selasar-loader

Hal apa sajakah yang menentukan perkembangan karir seorang pekerja profesional?

LINE it!
Answered Oct 05, 2017

Ma Isa Lombu
Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar

4xHBw-3l20o2OJKmGz9tbbVA51URWI2h.jpg

P​ertanyaan yang cukup menarik dan harusnya menjadi kepentingan setiap profesional yang sedang meniti karier, baik di sektor privat ataupun publik. 

1. Internal Trigger (Motivation)

Konstruksi berpikir yang ingin saya jelaskan dalam jawaban ini adalah bahwa saya meyakini terdapat korelasi positif antara perkembangan (lancar atau tidaknya) karier seseorang dengan performa kerja orang tersebut. Artinya, semakin baik performa seseorang dalam perusahaan, semakin baik pula perkembangan karier orang tersebut.

Untuk itulah, seseorang perlu mengetahui hal apa yang paling menentukan performa seseorang dalam melakukan aktivitas profesionalnya.

Tentu banyak sekali versi jawaban untuk pertanyaan ini. Meski demikian, saya coba menjawab pertanyaan ini dengan satu variabel utama (yang menurut saya) dapat menentukan perkembangan karier seseorang pada sebuah instansi.

Hal tersebut adalah:

Pekerjaan yang mereka lakukan sesuai dengan needs dan incentives yang diharapkannya

(lagi-lagi) Saya meyakini bahwa people respond by incentives (and disincentives) seperti yang dikatakan oleh Paul Krugman, seorang economist dan peraih nobel ternama dari Amerika. Incentives dan disincentives tidak harus tangible dan material. Keduanya (incentives dan disincentives) juga bisa bahkan sangat bisa bersifat immaterial dan intangible

Incentives (yang bisa juga diistilahkan dengan needs) seorang manusia sebenarnya sudah lama didefinisikan oleh Abraham Maslow, seorang psychologist ternama dunia. 

Dalam salah satu teorinya yang paling berpengaruh, Maslow mengatakan bahwa tingkatan needs (kebutuhan) manusia itu berbeda-beda, tergantung berada di mana stage kehidupan social economic status (SES)-nya. Teori itu dikenal dengan nama Maslow's Hierarchy of Needs. Kebutuhan yang berbeda dimulai dari pemenuhan kebutuhan fisiologis (makan, istirahat, minum, tempat tinggal, dll) sampai kepada kebutuhan untuk beraktualisasi diri (melakukan sesuatu berdasarkan passion atau kapasitas uniknya).

lDMm7gw3zL_vr4rhUbKIWZilbX8l0wNs.jpg

Implementasi atas teori yang sudah berhasil dibuktikan tersebut sebenarnya cukup mudah; seseorang akan mengeluarkan potensi terbaiknya apabila kebutuhannya tercukupi. Kebutuhan yang sesuai dengan level/tingkatan profesionalitas yang mereka miliki. Itu saja. 

Kita semua tahu bahwa apabila potensi terbaik seseorang berhasil dikeluarkan, maka hal tersebut akan berdampak kepada result yang dihasilkan. End result ini pada akhirnya akan memiliki korelasi positif dengan prestasi yang akan didapat. Dalam dunia kerja, terminologi perestasi itu adalah kecemerlangan dalam karier.

Mudahnya, ketika kebutuhan seorang profesional terpenuhi, maka semakin besar pula potensi orang tersebut akan dikeluarkan. Hal tersebut memiliki implikasi atas kualitas hasil pekerjaan yang dilakukannya.

Sebaliknya, apabila kebutuhan orang tersebut tidak terpenuhi, maka hasil yang terlihat adalah sang profesional tidak mempersembahkan hasil karya/kerja terbaiknya, mengalami demotivasi, serta merasakan over pressured karena merasa hanya dijadikan "sapi perah" oleh perusahaan.

Masalahnya adalah, leveling setiap orang itu berbeda-beda. Perlakuan yang sama untuk setiap orang jelas membuat "kebutuhan unik" orang per orang tidak dapat terpenuhi.

Saya akan berikan sedikit contoh terkait Maslow's Hierarchy of Needs yang telah diungkapkan sebelumnya. 

Bagi seorang karyawan (white collar) level pemula ataupun para pekerja blue collar (OB, supir, buruh pabrik, dll), motivasi (needs) utama yang mereka adalah pemenuhan atas kebutuhan fisiologis. Kebutuhan tersebut dapat difasilitasi dengan tersedianya gaji/upah yang dapat memenuhi kebutuhan dasar tersebut. Mudahnya, apabila orang-orang pada level ini diperlakukan layaknya orang-orang dengan level yang lebih tinggi (misal mereka diperlakukan dengan beban pekerjaan yang menantang dengan asumsi perkerjaan yang berat tersebut akan membuat mereka dapat melakukan aktualisasi diri), maka alih-alih membuat mereka semangat, treatment tersebut justru akan membuat mereka tidak termotivasi, bahkan tertekan.

Begitu juga sebaliknya, apabila seorang professional dengan level yang cukup tinggi diberikan insentif hanya berupa gaji (yang dapat memenuhi kebutuhan fisiologis mereka), tanpa tercukupi kebutuhan lainnya (yang sebenarnya lebih mereka butuhkan) seperti status yang prestisius ataupun kesempatan untuk beraktualisasi diri, saya yakin potensi si sang profesional level tinggi tersebut tidak akan keluar secara optimal. Dampaknya adalah result yang biasa-biasa saja, yang tentunya hal ini akan berdampak pada hasil pekerjaan yang dilakukannya.

2. Attitude

Manusia tercipta sebagai makhluk sosial. Jika diartikan secara lebih luas, manusia pada dasarnya tidak bisa hidup tanpa (bantuan) orang lain di sekitarnya, termasuk dalam mengerjakan sesuatu.

Tidak ada profesi di dunia ini yang dapat dilakukan sendirian. Pun jika pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang terlihat dapat dilakukan seorang diri (penyanyi, motivator, dll), seseorang tetap membutuhkan bantuan orang lain untuk mendukung pekerjaannya agar dapat berjalan dengan baik. 

Contoh, meski seorang penyanyi hanya melakukan performance sendirian di atas panggung, ia tetap membutuhkan banyak orang lain untuk dapat membuat performance yang dilakukannya berjalan optimal. Jelas ia membutuhkan seorang manajer untuk mengatur jadwal konser dan menyiapkan kebutuhannya. Ia juga membutuhkan kawan-kawan media untuk meliput aktivitas-nya. Ia bahkan membutuhkan kru teknis dalam jumlah yang tidak sedikit untuk mendukung performance-nya di panggung.

Yang ingin saya katakan dalam kesempatan ini adalah bahwa dalam melakukan pekerjaan apapun, kita butuh orang lain. Pendeknya, menjadi ebuah keniscayaan bahwa tidak ada seorang single fighter dalam dunia profesional. Semua dikerjakan bersama. Team work.

Untuk itulah maka sikap (attitude) yang baik menjadi penting dan krusial untuk dilakukan oleh setiap orang dalam melakukan kerja tim. 

Menariknya, seseorang butuh "investasi" waktu, tenaga dan pengalaman yang jauh lebih lama dan "mahal" untuk menjadi seseorang yang memiliki sikap baik. Kontras dengan hal tersebut, secara relatif (sebenarnya) manusia tidak membutuhan Investasi yang cukup besar dan waktu yang panjang untuk menguasai suatu hard skill tertentu. Hanya dengan program pelatihan khusus yang didesain dalam hitungan minggu atau bulan, seorang profesional dapat dilatih untuk melakukan sebuah pekerjaan teknis tertentu. 

Karena perbedaan "cost" dan besaran "investasi" itulah maka seseorang yang memiliki sikap baik akan jauh lebih valuable dibandingkan dengan orang yang memiliki skill yang baik sekalipun. Idealnya, seseorang tentu harus memiliki keduanya, baik attitude ataupun skills. Namun jika hanya ada salah satunya saja dalam diri seseorang, maka orang dengan attitude yang baik lah yang lebih compatible dan valuable untuk dapat melakukan pekerjaan tim. Kekurangannya dalam kemampuan secara mudah dapat kita perbaiki dengan sebuah program pelatihan khusus. Itu jauh lebih cepat dan tidak mahal dibandingkan dengan effort yang harus kita keluarkan untuk mengubah attitude seseorang yang bisa jadi sudah mendarah daging.

Salah satu sikap baik (great attitude) yang penting untuk dilakukan adalah dengan berusaha menciptakan lingkungan atau membuat rekan kerja merasa nyaman serta merasakan manfaat atas kehadiran kita bersamanya ketika malakukan pekerjaan, baik dalam perkataan, perbuatan, bahkan untuk hal-hal yang sepertinya abstrak sekalipun seperti menunjukan simpati dan empati.

Entah sudah diteliti atau belum, namun saya meyakini bahwa terdapat korelasi positif antara sikap (attitude) dengan perkembangan karier seseorang. 

Mudahnya, semakin baik attitude yang dimiliki seseorang, maka semakin baiklah perkembangan karier yang dimilikinya.

374 Views
Zulfian Prasetyo

Jawaban yang menarik. Izin share, ya.  Oct 9, 2017

Ma Isa Lombu

Siap  Oct 9, 2017

Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia