selasar-loader

Siapakah perempuan yang memberikan kamu banyak inspirasi? Mengapa?

LINE it!
Answered Apr 28, 2017

Burhannudin Alwi
Mahasiswa Hukum

B0LAKUC98ZxfhmFv5F09UZaG4bFdRQhG.jpg“Nuwun sewu, bu, nyuwun ngapunten. Kula badhe ijin mboten saget mlampah kaleh minggu.”

(Permisi, bu, mohon maaf. Saya ijin tidak berangkat dua pekan)

“Lha napa?”

(Kenapa)

“Lare kula badhe operasi minggu ngenjing.”

(Anak saya operasi minggu depan)

“Yo, rapopo”

(Ya, tidak apa)

“Kaleh setunggal malih, kula badhe ngampil artha kaleh tengah yuto, bu.”

(Satu lagi, saya mau pinjam uang satu setengah juta, bu)

Pergi mengambil sejumlah uang.

“Wis, iki gawa wae. Aku ra iso nyilehi. Iki ra ngasik karo tengah yuto, ming limang atus ewu. Shodaqoh nggo anakmu.”

(Sudah, ini bawa saja. Saya tidak bisa meminjami uang. Ini tidak sampai satu setengah juta, hanya lima ratus ribu. Sedekah untuk anakmu)

“Matur nuwun, bu”

(Terima kasih, bu)

 

Percakapan di atas pernah diceritakan ibu kepada saya di suatu sore selepas pulang dari rumah adik perempuannya. Ibu merupakan anak ke-enam dari sebelas bersaudara. Tujuh laki-laki dan empat perempuan. Ibu mempunyai seorang kakak perempuan dan dua adik perempuan.

Sore itu, ibu baru saja pulang dari rumah adik perempuannya yang pertama. Ibu sering berkunjung ke rumah bulik saya tersebut. Tidak menentu harinya. Kadang saat diminta untuk berkunjung oleh bulik. Di lain hari, keinginan ibu sendiri untuk berkunjung.

Di rumah adik ibu inilah nenek saya menetap. Ibu dari ibu saya. Bukan rumah nenek, melainkan rumah bulik. Berjarak lima kilometer dari rumah bulik, rumah nenek saya berada. Sedangkan rumah saya berada di belakang rumah nenek.

Sudah tujuh tahun lebih kira-kira setelah mengalami kelumpuhan setengah badan pada bagian kiri tubuhnya nenek saya tinggal di rumah bulik. Akibat kelumpuhan yang diderita, nenek tidak lagi mampu berdiri. Sehari-hari untuk berpindah tempat mesti ada yang membantunya untuk duduk di kursi roda.

Pada waktu itu alasan nenek tinggal di rumah bulik adalah tidak mau merepotkan ibu dan bapak saya yang masih mengurus saya dan ketiga adik saya yang masih kecil. Alasan lainnya, rumah bulik saya bertetangga dengan rumah kakak perempuan ibu dan rumah anak nenek yang pertama. Ada tiga anak yang bisa bergantian merawat nenek.

Di atas adalah sedikit latar belakang keluarga perempuan yang ada dalam percakapn di awal.

Immawati Sukartinah nama perempuan itu. Oleh keponakannya biasa dipanggil Bulik Iim. Bu Iim panggilan asisten rumah tangganya. Bulik memiliki dua asisten rumah tangga yang sehari-hari membantunya. Membantu. Bukan mengerjakan semua pekerjaan rumah. Bagi bulik, asisten rumah tanggan hanya dibutuhkan untuk pekerjaan yang bulik tidak mampu atau tidak memiliki banyak waktu untuk mengerjakannya. Mbak Atun dan Mbak Har. Mbak Atun bertugas membersihkan rumah setiap pagi dan membantu merawat nenek hingga tengah hari. Mbak Atun baru berpamitan pulang setelah Mbak Har datang dari momong Farid, anak terkecil bulik yang saat ini TK besar. Sementara Mbak Har pulang selang bulik tiba di rumah selepas bekerja di kantor.

Bulik memiliki tiga anak. Semuanya laki-laki. Setelah suaminya wafat tahun 2011, bulik adalah seorang single parent. Saat ditinggal suaminya, anak-anaknya masih sangat kecil. Anak pertama dan kedua baru menginjak pendidikan dasar. Si bungsu baru berusia enam bulan.

Membesarkan ketiga anaknya dan merawat nenek tanpa peran suami adalah jalan yang dipilihnya. Terbilang tangguh. Bulik memerankan figur ayah bagi ketiga anaknya, di samping sebagai anak yang berbakti kepada ibunya, dan tentu saja sebagai seorang ibu. Berperan sebagai ayah bagi anak-anaknya adalah memberi teladan juga memberi nasehat. Misal dalam salat, tidak bisa ditoleransi. Anak pertama dan kedua jarang absen salat di masjid awal waktu saat bulik di rumah. Sementara si bungsu sedang belajar salat di masjid. Peran sebagai ibu tentunya memberi kasih sayang rohani dan ragawi yang tidak pernah luput.

Lakon yang terhitung berat untuk dihadapinya tersebut, tidak menghalanginya untuk tetap berbuat kebajikan. Tentu saja bagi saya menginspirasi.

Percakapan di awal adalah salah satu buktinya. Bulik tidak mau membebankan utang pada orang yang meminjam. Dan bulik selalu menolak orang yang berutang. Malah bulik membantu dengan tanpa syarat.

Contoh lain. Kali ini saya yang menikmati kebaikannya. Semasa saya SMA, biaya sekolah ditanggung oleh bulik. Bahkan setelah suaminya wafat, bulik tetap membiayai SPP bulanan saya sampai lulus sekolah. Selepas lulus SMA, selama saya kuliah hingga saat ini-masih kuliah-motor yang biasa dipakai suaminya, dipinjamkan kepada saya. Tidak ada syarat apa-apa. Tidak ada kewajiban yang dimintakan kepada saya untuk berbuat sesuatu di masa mendatang. Semuanya diniatkan berbuat kebajikan. Dan salah satunya sebagai amal jariyah untuk suaminya.

#SayembaraSelasar

401 Views
Write your answer View all answers to this question