selasar-loader

Adakah penjelasan mengapa teror di negara barat lebih banyak diekspose media daripada teror di negara-negara Afrika dan Asia?

LINE it!
Answered Sep 23, 2017

Agaton Kenshanahan
Penstudi Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran

DARI sudut pandang ilmu jurnalistik, istilah yang dapat menjelaskan fenomena ini adalah prominence (ketermukaan; keterkenalan; menonjol). Prominence adalah salah satu nilai dalam berita (news value), suatu yang memiliki nilai untuk diwartakan atau dibaca.

Ibaratnya begini. Ada seseorang di pinggir jalan yang dikejar dan digigit anjing, itu hal yang biasa. Namun kalau yang dikejar dan digigit itu adalah Presiden Barrack Obama, maka kejadian tersebut pasti akan menggugah perhatian banyak orang karena faktor keterkenalan Obama sebagai presiden. Kejadian tersebut sangat layak untuk diekspose.

Begitu juga dengan kejadian teror. Ketika terjadi teror di Paris (13/11/2015), misalnya, banyak orang di media sosial langsung ramai menggunakan tagar #PrayforParis dan foto profil yang merepresentasikan simpati terhadap kejadian teror tersebut.

Padahal, beberapa hari setelahnya (18/11/2015) Boko Haram mengebom sebuah pasar di Nigeria. Beberapa hari setelahnya lagi (20/11/2015), terjadi serangan di sebuah hotel di Bamako, Ibukota Mali. Sehari setelah itu (21/11/2015), ada bom bunuh diri di sebuah desa bernama Nigue, di Kota Fotokol, Kamerun. Dan masih banyak kejadian teror lain yang kurang terekspos di sekitaran kejadian teror Paris.

Di kejadian-kejadian teror setelah Paris, tidak ada yang menggunakan tagar-tagar #Prayfor.... seperti Paris. Yang ada, berita tentang teror setelah Paris malah tenggelam di balik jeritan warga Paris.

Nah, faktor prominence ini sangat mempengaruhi bagaimana suatu kejadian bisa lebih banyak terekspos ketimbang dengan negara lain.

Ini disebabkan orang-orang pasti tahu Paris itu ada di Perancis, dan Perancis ada di Eropa. Paris sangat terkenal dan menonjol di benak kita masing-masing. Bayangkan, apakah setiap orang tahu ada negara bernama Mali atau Tuvalu? Di benua manakah letaknya?

Mengapa Prominence?

Mengapa kejadian di suatu tempat di dunia ini lebih prominence di banding yang lain? Saya akan membawa jawaban dari pendekatan studi komunikasi internasional.

Begini, struktur komunikasi media global saat ini telah dimonopoli (atau setidaknya didominasi oleh) negara-negara maju. Kita kelompokkan negara-negara maju ini sebagai negara-negara Utara dan selain itu adalah negara-negara Selatan.

qQ89AOjwzfZtwK1gZJRNUsHEQdnqpjnR.png

Negara-negara maju ini memiliki power untuk mendikte narasi (wacana) melalui berita-berita yang dihasilkan. Bila narasi global ingin digegapgempitakan dengan berita teror, maka tinggal buat saja berita tentang itu sebaik mungkin dan sebanyak mungkin. Ini karena negara-negara maju memiliki instrumen, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Secara kualitatif, berita yang dihasilkan dari negara-negara maju lebih banyak didengar, dibaca, dan dikonsumsi. Sedangkan secara kuantitatif, mereka memiliki banyak kantor berita (baik negeri atau swasta) terkenal yang sudah berpuluh-puluh tahun memproduksi berita. Contohnya pada kantor-kantor berita berikut: Associated Press (AP; Amerika Serikat), Agence France-Presse (AFP; Perancis), Reuters (Inggris), CNN (AS), dan BBC (Inggris).

Media-media di Indonesia pun tak luput didikte oleh kantor-kantor berita di atas. Anda mungkin suka membaca koran dan membuka rubrik internasional. Pada koran-koran Indonesia, untuk berita internasional, Anda pasti sering menemui kredit-kredit berita yang menampilkan nama-nama singkatan kantor berita di atas. Tak dimungkiri, karena pada dasarnya media di Indonesia hanya menjadi tangan kedua dalam menyampaikan berita, alias menyadur dari berita-berita yang sudah ada.

Jadi, tak heran sebenarnya, bila struktur komunikasi media global dan alur berita keadaannya demikian (seperti gambar di atas), suatu tempat (atau suatu isu) akan menjadi lebih prominence dibanding yang lainnya.

***

Gambar:  Alleyne, M. D. (1995). International Power and International Communication. London: Macmillan Press Ltd, hal: 70.

 

381 Views
Write your answer View all answers to this question