selasar-loader

Apa alasanmu berpacaran? Jika tidak, apa alasannya?

LINE it!
Answered Sep 11, 2017

Hidup itu pilihan. Apa sih yang membuat kamu memilih pacaran? Kalaupun kamu tidak memilihnya, kenapa?


Ma Isa Lombu
Selasares Garis Keras

lWHtCazhwjmqrRmzUr322KSWRqnSzH5M.jpg

Saya tidak pacaran karena pacaran (disinyalir kuat akan) menimbulkan misallocation of resource dan pengambilan keputusan yang salah.

Kenapa?

Pada dasarnya resources (waktu, tenaga, konsentrasi, uang) yang dimiliki manusia itu terbatas. Karena keterbatasan tersebutlah manusia dituntut untuk mengambil sebuah keputusan yang tepat. Sebuah keputusan yang berada pada titik optimumnya. Mudahnya, dengan resources yang terbatas ini, bagaimana hasil yang kita dapatkan dapat mencapai hasil terbaiknya. Sesederhana itu.

Di sisi lain, manusia juga hidup dalam lingkungan yang penuh dengan ketidakpastian. Hal itu diperparah dengan keyataan bahwa indera kita (pengelihatan, pendengaran, dll) juga bersifat terbatas. Keterbatasan itulah yang mengakibatkan informasi yang kita terima (sering kali) juga tidak sempurna/asymmetric, yang pada akhirnya juga akan berpengaruh kepada ketidaksempurnaan kesimpulan/keputusan yang dapat diambil.

Dari dua kenyataan tersebut (terbatasnya resources dan risiko diterimanya informasi yang parsial), sudah sewajarnyalah kita sebagai manusia normal harus mempertimbangkan dan memperhitungkan semua tindak-tanduk kita se-rasional mungkin dengan data/informasi yang cukup, sehingga keputusan yang kita ambil nantinya juga merupakan keputusan yang valid, objektif dan berada dalam titik optimumnya. 

Kembali ke pertanyaan yang diajukan.

Jika mau diakui secara jujur, pacaran merupakan salah satu produk budaya yang saya pikir tidak lebih dari sebuah metode untuk menuju kepada jenjang hubungan antar personal yang lebih serius (baca: menikah). Tentu, kita dapat mengkreasikan bentuk hubungan lain sebagai metode untuk menuju jenjang pernikahan. Tidak harus pacaran. Yang paling penting, apapun metodenya tujuan dapat terpenuhi: menikah. 

Bagi sebagian orang-orang yang berpikiran rasional dengan sudut pandang ekonomi, menikah bukan satu-satunya tujuan, tetapi "menikah dengan pasangan yang sesuai dengan kriteria dengan menggunakan metode yang paling efisien untuk mengoptimalkan sumber daya yang terbatas" adalah tujuan sebenarnya yang harus dicapai.

Nah, menurut pendapat saya pacaran merupakan sebuah metode yang memiliki beberapa kelemahan terkait tujuan ekonomis di atas. Diantaranya adalah:

a. Kedua belah pihak (terutama pihak laki-laki karena tekanan budaya) harus membebankan biaya tertentu untuk menjalankan prosesi pacaran tersebut

b. Biaya yang dikeluarkan tersebut (sayangnya) tidak dapat dikategorikan sebagai bagian dari investment mengingat hasil yang didapatkan dari metode pacaran juga tidak jelas. Jadi alih-alih menganggapnya sebagai sebuah bentuk investasi, saya lebih suka mengkategorikan pacaran sebagai salah satu bentuk spekulasi. Dalam bisnis, spekulasi adalah sesuatu yang harus dihindari karena hanya memiliki kemungkinan untung 50%. Dalam bisnis, proyeksi usaha kita akan mencapai sesuatu yang baik/profitable haruslah di atas 50% karena secara riil si pebisnis sudah (100%) mengeluarkan biaya tertentu.

"Menariknya", dengan pacaran, kedua belah pihak tidak mendapatkan jaminan bahwa pernikahan yang terjadi antar keduanya akan terwujud karena dalam pacaran tidak ada ikatan yang dapat menjadi pegangan oleh kedua belah pihak benar-benar akan menikah pada akhirnya. Artinya kedua belah pihak sejatinya tengah berspekulasi apakah biaya yang dikeluarkannya akan berkorelasi positif dengan hasil yang diinginkan (baca: menikah), atau tidak. 

Padahal, secara rasional orang normal akan menghindari sesuatu yang tidak pasti (dalam konteks manusia yang memiliki keterbatasan resources) akan menciptakan misallocation of resource. Misallocation of resources harusnya dapet dihindari manakala terdapat kepastian akan apa yang akan kita dapat/alami/hadapi.

c. Hal tersebut diperparah dengan kenyataan bahwa (karena ingin dilihat sebagai sosok yang sempurna dan atau berharap dapat menyenangkan pasangannya) kedua belah pihak sering kali tidak menunjukan keadaan/kepribadian-nya yang sesungguhnya. Padahal, informasi yang valid amat sangat dibutuhkan untuk menghasilkan keputusan yang objektif, sebuah keputusan yang pada akhirnya dapat membantu kita menyimpulkan apakah pasangan kita adalah sosok yang cocok menemani kita dalam hidup di dunia dan akhirat. Kepura-puraan terhadap pasangan akan membuat keputusan yang akan kita ambil nantinya berisiko salah/misleading. Tentu hal itu kita hindari.

So, saya hanya mengajak kita semua untuk menjadi (lebih) rasional bahwa apabila ada metode lain yang lebih efisien dan efektif dibandingkan menggungkan metode pacaran untuk membawa kedua insan pada jenjang pernikahan, mengapa kita tidak mencobanya?

330 Views
Gregorius Reynaldo

Gileee.. ilmiah banget bang.. wkwkwkwk  Sep 18, 2017

Ma Isa Lombu

Wkwkwk  Sep 24, 2017

Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia