selasar-loader

Bagaimana cara membuat perusahaan bertumbuh (growth)?

LINE it!
Answered Oct 02, 2017

Ma Isa Lombu
Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar

fB2MUnei2qT4Q3ANJFZJRCzYf5YpMMmy.png

Ada banyak cara untuk membuat perusahaan mengalami pertumbuhan (growth), namun dalam kesempatan ini, saya akan coba jabarkan cara bertumbuh melalui pendekatan finansial. 

Perlu diketahui dahulu bahwa revenue yang didapatkan oleh sebuah perusahaan dilakukan dengan cara memonetisasi aset yang dimiliki. Monetisasi didefinisikan sebagai sebuah usaha untuk menghasilkan sejumlah pendapatan finansial tertentu dengan memanfaatkan aset yang dimiliki. Sedangkan aset adalah resources (baik yang tangible atau yang intangible) yang memilki nilai (value) yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Aset inilah yang harus dioptimalkan untuk menghasilkan pendapatan bagi perusahaan dan atau menciptakan pertumbuhan (growth) pada perusahaan. 

Mudahnya adalah terdapat korelasi positif antara kepemilikan aset dengan pertumbuhan perusahaan. 

Jadi, ketika pertanyaannya adalah "Bagaimana cara membuat perusahaan bertumbuh (growth)?” Mungkin saya akan jawab dengan jawaban yang mudah: 1) Miliki aset dan 2) kelola dengan baik aset yang dimiliki untuk menciptakan revenue.

Nah, pertanyaannya selanjutnya adalah, bagaimana cara memiliki aset?

Pada teori akuntansi dasar, source of assets ada dua: hutang (liability) dan modal (owners equity). Jadi, menambah aset dapat dilakukan dengan cara baik menambah hutang atau menambah modal. Itu saja. 

Untuk itulah maka saya akan coba jabarkan bagaimana cara menambah aset dengan mengelaborasi dua cara dasar yang saya sebutkan sebelumnya. Cara-cara ini adalah beberapa cara yang biasa dilakukan oleh perusahaan untuk dapat menambah aset, di antaranya adalah sebagai berikut.

a. Meminjam di bank

Menggunakan sejumlah jaminan tertentu dan pengenaan bunga bank, perusahaan dapat mendapatkan uang segar dari bank.

 

b. Menggunakan laba ditahan (retained earning)

Berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), perusahaan dapat mengalokasikan net profit (laba bersih) yang dimiliki untuk diputar kembali untuk membeli aset.

 

c.  Rise fund dari venture capital (VC)

Dengan “ditukar” sejumlah bagian saham (equity sharing), venture capital (lembaga intermediary pengumpul dana dengan tujuan investasi) akan mengucurkan sejumlah dana segar untuk perusahaan Anda.

 

d. Melakukan Initial Public Offering (IPO)

Hal ini dilakukan dengan cara menjual sebagaian saham yang dimiliki di primary market ke banyak orang. Semakin banyak orang yang berpartisipasi untuk membeli saham, semakin besar pula dana yang dapat dihimpun perusahaan.

 

e. Menerbitkan surat utang (obligasi)

Obligasi adalah suatu istilah yang digunakan dalam dunia keuangan yang merupakan suatu pernyataan utang dari penerbit obligasi kepada pemegang obligasi beserta janji untuk membayar kembali pokok utang beserta kupon bunganya kelak pada saat tanggal jatuh tempo pembayaran.

Namun demikian, perlu dicatat bahwa tidak semua cara di atas dapat ditempuh oleh perusahaan untuk mendambah asetnya. Contoh, sebuah startup digital company tidak disarankan untuk meminjam uang di bank karena menjalankan digital company memiliki risiko yang besar dibandingkan menjalnkan bisnis konvensional dan tradisional. Jika meminjam uang di bank, baik untung ataupun rugi, hutang harus dikembalikan. Masalahnya adalah 9/10 digital startup gagal di dua tahun pertamanya. Meminjam di bank untuk growth dinilai terlalu berisiko.

Selain itu, digital company (dalam kondisi merintis/startup) tidak bankable. Hal ini ditandai dengan ketiadaan jaminan ataupun aset yang dimiliki dan mumpuni untuk meminjam uang kepada bank. Selain itu, kondisi cash flow yang tidak sesuai dengan kriteria bank adalah salah satu hambatan terpenting dari alasan mengapa cara ini hampir tidak pernah digunakan untuk menciptakan growth pada perusahan. 

SgrccAf9FqlkM4INLjK2M7W57982FMHx.png

Untuk itulah, hal yang bisa dilakukan oleh startup company adalah dengan rising fund melalui venture capital dengan skema equity sharing. Venture capital adalah institusi keuangan yang dianggap paling risk taker untuk membiayai sebuah startup digital yang berisiko tinggi.

Demikian kondisi untuk digital startup, meskipun lain pula instrumen yang dapat digunakan oleh perusahaan dengan jenis yang lain dalam fase yang lain.

Selamat mencoba.

420 Views
Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia