selasar-loader

Sampai sejauh mana pengembangan teknologi di Selasar yang mungkin dilakukan?

LINE it!
Answered Oct 06, 2017

Ma Isa Lombu
Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar

 YSPOeep_eEJWvkPbgrOk8b3fdyb9jP3Q.jpg

Selasar akan mengawinkan big data dengan artificial intelligence.

Selasar hadir di dunia ini memang untuk sebuah tujuan mulia, yakni untuk mengeluarkan isi otak kepala manusia secara masif agar terjadi pemerataan knowledge ke seluruh Indonesia. 

Selasar sejatinya tidak hanya hadir sebagai platform untuk sharing knowledge (berbagi pengetahuan), tetapi juga berbagi informasi yang bahkan tidak diakomodasi oleh Google sekalipun. Informasi yang lebih dalam (insight) dan yang berada dalam kompartemen otak yang terluar (experience) dengan cara kekinian. Caranya generasi baru untuk berkomunikasi di dunia maya. Social media.

Dalam perjalanannya, akhirnya kami sadar bahwa ada sesuatu yang lebih menciptakan multiplier effect dalam aktivitas membagi pengetahuan (sharing knowledge) yang kami lakukan, apa itu? Selasar membantu para user-nya untuk melakukan personal branding. Apa maksudnya? 

Pendeknya, kami yakin bahwa terdapat korelasi positif antara personal branding yang baik dengan terciptanya opportunity untuk orang yang melakukannya. Contoh konkretnya adalah apabila ada orang yang dikenal sebagai fotografer yang memiliki kredibilitas baik oleh lingkungan sekitarnya, maka cepat atau lambat, orang tersebut akan dihubungi oleh orang lain yang mengetahui keberadaannya untuk mengerjakan sebuah project fotografi.

Pertanyaannya adalah, di era teknologi seperti sekarang ini, bagaimana caranya agar personal brading seseorang bisa tampil di hadapan digital crowd. Caranya adalah dengan show off terkait dengan kapasitas profesional yang dimilikinya. 

Konsisten dengan contoh sebelumnya, apabila seorang fotografer ingin membangun personal branding-nya maka yang harus ia lakukan hanyalah dengan meng-upload hasil jepretan terbaiknya pada suatu platform media sosial agar khalayak luas dapat mengetahui karya dan portofolio-nya hingga pada akhirnya si fotografer tersebut memiliki brand equity yang baik sebagai seorang fotografer yang kredibel.

Nah, peran Selasar sebenarnya sesederhana menyediakan sebuah digital stage untuk para orang-orang yang sudah maupun yang belum memiliki brand equity yang baik untuk dapat membangun dan mengembangkannya melalui cara yang kekinian, bermedia sosial.

6TnhQRfA6vaV18H-0Kesqt7rEIHUwPOI.jpg

Dengan positioning seperti itu, diharapkan para user Selasar dapat secara aktif membagi pengetahuan, pengalaman, dan wawasannya kepada orang lain secara aktif dan meng-update seluruh portofolio profesionalnya yang lain seperti riwayat pekerjaan, latar belakang pendidikan, kemampuan teknis, sertifikasi yang diperoleh dan hal-hal lain yang berkaitan dengan aktivitas profesional yang ia miliki. 

Untuk membuat interaksi di Selasar semakin menarik dan membuat ketagihan jutaan users-nya, Selasar menciptakan beberapa gimmick digital tertentu sesuai dengan hook model yang sudah valid dilakukan oleh produk teknologi lain. Lengkapnya tentang hook model dapat dilihat di sini.

Beberapa produk Selasar yang lain seperti digital session dan course juga akan menjadi portofolio profesional yang dapat digunakan oleh para user untuk memantapkan positioning profesionalnya di industri. Fitur ini akan memungkinkan para user mengadakan kelas digital yang dapat dinikmati oleh ratusan ribu, bahkan jutaan users Selasar yang lain dalam format video/audio dengan metode experential learning

u1tikDFu3M8asQ28YnzymZG0SHBGs91T.jpg

Menariknya, session dan course ini adalah kelas digital berbayar sehingga para user yang mengajar dalam kelas session ataupun course akan mendapatkan bayaran secara langsung dari para user yang melihat program tersebut. Mudahnya seperti Bukalapak atau Tokopedia, tetapi bukan handphone atau sepeda yang dijual, melainkan expertise dalam bentuk kelas training dan kursus digital.

Bagi para user yang menjadi peserta session ataupun course, selain mereka akan mendapatkan knowledge yang tidak ada subtitusinya di source digital lain, para peserta juga akan mendapatkan sertifikat, modul training, bahkan sesi konsultasi langsung dengan pakar di bidangnya masing-masing. Contoh, Darwis Triadi mengadakan course fotografi di Selasar dengan sejumlah biaya tertentu selama 4 kali pertemuan (digital). Di akhir course, para peserta akan mendapatkan sertifikat dari Darwis Triadi School of Photography. Kurang lebih seperti itu gambarannya.

Tidak hanya itu, Selasar juga menyediakan sebuah fitur yang memungkinkan seluruh usernya melakukan kegiatan (digital) professional networking

Pada fitur Selasar network yang ada di Selasar, para user dapat berinteraksi dengan sesama kolega pada peer group profesionalnya masing-masing. Misal, ribuan orang pecinta fotografi, para fotografer, juga kurator foto berkumpul dalam sebuah grup profesional "fotografi". Di sana, para user dapat berbagi pengetahuan, sharing karya, saling menanggapi komentar dan hal-hal konstruktif lainnya terkait dengan bidang pekerjaan yang dilakukan.

vlXCRjSvDyHS9fZVIiWE27qyubqoDnlv.jpg

Tidak hanya itu, secara berkala Selasar juga akan melempar ke para users-nya berbagai macam tes psikologi yang dapat diisi untuk memudahkan users mengetahui personality traits dirinya masing-masing. 

Dengan berbagai fitur yang saya sebutkan di atas, diharapkan para users dapat melakukan proses showing off kemampuan dan kepakaran dirinya secara lebih aktif dan menyenangkan, serta dapat terhubung dengan jutaan profesional lainnya dalam satu platform media sosial. Selasar: knowledge sharing platform for personal branding.

Keseruan tidak selesai sampai di sana. Justru di sini menariknya. 

8ThNyZX8BCAXl_X_PcbpRs9KviczOwgD.jpg

Dengan menggunakan teknologi Quantum Computing, miliaran bahkan triliunan data users tersebut, baik yang berupa data angka, teks, gambar, video, suara, behavior, habit dan bahkan interaksinya di social media lain yang terhubung dengan sistem di Selasar akan diolah oleh mesin cerdas yang dapat berpikir sendiri (artificial intelligence).

Dikarenakan artificial intelligence (AI) adalah teknologi yang dapat berpikir dan belajar dengan sendirinya, maka berbagai macam request dari admin ataupun user dari berbagai varian request ataupun pertanyaan akan dapat direspon dengan kualitas yang baik oleh AI tersebut.

Contoh: Di Selasar akan terdapat banyak sekali data yang berhubungan dengan topik fotografi, mulai dari teks, gambar, video, suara, bahkan angka sekalipun. User dapat bertanya kepada Selasar dengan menggunakan suara, "Bagaimana cara menjadi seorang fotografer yang handal?"

Maka seketika dari laptop si user, akan muncul sebuah tampilan visual 3D yang dapat bersuara. Suara tersebut, dengan bantuan tampilan visual 3D, akan menjelaskan secara rinci dengan menggunakan big data yang ada di Selasar berkaitan dengan pertanyaan yang di-request oleh user tadi. Mirip seperti teknologi Jarvis pada film Iron Man.

X_P34xuzkhLObhYTZ9o-NNmv9SpwRn9S.jpg

Big data yang dikawinkan dengan artificial intelligence ini juga bisa membantu perusahaan untuk mencari talenta-talenta terbaik dalam jangka waktu yang relatif singkat, bahkan dalam hitungan detik. 

Dalam metode pencarian talent yang tradisional, pertama-tama perusahaan akan mengeluarkan pengumuman terkait proses recruitment yang sedang dilakukannya. Setelah itu, datanglah CV-CV dari para pelamar untuk mendaftar di perusahaan tersebut. Untuk mendapatkan talenta yang cocok, maka perusahaan harus melakukan serangkaian tes, wawancara, FGD dan hal-hal lain untuk menvalidasi "klaim CV" yang dilakukan oleh para pelamar. 

Mengapa saya bilang klaim CV? Karena CV adalah tools buatan manusia yang sangat mudah dibuat.

Karena kemudahan tersebut, maka hanya si pembuat CV (dan Tuhan lah) yang tahu terkait dengan kebenaran isi CV tersebut. Maka tidak heran, perusahaan dengan metode tradisional akan melakukan validasi atas "klaim CV" yang ada untuk mendapatkan talent/expert yang sesuai dengan kebutuhan.

Nah, ketika saat itu datang, cara tradisional tersebut sudah tidak perlu dilakukan lagi. 

Para user hanya harus bertanya ataupun meminta mesin untuk menyediakan daftar nama user Selasar dengan spesifikasi yang diinginkan. Misalnya, "Saya minta list user Selasar dengan kemampuan dan pengalaman bla...bla...bla... yang memiliki value bla...bla...bla...dengan latar belakang pendidikan dan pemikiran bla...bla...bla...yang memiliki sifat dan personality trait bla...bla...bla...". 

Tidak lama setelah permintaan itu disampaikan, seketika itu juga akan muncul suara yang disertai tampilan visual 3D, layaknya Jarvis sedang bicara kepada Tony Stark. 

Jarvis a la Selasar kemudian secara terperinci akan memberikan rekomendasi nama-nama talents/experts yang diinginkan dan menekankan di beberapa nama tertentu yang memiliki tingkat kecocokan yang paling tinggi dibandingkan kandidat lainnya yang direkomendasikan. 

Dengan perkawinan antara big data dengan artificial intelligence, maka user/perusahaan/orang HR pada perusahaan tidak lagi perlu melakukan "validasi CV" yang memakan waktu dan jelas menciptakan proses berbiaya tinggi. Ketika proses recruitment dapat dilakukan dengan cepat, bukan hanya perusahaan yang akan cepat mendapatkan talent yang diinginkan; lebih dari itu, rasio terserapnya tenaga kerja di pasar tenaga kerja juga bisa terjadi secara lebih efisien dan akurat. 

Karena akurasi inilah maka performa perusahaan akan meningkat secara lebih cepat dan secara makro, GDP sebuah negara akan bertumbuh lebih baik dari tren yang ada. Hal tersebut dapat terjadi karena proses value creation lewat tenaga kerja profesional berjalan secara efektif.

Luar biasa, bukan?

433 Views
asik ngulik

Thanks mas! tapi kalau bisa, UX typography-nya diupdate lagi mas, biar enakan klo ngetik panjang. Cheers :)  Oct 25, 2017

Ma Isa Lombu

Siap  Oct 25, 2017

ihkam aufar

great! semoga yang terbaik untuk selasar!  Oct 23, 2017

Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia