selasar-loader

Apakah ciri khas dari strategi Indra Sjafri?

LINE it!
Answered Sep 09, 2017

Ibnu Zubair
Menolak tua dengan rutin tertawa

myx350Ig3Ye3b0aG4y9bqd_g7ZLB4JkU.jpg

sumber foto: liputan6.com

Salah satu kemampuan Indra Sjafri adalah kepintarannya menyatukan tim, sehingga bisa kompak di dalam dan luar lapangan. tim tim yang dilatih Indra Sjafri terlihat menyatu satu sama lainnya, baik ketika di timnas era Evan Dimas, maupun di tim Bali United. Hal itu dimungkinkan, karena Indra Sjafri selalu memproteksi diri dari berbagai intervensi, dan itu menjadi hal penting yang dituntutnya pada tiap manajemen tim. Tim manajemen dilarang ikut campur dalam urusan tim, manajemen bertugas mengurusi masalah masalah diluar tim, dan pemain menjadi tanggungjawab Indra Sjafri sendiri.

Indra selalu meminta kemandirian, karena dengan itu dia bisa kendalikan tim sesuai keinginannya, termasuk pemilihan pemain, Indra tidak bisa diintervensi, semua harus dibawah otorisasi dirinya. Cara Indra ini sebenarnya berpotensi merugikan tim, karena kalau tim anjlok dan memaksa pelatih di nonjobkan, maka tim akan ikut terpuruk, karena nakhodanya di copot. Berbeda dengan tim yang tidak dikendalikan pelatih seutuhnya, mereka gampang kompak dengan pelatih baru, jika pelatih lama dipecat. Persipura contoh tim yang loyalitas pemainnya bergantung pada manajemen, sehingga ketika Vega diganti Jafri Sastra, lalu beralih ke Eduard Tjong dan sampai ke tangan Wenderley skuad Persipura tetap oke.

Diluar kemahiran mengompakkan pemain, Indra relatif sama dengan pelatih di Indonesia lainnya, yang miskin kreatifitas. Kalau dilihat permainan timnas ketika menghadapi tim tim sepadan, nampak kemampuannya menjadi minimal, tampil tidak sesuai harapan dan miskin kreatifitas, akhirnya yang terjadi bertahan semampu dan sebisanya.

Karena itu, apa yang diungkap Iwan Setiawan tentang Indra Sjafri yang kurang memuaskan ada benarnya. Hingga pertandingan pertama.melawan Myanmar digelar, Indra masih bingung menempatkan Egy dimana, apakan penyerang lubang, pemain sayap atau kreator serangan. Kebimbangan itu diakuinya sendiri. Padahal pertandingan melawan Myanmar bukan lagi sesi latihan, tapi sudah memasuki tahap yang sebenarnya. Beruntung Indonesia bisa menang, kalau kalah mungkin Indra benar benar akan mengisahkan kebingungannya menempatkan Egy dan itu yang membuatnya kalah. 

Waktu Evan Dimas dkk berlaga di Piala Asia, Indonesia sukses mendulang sejumlah kekalahan, hal yang jauh dari perkiraan sebelumnya. Terlihat miskinnya kreatifitas permainan Indonesia. Evan dkk sibuk memperagakan Pe Pe Pa (umpan Pendek Pendek Panjang), tapi lupa melakukan tusukan yang dapat berbuah gol. Kalaupun ada akselerasi, ujung ujungnya dapat dihalau oleh pemain belakang lawan.

Jangan lupa, Indra juga jago menemukan telenta muda, seperti ketika ia menemukan Yabes Roni di NTT. Penglihatannya tajam dan selalu pilihannya menjadi pemain penting pada masa masa selanjutnya. U-19 era Evan Dimas dkk tidak hanya menjadi rebutan klub, tapi juga menjadi langganan timnas senior. 

Namun sesungguhnya kekompakan saja sudah cukup menjadikan Indonesia juara, apalagi kalau kekompakan itu diimbangi dengan kreatifitas pemain dilapangan, akan semakin sempurna permainan Indonesia. Semoga periode U-19 Egy dkk ini semakin memperkuat dominasi Indonesia pada turnamen usia muda.

334 Views
Write your answer View all answers to this question