selasar-loader

Karakter apa saja yang harus dimiliki seorang pengusaha sejati?

LINE it!
Answered Sep 15, 2017

Ma Isa Lombu
Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar

VSuRPR6TOnuaU8n1Ef_9bXG6rDJI0jnf.jpg

Skeptis (data driven mindset)

Menjalankan bisnis di hari ini tentu sudah jauh berbeda dengan menjalankan bisnis di masa lampau. Saat ini, dengan banyaknya asupan informasi yang datang dari crowd ke seorang calon pebisnis atau pebisnis sekalipun, sebuah bisnis bisa mengalami percepatan yang luar biasa atau bahkan secara ekstrem akan gagal sebelum ulang tahun pertamanya.

Dunia yang kebanjiran informasi seperti sekarang ini haruslah disikapi dengan bijak dan penuh kehati-hatian. Pastinya harus tetap optimis, tapi harus tetap "berpijak di bumi". Harus riil, tidak boleh mengawang-awang. Harus berdasarkan data, tidak boleh hanya berdasarkan intuisi. Kesalahkaprahan yang terjadi adalah banyak bisnis yang dijalankan dan diisiniasi hanya berdasarkan asumsi ataupun intuisi semata. Saya suka bergumam dalam hati, "Macam setiap intuisi sudah dimiliki setiap orang saja!" Ini seharusnya diakui dan diamini sebagai kesalahan fatal yang menyebabkan banyak bisnis hancur di tengah jalan. Layu sebelum berkembang. 

5qvF5UcJrKcBSwo2wilruCmB7MeF7m_s.jpg

Menurut pendapat saya, fungsi dari intuisi adalah kepemilikan data dan pengalaman. Hanya orang-orang yang terbiasa melihat data dan memiliki pengalaman eksekusi dalam rentang waktu tertentu lah yang memiliki intuisi. Selebihnya, orang-orang yang miskin kepemilikan data dan juga minim pengalaman, hanya sedang berspekulasi, bukan menggunakan intuisi. Spekulasi hanya memiliki probabilita sukses 50%. Sisanya gagal.

Dapat dilihat pada tabel di atas bahwa kebanyakan perusahaan rintisan (startup) gagal karena para founders-nya hanya menggunakan intusisi (jika tidak mau dibilang asumsi atau spekulasi) yang mereka miliki, bukan berbasiskan akan data yang riil dan valid. Sebagai contoh, berbekal idealisme dan data yang terbatas, para founders mendirikan perusahaan idaman mereka dengan mengasumsikan produk mereka memang dibutuhkan banyak orang dan dapat mengatasi permasalahan tertentu yang krusial. Mereka berpikir bahwa jika produk buatan mereka tidak segera dilahirkan, maka akan terjadi permasalahan yang lebih besar di dunia ini. Itu kata mereka.

Kenyataannya adalah, setelah produk tersebut launch ke market, tidak ada traction. Tidak ada demand atas produk yang mereka buat. No market need. Mereka gagal. Layu sebelum berkembang!

Begitu juga penyebab gagalnya perusahaan rintisan lain seperti run out of cash (beli ini beli itu tanpa pertimbangan data dari cash flow), not the right team (tidak selektif memilih team member, hanya berdasarkan like or dislike saja. Credentials dan track record tidak diperhitungkan), ataupun penyebab lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu.

Untuk itulah maka menjadi sangat penting bagi para startup founders ataupun pengusaha (sejati) untuk dapat berpikir skeptis secara sehat. Tidak mudah membenarkan suatu kejadian ataupun menyalahkan/pesimis atas sesuatu sebelum ada data yang menguatkan atau melemahkannya.

569 Views
Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia