selasar-loader

Mengapa mengenali dan memahami diri penting sebagai bekal pengasuhan? Apa yang perlu kita ketahui tentang diri kita?

LINE it!
Answered Sep 14, 2017

6f5JvEOirVDcG6Gr6FmLlas7ggXgbv6L.jpg

Anda merasa bukan orang tua yang ideal? 

Bingung bagaimana mengatasi masalah yang muncul karena perbedaan karakter yang ada dalam keluarga? 

Sering merasa disalahpahami dan tidak dipahami anak dan pasangan?

Salah satu penyebab konflik yang terjadi dalam keluarga adalah karena terdapat perbedaan karakter yang diawali dengan kekurangan dalam memahami karakter diri. Bagaimana cara kita menghadapi masalah dan merespon sesuatu mempengaruhi interaksi kita dengan orang lain.

Komunitas Anak Pintar dan Berawal Dari Rumah didukung oleh Selasar, proudly presents 

“Intensive Class: Mengenal Diri”

Apa yang didapat dari program ini:

  1. Gambaran mengenai karakter diri 
  2. Potensi masalah yang dapat muncul berkaitan dengan karakter yang dimiliki
  3. Mengenali sumber masalah yang ada saat ini, yang disebabkan oleh diri sendiri
  4. Pengetahuan tentang bagaimana cara mengatasinya.

Sesi ini akan dipandu oleh psikolog berpengalaman yang menangani masalah psikologis pada orang dewasa. Limited Class, hanya untuk 15 orang.

Tertarik mengikuti?

Caranya gampang!

1. Bagikan pengalaman Ayah-Bunda tentang pentingnya mengenali dan memahami diri sebagai bekal pengasuhan kepada anak dengan klik tombol answer di bawah pengumuman ini*

2. Kontak Ibu Anne 08176467587 (WA/SMS) atau Ibu Sherly 081373490499 (WA/SMS) mengenai teknis kegiatan

Ditunggu pendaftarannya ya, Ayah-Bunda!

 

*Sharing Ayah-Bunda akan menjadi bahan pelatihan nanti


Ma Isa Lombu
Selasares Garis Keras

VIqIbros6JZUOpJ9ltdzo3P3dXs9DIQe.jpg

"The apple doesn't fall far from the tree"

Saya menyadari benar bahwa idiom tersebut benar adanya bahwa karakter anak akan berada tidak jauh dari titik karakter yang dimiliki oleh orang tuanya. Bukan hanya karakter, sikap, perilaku bahkan kebiasaan seorang anak pasti tidak jauh dari orang tuanya.

Hal ini mungkin karena faktor bahwa anak yang dilahirkan di dunia ini adalah seperti kertas kosong (tabula rasa) dimana faktor yang menentukan dirinya seperti apa adalah lingkungan terdekatnya. Bahkan lebih jauh (bagi yang muslim), kita juga pernah mendengar hadist yang mengafirmasi teori "tabula rasa" yang saya singgung sebelumnya. Hadist tersebut adalah:

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah telah bersabda:

مَا مِنْ مَوُلُودٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتِجُ الْبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟

“Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi...."

Hadits diriwayatkan oleh Al-Imam Malik t dalam Al-Muwaththa` (no. 507); Al-Imam Ahmad t dalam Musnad-nya (no. 8739); Al-Imam Al-Bukhari t dalam Kitabul Jana`iz (no. 1358, 1359, 1385), Kitabut Tafsir (no. 4775), Kitabul Qadar (no. 6599); Al-Imam Muslim t dalam Kitabul Qadar (no. 2658).

Nah karena faktor eksternal terdekat (baca: orang tua) adalah faktor yang paling dominan dalam menentukan seperti apa karakter/sikap/perilaku seorang anak, maka menjadi sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui seperti apa dirinya, apa yang baik pada dirinya, dan tentu apa yang buruk pada dirinya. Yang baik ataupun yang buruk dari orang tua akan terefleksi kepada baik buruknya seoranganak. Jika orang tuanya suka membaca, maka kemungkinan besar anaknya pun suka membaca. Sebaliknya jika sang orang tua suka membentak, maka kemungkinan besar sang anak juga suka membentak.

Untuk itulah maka buat saya pribadi yang paling penting untuk diketahui adalah karakter, sikap, perilaku dan kebiasaan pada diri kita. Hal-hal inilah yang nantinya akan diikuti oleh anak. Penting bagi kita untuk mengetahui siapa kita secara lebih baik untuk menonjolkan hal-hal terbaik dari dalam diri untuk menjadi teladan, dan tentu menghilangkan hal-hal buruk pada diri kita yang berpotensi juga untuk diikuti.

Demikian yang saya pahami..

 

Family is the first school for young children, and parents are powerful models.

Alice Sterling Honig | Professor emerita in the Syracuse University department of child and family studies

280 Views
Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia