilang sederhana karena memang prosesnya yang singkat. Katakanlah tugas yang kita bicarakan di sini adalah tugas kuliah, sang dosen hanya harus membuat pertanyaan di selasar dan membagi url pertanyaan tersebut ke para mahasiswanya. Setelah itu, para maahasiswa hanya harus meng-klik tombol answer dan menjawab pertanyaan yang dilempar oleh sang dosen secara crowd-source. Perlu juga diketahui bahwa satu pertanyaan yang ditanyakan di selasar dapat dijawab dengan banyak jawaban (multiple-answers).

Proses menjawab a la social media juga dapat dilakukan dengan teknologi ini. Para user yang menjawab di selasar dapat me-mention user lain ketika ada statement yang diutarakannya berkesesuaian dengan pendapat dari user yang dia mention ataupun ketika terdapat ketidaksetujuan. Selayaknya social media, user yang di-mention oleh seorang user, akan mendapatkan notifikasi dan terhubung dengan konten dimana namanya di-mentioned. 

Dengan proses interaksi digital a la social media seperti ini, selain terdapat proses interaksi yang menyenangkan, data/jawaban yang dibuat oleh sang user juga akan tersimpan secara abadi dan tidak perlu ada kekhawatiran jawaban kita akan berakhir di tempat sampah atau abang gorengan, seperti metode tradisional yang dilakukan sebelumnya. Dengan tersimpannya konten kita secara abadi di dalam server, maka baik pertanyaan atau jawaban (yang valueable tersebut) akan mudah untuk di layak dan ditampilkan kembali. Kapanpun dan dimanapun. 

Intinya, dengan mengumpulkan tugas di selasar. value atas jawaban pada tugas akan memiliki umur yang lebih lama, value yang lebih besar dan memudahkan.

H. Menulis testimony

zPnRPt145UY5EsIzKGfMt1qqZLuBmNr3.png

Di kolom search engine yang dimiliki oleh Selasar, Anda dapat mengetik kalimat, "Siapa Ma Isa Lombu..". Nanti seketika Anda akan diarahkan oleh mesin untuk meng-klik tautan yang menampilkan komentar/testimonials beberapa kolega saya tentang diri saya pribadi dari berbagai sudut pandang. Testimonials dapat dilihat di sini

Di dalam tautan tersebut, Anda dapat melihat, merasakan dan seperti mengenang kembali saat-saat mengesankan beberapa waktu lalu ketika Friendster masih ada. Saat-saat dimana kawan-kawan Anda dari banyak peer grup baik pendidikan, pekerjaan ataupun yang lain memberikan komentar personal tentang diri Anda (testimonials) yang menarik, lucu, dan tentunya mengesankan.

Para pengguna selasar (Selasares) sebagai salah satu bagian dari professional network environment akhirnya dapat men-tweak positioning testimonials dari testimonial pertemanan, menjadi produk testimonial yang lebih serius, matang dan berhubungan dengan professional needs ataupun branding (ataupun personal brandingobjectives.

I. Bertanya kepada para ahli/public figure

Selasar memiliki sebuah produk baru; Selasar Session, namanya. Melalui Selasar Session, publik dapat bertanya apapun kepada tokoh publik/selebritas/ahli terkait apapun yang mereka ingin ketahui dan akan dibuatkan videonya.

Coba simak video ajakan user untuk mengikuti program Selasar Session dengan bertanya langsung kepada Fahri Hamzah, Wakil Ketua MPR RI, berikut ini.

Setelah distimulasi oleh sebuah pengumuman (video), expert yang ingin ditanya juga bisa menyebarkan video ini ataupun konten pengumuman lainnya melalui social media yang mereka miliki (Facebook, Instagram ataupun Twitter). Biasanya, masing-masing social media yang dimiliki oleh para tokoh ini memiliki followers-nya masing-masing. Jumlah mereka juga banyak. 

Dalam hal ini, Selasar Session hadir sebagai solusi bagi para tokoh tersebut untuk melakukan engagement kepada para followers-nya dengan cara baru. Cara baru dengan bertanya dan menjawab atas topik-topik yang berkaitan dengan profil si tokoh ataupun kejadian-kejadian yang sedang hangat.

Yang harus dilakukan adalah bahwa user harus bertanya kepada si tokoh dengan beberapa panduan tertentu. Pertanyaan terpilih akan dijawab oleh si tokoh dan Selasar akan bantu untuk membuat videonya.

Hasilnya seperti ini.

Lengkapnya Anda dapat lihat di sini.

Demikianlah beberapa konsep kreatif yang dapat Anda gunakan di Selasar. Tentu konsep ini bisa terus berkembang sesuai dengan kebutuhan pasar dan perkembangan teknologi yang dilakukan di Selasar.

Selamat mencoba...!

459 Views
Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia