selasar-loader

Apa motivasi dan langkah konkretmu mengabdi untuk pendidikan?

LINE it!
Answered Sep 19, 2017

Untuk menyelesaikan pendaftaran Gerakan UI Mengajar 7, yuk jawab pertanyaan di bawah ini! Panjang jawaban maksimal 100 kata untuk tiap pertanyaan. Buat jawabanmu semenarik mungkin, ya! :)

  1. Apa motivasimu mendaftar menjadi pengajar GUIM angkatan 7?
  2. Menurutmu, apa langkah konkret yang bisa dilakukan oleh mahasiswa untuk pendidikan di Indonesia
Share jawaban kamu di Line dengan hastag #DaftarPengajarYuk #GUIM7
 
Selain share lewat Line, kamu juga bisa share melalui media sosial lainnya. 
 
 
Syarat dan Ketentuan
  1. Mahasiswa Aktif Universitas Indonesia jenjang S1 dan D3
  2. Di akhir jawaban, wajib menyertakan nama, NPM, dan fakultas dengan format: Nama Lengkap_NPM_Fakultas Contoh: Rizqika_1506492184_Kedokteran
  3. Deadline: 21 September 2017
 
Terima kasih
 
Panitia Gerakan UI Mengajar angkatan 7


Radhiyan Pribadi
Mawapres Utama FISIP Universitas Indonesia 2017-Rumah Kepemimpinan R1 Jakarta

1. Sewaktu SMA dahulu, saya bukanlah seorang pelajar IPA yang baik. Nilai Fisika saya jauh dibawah rata-rata. Akan tetapi, sewaktu saya masih kelas , saya selalu menunggu-nunggu pelajaran Kimia. Bukan karena saya benar-benar ketagihan pelajaran kimia dan tergila-gila dalam menghafalkan seluruh tabel periodik. Akan tetapi karena saya selalu bersemangat dalam bertemu guru kimia saya yang luar biasa. Namanya Bu Nurul. 

Bu Nurul selalu mengajar dengan api semangat di matanya. Tidak pernah sekalipun Bu Nurul bosan dalam mengajar kami atau mengajar dengan lesu. Bu Nurul juga bukan sekedar guru yang mengajarkan rumus-rumus kimia, tapi Bu Nurul juga membakar jiwa kami dengan rumus-rumus kehidupan. Saya ingat sekali suatu hari Bu Nurul masuk kelas dan menceritakan bagaimana salah seorang muridnya berhasil lolos seleksi super ketat program pertukaran pelajar AFS ke Swiss. Ia bercerita bagaimana muridnya itu belajar melihat dunia diluar lingkup kota Jakarta dan Indonesia, dan bagaimana hal tersebut merubah muridnya sebagai seorang manusia. Bu Nurul kemudian mendorong kami untuk turut berpartisipasi. Turut berprestasi. "Kalian ini masuk ke sekolah ini, sekolah yang mencetak prestasi. Jadilah pejuang di OSN! Ikuti AFS! Buktikan bahwa siswa sekolah ini dapat mencetak juara!!" begitulah kira-kira apa yang Bu Nurul sering ucapkan. 

Dua tahun kemudian, Alhamdulillah, aku berangkat ke Amerika Serikat sebagai siswa peserta pertukaran pelajar AFS. Motivasi dari Bu Nurul mendorongku untuk mengejarnya dan berjuang untuk berangkat ke Amerika Serikat. Di sana, aku juga berjumpa dengan guru-guru yang hebat, maestro dalam mendorong siswa-siswanya menjadi lebih baik. Ada Mrs. Lee guru film dan literaturku yang sangat asyik dan dekat dengan siswanya. Mr. Starkey si guru kelas pidato yang santai tapi seru. Dan macam-macam guru yang kutemui disana, yang mereka lebih dari sekedar guru, mereka adalah teman, mereka menanyakan kabar kita dan peduli pada perkembangan kita. 

Dari Bu Nurul dan pengalamanku tersebutlah aku belajar bahwa pendidikan merupakan suatu proses yang menyeluruh, dan lebih dari sekedar angka-angka. Pendidikan adalah bagaimana membuat seorang manusia menyadari potensinya dan mengembangkannya. Guru-guru dan sistem pendidikan yang luar biasa akan menghasilkan manusia-manusia yang juga luar biasa. Pendidikan juga bukan semata-mata dimonopoli oleh profesi guru, pendidikan adalah upaya kolektif masyarakat manusia untuk mendewasakan generasi selanjutnya. Memang aku tidak memiliki cita-cita profesi guru, karena aku percaya bahwa setiap orang adalah guru. 

Sejauh ini memang kontribusiku belum seberapa. Sewaktu aku kembali ke Indonesia dan masuk ke bimbingan belajar, aku sempat mengambil alih pelajaran sejarah karena gurunya pusing. Dan teman-temanku senang dengan metode pembelajaranku dengan narasi. Sejarah, aku percaya, adalah mengenai makna dan bukan sekedar tanggal atau nama. Begitupun pendidikan. Belajar adalah proses memakna, dan bukan sekedar menghafal atau menalar.

2. Ketika aku menjadi mahasiswa baru di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia pun aku juga bergabung dengan program Kampung FISIP sebagai staf pengajar. Kami pergi ke sebuah kampung kota di dekat Sawangan, Depok, setiap hari minggu dan mengajar disana, bernyanyi bersama anak-anak dan bermain dengan mereka. Pada saat itu aku merasa sangat bermanfaat dan sangat senang, lebih menyenangkan daripada sekedar ikut konferensi ke luar negeri. Kini, aku menjadi staf pengajar dan kurikulum di Rumah Belajar Matahari, sebuah rumah belajar yang dikembangkan oleh penghuni asrama Rumah Kepemimpinan. 

Diluar mengajar anak-anak kecil atau anak sekolah, aku juga mengajar sesama mahasiswa atau anak SMA melalui Model United Nations (MUN), atau simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa. Aku melihat bahwa MUN, yang sering dijadikan lomba prestisius, merupakan sebuah metode edukasi yang sangat efektif untuk mengajari pesertanya life skills yang penting, seperti diplomasi, berbicara di depan umum, dan berdebat. Aku percaya bahwa seharusnya MUN itu menjadi alat edukasi, bukan lomba elit. Beberapa kali aku juga mengajar MUN, pertama kali sebagai coach di Politeknik Negeri Jakarta, kemudian menjadi coach bagi delegasi Labschool Rawamangun untuk Harvard Model United Nations. Terakhir, bulan Agustus lalu, aku diundang untuk pergi ke Jepang untuk menjadi International Advisor for Education and Committees di Oxford-Kyushu Model United Nations Camp (OKMUNC) di Kyushu. Disana, untuk pertama kalinya, aku merasakan MUN sebagai alat edukasi, tidak ada tekanan bagi para pesertanya untuk "memenangkan award". Aku sangat kagum melihat perkembangan peserta-pesertanya, ada seorang mahasiswi yang kesulitan dalam berbahasa Inggris tapi tetap maju ke depan. Ada juga yang awalnya ragu-ragu, lama kelamaan maju juga. Betapa luar biasanya apabila kita mengubah pola pikir sesuatu menjadi edukatif, bahwa dalam pendidikan, perkembangan itu dapat terjadi untuk semua orang!

Aku percaya bahwa mahasiswa dapat menerapkan pendidikan melalui cara-cara yang inovatif, seperti MUN diatas tersebut. Tidak selamanya pendidikan itu terdiri dari guru yang berceramah di depan kelas dan mengutak-ngutik papan tulis. Tapi kita bisa membuat sistem yang jauh lebih partisipatif untuk para peserta pendidikannya. Inovasi-inovasi seperti itu akan dapat menghilangkan kejenuhan dari proses belajar, dan membuat belajar menjadi sesuatu yang memang menyenangkan dan dapat selalu ditunggu-tunggu.

Selanjutnya misi edukasiku adalah untuk mengikuti Gerakan UI Mengajar. Sedari aku menjadi mahasiswa baru, aku sudah ingin mengikuti GUIM, akan tetapi belum berkesempatan karena selalu sudah ada kegiatan lain. Kali ini, sebelum aku kelak lulus menjadi sarjana, aku ingin menjadikan GUIM sebagai kegiatan kampus terakhirku. Dari sini, aku harap aku dapat mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan, serta persahabatan yang kekal tenteram. Aku juga percaya bahwa walaupun aku nantinya berangkat sebagai guru, aku-lah yang paling belajar. Karena memang aku selamanya merupakan siswa kehidupan. Dan kuharap, aku bisa belajar banyak tentang kehidupan dari murid-muridku kelak. 

M. Radhiyan Pasopati Pribadi_1406572712_FISIP

 

451 Views
Write your answer View all answers to this question