selasar-loader

Apa cita-cita Anda sewaktu masih kuliah dan apakah berubah setelah 1 tahun bekerja?

LINE it!
Answered Aug 28, 2017

Pepih Nugraha
Percaya dan yakin bahwa karir bisa dibikin sendiri

-Ky1zCNs3w-rr2XB0BgsxeFCws4BzrNi.jpg

Cita-cita saya sejak SD, SMP, SMP, saat kuliah sampai bekerja di sebuah industri media ternama tidak berubah, yakni ingin menjadi penulis, khususnya penulis buku-buku cerita, fiksi, novel, atau sebangsanya. Tidak pernah ada cita-cita lain yang melintas di benak saya sepanjang hidup saya di masa lalu. Pada masa kecil, kawan-kawan saya menyatakan ingin menjadi dokter, insinyur, dan astronot. Saya ingin menjadi penulis dan menjadi bahan tertawaan.

Bermula ketika saya demikian keranjingan membaca buku-buku cerita yang disediakan Perpustakaan SD Ciawi I di mana saya bersekolah. Saya membaca hampir semua buku cerita yang menjadi koleksi perpustakaan itu sejak kelas tiga SD dan berlanjut sampai kelas enam. Buku yang sangat berkesan yang kemudian saya ingin menjadi penulis adalah buku cerita berbahasa Sunda berjudul "Budak Teuneung" (Anak Pemberani) karya Samsoedi. 

Demikian memikatnya cerita "Budak Teuneung" sampai-sampai saya menganggap hal itu sebagai kebenaran, sesuatu yang benar terjadi. Untunglah almarhum ayah saya menjelaskan bahwa apa yang ada dalam buku itu hanya cerita rekaan belaka, yang dikarang oleh seorang penulis dalam hal ini Samsoedi. "Kamu juga bisa menulis seperti itu," kata ayah.

Saya abaikan perkataan ayah, lebih banyak tenggelam dalam tumpukan buku. Buku lain yang menggugah saya sehingga saat itu berpikir kalau bisa menulis cerita seperti Samsoedi itu keren adalah "Si Boncel" dan "Malin Kundang". Dua-duanya boleh dibilang cerita rakyat, yang satu mewakili tanah Parahyangan, yang satu mewakili daratan Sumatera. Dua cerita itu mengasyikkan bagi saya, tetapi sebenaarnya temanya sama; anak yang durhaka pada orangtua!

Kelas enam saya mulai memberanikan diri menulis cerita, lalu dikirim ke Mingguan Pelajar. Dimuat, tetapi tidak pernah diberi honor. Beranjak ke SMP dan SMA, barulah saya mulai menulis cerita pendek dan bisa langsung dimuat di majalah atau mingguan terbitan Jakarta. Dimuat dan diberi honor. Sejak saat itu cita-cita saya sebagai penulis tidak tergoyahkan sampai duduk di perguruan tinggi.

Tahun pertama bekerja di Harian Kompas rentang 1990-1991, cita-cita saya ya tetap menjadi penulis. Makanya saat itu saya bisa membuktikan bahwa saya mampu menembus halaman Opini Kompas yang "angker" itu karena diisi oleh para penulis top, sedang saya hanya seseorang yang mulai memberanikan diri menulis di Kompas. Tidak disangka-sangka, Opini saya dimuat Hari Rabu, 20 Juni 1990, dan tanggal ini merupakan titik balik saya untuk menancapkan tonggak sebagai penulis.

Kemudian saya menjadi jurnalis, sebuah profesi yang tidak jauh-jauh dari urusan menulis. Sebelum menjadi jurnalis Kompas, saya aktif menulsi fiksi di berbagai majalah terbitan Jakarta. Jadi, cita-cita saya tidak pernah berubah sejak dari SD sampai satu tahun pertama bekerja. Cita-cita saya tetap, yaitu penulis.

Menjadi penulis, itulah hidup saya. Dengan menulis, saya bisa menghidupi diri dan keluarga. Kalau ada orang bertanya apa yang sedang dan akan saya lakukan setelah ini. Jawaban saya pasti; tetap menulis!

***

316 Views
Write your answer View all answers to this question