selasar-loader

Siapa Atmaji Sapto Anggoro Pendiri dan CEO Tirto id?

LINE it!
Answered Apr 26, 2017

Arfi Bambani
Chief Content Officer Selasar | Sekretaris Jenderal AJI

htNtA72V7ksJMAZPwyJVVhdFfzAeBHt3.jpg

Mas Sapto. Terus terang, tak banyak persinggungan saya dengan jurnalis-cum-entrepreneur sukses ini meski pernah bertahun-tahun bekerja di kantor yang sama, www.detik.com. Saat itu, kurun 2006-2008, pendiri dan pemimpin redaksi detik.com, Budiono Darsono, kerap bercerita mengenai pria yang kini jadi CEO Tirto.id itu.

Kala itu, saya masih seorang reporter, sementara Mas Sapto adalah 'dewa' yang sudah menjadi, kalau tak salah, wakil direktur yang menangani marketing detik.com. Praktis, sehari-hari saya tak pernah berhubungan langsung dengan beliau, saya lebih banyak berinteraksi dengan Pak BDI, panggilan akrab Budiono Darsono.

BDI bercerita, detik.com berawal dari "keisengannya" yang tak sabar menunggu berita-berita mengenai perkembangan Reformasi baru muncul besok pagi di koran-koran lokal. BDI memanfaatkan jaringannya untuk mendapatkan informasi, lalu diramunya untuk dijadikan berita di detik.com. Saat itu, beberapa bulan setelah Soeharto lengser, belum ada reporter khusus yang turun ke lapangan.

Salah satu pemasok berita untuk BDI adalah Sapto Anggoro, yang saat itu bekerja di Harian Republika. Sapto saat itu masih turun ke lapangan, mengumpulkan informasi. "Jadi saya menelepon Sapto, lalu nanya-nanya apa perkembangan berita hari ini," kata BDI menceritakan kembali.

Informasi dari Sapto ini kemudian diramu BDI untuk menjadi bahan berita di detik.com. Ketika sudah beberapa kali melakukan telepon yang sama ke Sapto, lama-lama Sapto tersadar bahwa informasi yang dia berikan diolah menjadi berita di detik.com. Singkat kata, Sapto kemudian ditantang BDI untuk bergabung ke detik.com. Awalnya Sapto ragu, namun akhirnya mengiyakan.

Jadilah Sapto sebagai "wartawan kosong satu" detik.com, kata BDI dalam beberapa kali kesempatan. Sebagai karyawan-karyawan awal detik.com, Sapto memiliki hak mendapatkan employee stock option (Esop), yakni hak mendapatkan dividen jika detik.com mendapatkan keuntungan.

Dari posisi sebagai redaktur-penulis untuk detik.com, Sapto akhirnya mencapai puncak karier kewartawanan di detik.com sebagai wakil pemimpin redaksi. Ketika saya bergabung dengan detik.com di tahun 2006, Sapto kemudian "dimutasi" menangani marketing. Makanya saya hanya sebentar merasakan "lekat tangannya" sebagai wartawan.

Sapto adalah karyawan detik.com yang ilmunya paling mumpuni karena pernah menjajal berbagai posisi, mulai dari konten, marketing sampai HRD. (Mungkin kemumpunian ini yang kemudian hari membuat beliau sukses di berbagai startup yang dikembangkannya).

Pivot Sapto

Tahun 2011, ketika saya sudah bekerja di Viva, tersiar kabar detik.com dibeli Chairul Tanjung. Beredar rumor santer di antara para "alumni" detik.com jika para pendiri dan karyawan-karyawan mula detik.com kaya raya karena nilai saham yang mereka punya melambung.

Nah, Mas Sapto adalah salah satu yang disebut sukses besar. Kesabarannya bertahun-tahun membeli sedikit demi sedikit saham detik.com dari menyisihkan gajinya membuatnya, kalau memakai bahasa orang banyak, "OKB" alias orang kaya baru.

Mas Sapto sempat sebentar merasakan detik.com di bawah Chairul Tanjung. Namun beberapa bulan setelah diakuisisi detik.com, Mas Sapto kemudian keluar untuk mendirikan Merdeka.com. Saat di Merdeka.com ini, Mas Sapto terpilih menjadi Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII). Saya sempat beberapa kali bertemu dengan beliau saat menjadi Sekjen APJII ini.

Pertemuan yang agak berisi terjadi ketika Mas Sapto meluncurkan buku "detikcom, Legenda Media Online" di sebuah hotel di Jakarta Pusat. Saat itu, Mas Sapto menyebut ini buku pertama mengenai detik.com. Banyak kisah-kisah yang belum saya tahu muncul dalam buku ini. Konon, Pak BDI agak gusar dengan kehadiran buku ini karena ada beberapa hal yang dia kurang berkenan untuk diceritakan kembali.

jPthUlyvN98rjo0ZjmtThGXq1VLi9DcO.jpg

Tahun 2015, setelah Merdeka.com sukses besar, hanya butuh dua tahun untuk menembus jejeran lima besar media online nasional, tiba-tiba muncul isu Mas Sapto mundur dari Merdeka.com. Kabar mundur ini menyusul berita 52 persen saham Kapan Lagi Network yang membawahi Merdeka.com dibeli anak usaha Temasek, Singapura.

Jelas, Mas Sapto kembali "chuan" alias untung. Sebagai pendiri, tentu Mas Sapto memiliki saham pula di Merdeka.com yang memiliki investor baru. Tak lama, Sapto mundur dari Grup Kapan Lagi dan kemudian muncul dengan gebrakan barunya, mendirikan Binokular, sebuah perusahaan media monitoring yang berbasis di Yogyakarta. Mas Sapto juga mendirikan sebuah tempat bernama Padepokan ASA yang bisa dipakai untuk diskusi atau pertemuan-pertemuan.

Namun gairah sebagai wartawan belum padam. 2016, muncul pula Tirto.id, sebuah media online yang memilih jalan sepi menyajikan berita-berita indepth atau investigatif. Jalan sepi karena memilih tidak mengikuti langgam hard news yang lebih menjanjikan traffic. Mas Sapto adalah chief executive officer-nya.

Beberapa bulan belakangan ini, hampir tiap minggu saya bertemu Mas Sapto. Saya bersama beliau sedang sibuk menyiapkan Deklarasi Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) yang berhasil dilakukan 18 April 2017 yang lalu. Dalam beberapa kali rapat yang digelar bergiliran di beberapa kantor media, saya bisa mengenal lebih jauh Mas Sapto.

"Di sini (dalam rapat pendirian AMSI), kita tidak boleh bicara traffic. Di sini kita bicara value," ujar Mas Sapto ketika peserta-peserta rapat mulai berbincang soal traffic, pageviews atau pun berbagai metriks pengukuran Internet lainnya.

Mungkin itu yang mendasari Mas Sapto mendirikan Tirto.id. Value.

Semoga sukses terus, Mas Sapto.

2660 Views
Write your answer View all answers to this question
Sponsored