selasar-loader

Pengalaman traveling apa yang paling berkesan dalam hidup Anda? Mengapa?

LINE it!
Answered Apr 27, 2017

Jiwo Damar Anarkie
| Community Engagement Selasar | Co-Founder FLAC Indonesia | @dijiwa

XbkzgJ0QKJgg42EcUAlefDkv8YnWeePU.jpg

Saat berziarah* gunung tertinggi di Negeri Bavaria, Jerman! Zugpitze namanya, 2900an MDPL.

***

Pertengahan Juni 2013, saya diundang mewakili FLAC Indonesia menjadi salah satu presenter dalam sebuah konferensi di Belanda. Tak ayal, terlepas dari segala persiapan konferensi itu, pikiran pertama yang langsung terbesit kala itu adalah, NAIK GUNUNG SALJU! 

Namanya naik gunung, pasti membutuhkan fisik yang prima, apalagi ini gunung salju. Fisik yang dibutuhkan harus benar-benar prima, jauh lebih prima dari gunung daerah tropis. Konsekuensinya saya harus terima segala risiko dan tantangannya. Siap? 

Saya berpikiran, jalan-jalan ke Eropa bisa kapan saja, namun naik gunung, apalagi gunung salju, tak bisa ditunda. Mumpung umur masih muda, fisik masih bertenaga, apalagi belum ada tanggungan keluarga, mengapa tak coba saja memilih perjalanan yang berbeda dari biasa orang-orang berkunjung ke benua biru sana. 

Berbeda tentunya ketika suatu waktu saya diberi kesempatan lagi ke Eropa, bersama istri, anak, dan keluarga, naik gunung boleh jadi daftar pertama yang dicoret dalam daftar kunjungan itu, ya kan? 

Lalu, mengapa perjalanan ini sangat berkesan?

1. Zugspitze, gunung salju pertama yang saya ziarahi

Selama 22 tahun hidup saya, saya hanya berkesempatan menziarahi gunung-gunung tropis khas Indonesia. Dengan mendaki gunung salju, tentu saya mendapatkan pengalaman yang berbeda yang bisa jadi cerita untuk anak cucu saya. 
wXHd9x0Jyrdnvmk5BNSEsqxrv1YnqtAX.jpg
Saya tidak sendiri mendaki gunung ini. Sesampainya saya di Belanda, saya langsung menghubungi adik kelas yang sedang berkuliah di Jerman, mengutarakan keinginan saya untuk berziarah di puncak-puncak tertinggi di Eropa. Kami bertiga, ada Arga, kawannya Arga, dan Saya. Dokumentasi kami bertiga ada di video di akhir jawaban ini. 
 
2. Perjalanan terlama dan terpanjang dari seluruh gunung yang pernah saya ziarahi
 
Zugspitze punya beberapa jalur pendakian, (dapat dilihat di sini), namun ada satu jalur yang paling memungkinkan untuk dilewati, jalur Reintal. Jalur lain yang bisa dilewati dengan berjalan kaki, misalnya Ehrwalder Alp and Gatterl dan Austrian Snow Cirque tak menawarkan pemandangan yang tak lebih baik dari Reintal di samping, jalur Austrian Snow Cirque yang secara posisi, berada di Austria. Dua jalur lainnya, Höllental (Devil’s Valley) dan Jubilee Ridge, tidak mungkin dilewati karena membutuhkan teknik cilimbing (pemanjatan) vertikal. Layaknya panjat tebing, kedua jalur ini membutuhkan harness, kernmentle, helm, carabiner, dan alat panjat lainnya. Tidak mungkin kami lakukan karena memang tidak ada alatnya pun dengan kami bukan profesional menggunakan peralatan-peralatan itu.
 
Start dari Garmisch-Partenkirchen pukul 6, total kami membutuhkan waktu pemanjatan 14 jam di luar waktu bermalam. Panjang jalur Reintal yaitu 21 km, terpanjang dari seluruh jalur yang ada, ditambah dengan suhu yang lebih dingin dari gunung tropis, membuat kami merasa lebih cepat lelah. Rata-rata suhu saat kami berjalan di bawah 0 derajat celcius. Saya gunakan foto-foto untuk mendekripsikan perjalanan tersebut.
 b0Dm2HbhV37UNbZuh5OoXI4ieKIxY5Yg.jpg
a. Awal perjalanan kami di gunung ini adalah melewati pedesaan ala Eropa. Kurang kebih 1 jam kemudian, kami sampai di Pos Pendaftaran
 
9fQJfj2cXnsZAqy-iN_No9XlvCgH8UD8.jpg
b. Saya, setelah melewati pos pendaftaran, kami sampai pos pendaftaran pukul 07.00, pos belum buka. Kami yang seharusnya membayar 50 Euro, akhirnya tak membayar sedikit pun. Hehe
 
8Teq-7jSMIATcLuiEqEJdysV2FdD8jbq.jpg
c. Total ada lima pos di jalur Reintal yaitu PartnachKlamm, BockHütte, ReintalangerHütte, Knorrhütte, dan Puncak. Gambar di atas adalah pos PartnachKlamm, sebuah gua batu yang di dalamnya ada stalaktit dan stalagmit serta sungai kecil yang biasanya digunakan untuk kayaking.
 
Z6y3WK14P2DepgYOmsgAt1p6IGf9wpuP.jpg
d. Pos BockHütte. Tidak seperti gunung-gunung di Indonesia, pos/shelter di gunung-gunung Eropa digarap dengan apik, disertai dengan penginapan dan restoran. Tidak diperbolehkan untuk mendirikan tenda dan memasak di sana. Peziarah hanya mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
 
vs0eoGm8_07jh1rzAPxA_3Oq7F9vgijq.jpg
iGp4KU5nf40xUVUrl5BiwcdZfbNkAdGF.jpg
e. ReintalangerHütte, pos perbatasan sebelum kita menuju trek menanjak tak berkesudahan. Foto ini diambil setelah kami menanjak sedikit. Untuk sampai pos ini, kami membutuhkan waktu 9 jam, bayangkan! 
 
yO8dwzGNXrDrVboGUxnOxeEOXV4DSQ-j.jpg
f. Nama posnya terbaca di gambar kan? Kami membutuhkan 9 jam perjalanan dari pos pendaftaran sampai pos ini. Di pos ini juga kami bermalam dengan membayar kurang lebih 60 Euro. Penginapan ini harus dibayar beberapa hari sebelumnya. Dari ReintalangerHütte ke Knorrhütte, inilah perjalanan hati sebenarnya. Ketika kami dihadapi tanjakan tak berkesudahan, ditambah kurang lebih 500 meter sebelum pos ini, kami terkena badai salju. Dinginnya sangat menusuk hati kami yang pada saat itu masih jomblo #canda. Ada rasa kami ingin pulang, tapi mau apa, perjalanan pulang justru mengulang lagi tanjakan-tanjakan itu.
 
Q88qlbPlD21B2zdiPFCmpPc1cczq4ZeE.jpg
g. Puncak! Lelah itu akhirnya terbayar! Rute dari Knorhutte sampai Puncak masih menanjak. Kami seringkali terjatuh karena sepatu gunung kami khusus untuk gunung tropis. Licinlah kami menginjak salju-salju itu. 
 
3. Rasa sakit paling sakit yang pernah saya alami selama naik gunung
Q-xLOoZzj3ZAZOqJWNoucGx9CkKKubzo.jpg
Bodohnya, tidak seperti pendaki lain, di gunung yang penuh "fasilitas" ini (setiap pos menyediakan makanan dan penginapan -red), kami menggunakan carrier besar untuk membawa bekal yang cukup lebay yang sebenarnya lebih cocok digunakan untuk tipe pendakian Himalayanan Style (rute panjang disertai fasilitas pos yang tak memadai, seperti di negara-negara Asia). Terlebih, saya juga membawa termos pemanas untuk membuat kopi, teh, dan pop mie (karena kami tahu, setiap pos gunung ini dialiri listrik 24 jam). Konsekuensinya, beban bawaan kami jadi sangat berat. Beban berat inilah yang membuat dengkul kaki kanan saya sangat-sangat terasa sakit, tidak bisa ditekuk. Bayangkan saja, 21 km kami harus membawa tas-tas besar itu yang beratnya lebih dari 10 kg. Malunya lagi, saya "dikatain" pendaki lain, apa yang kamu bawa? Untuk paralayang ya? Saya jawab, bukan, saya bawa makanan dan perbekalan lainnya. Sontak si Bule itu tertawa terbahak-bahak. Merahlah muka saya dibuatnya.
 
Rasa sakit di pendakian ini adalah rasa paling sakit yang pernah saya alami di Gunung. Niatnya lagi-lagi, hanya untuk menghemat. Maklum mahasiswa, yang kami yakini harga gunung pasti lebih mahal dengan harga darat. Jadi, setiap sen Euro yang kami keluarkan, begitu sangat berarti (jika kamu tahu, saya hanya bermodal 400 Euro selama perjalanan 3 minggu saya di Eropa). Pengalaman ini betul-betul "menghemat yang menyakitkan".
 
***
 
Terakhir, untuk mengenang perjalanan hati ini, berikut dokumentasi video perjalanan kami saat ziarah ke gunung ini. 
 
Total saya hanya menghabiskan 80 euro untuk ziarah gunung ini. Harga yang relatif murah dengan pengalaman luar biasa yang saya dapat ceritakan untuk anak - cucu saya nanti. 

 

Penting:

*Mengapa saya gunakan kata berziarah? 

Mendaki gunung bagi saya adalah perjalanan hati. Ketika kamu naik gunung, mata tertuju pada setapak jalan, menengok ke bawah, namun tak terasa, dengan langkah-langkah kecil itu, kamu mulai menapak posisi lebih tinggi. Bagi saya, kita belajar untuk tetap rendah hati dalam perjalanan kita menuju posisi lebih tinggi. Sama halnya ketika kamu berziarah ke Mekah-Madinah bukan? Tantangannya bagaimana kamu menahan untuk tidak sekadar mendapatkan gelar haji atau sekadar foto selfie di depan Ka'bah, yang boleh jadi berpeluang membuat diri ini tinggi hati. Namun, bagaimana kamu bisa terus rendah hati sebagaimana inti dari tujuan berhaji. Maka dari itu, ziarah gunung boleh jadi pilihan kata terbak, bagi kamu yang bisa memaknai bahwa mendaki gunung, bukan sekadar dapat lelahnya, tapi ada suatu pelajaran untuk kita dapat renungkan. Mendapatkan kepantasan diri di wajah Sang Pencipta. 

1225 Views
abdul sidik

mendaki gunung merbabu, berkesan karena saya pernah tersesat disana dan saya hampir mati kedinginan dsna saat saya tersesat  Aug 19, 2017

Ma Isa Lombu

Asiiikk. Mantap kali catatan perjalanannya


  Aug 18, 2017

Nurhayati Lailiyani

Nurhayatilailiyani

Fakultas adab 
Jurusan tarjamah 

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pengalaman paling menarik Itu ketika mendaki gunung bromo,, dari ketinggian Itu kita melihat ke bawah bahwasanya betapa indahnya alam semesta yang masih sangat lindungi,,, dan panorama alamnya yang sungguh sangat memikat para jejak traveller,, pada saat mendaki
  Aug 17, 2017

Yulian Adi Kurniawan

Semoga bisa mengikuti jejak Bang Jiwo yang luar biasa!!  May 28, 2017

Write your answer View all answers to this question
Sponsored