selasar-loader

Peristiwa apa yang menjadi titik balik kehidupan Anda, sehingga menjadi Anda yang sekarang ini?

LINE it!
Answered Aug 24, 2017

Sayembara Selasar Babak Final

Untuk tahap selanjutnya, Anda diminta untuk menjawab 2 pertanyaan berikut:

1. “Apa alasan Anda menggunakan Platform Selasar?” 

Jawab pertanyaan no 1 dalam bentuk video. Durasi 1-2 menit, kirim video tersebut ke email halo@selasar.com

2. Peristiwa apa yang menjadi titik balik kehidupan Anda, sehingga menjadi Anda yang sekarang ini?

Vivat Selasares!


Hilman Fajrian
Founder Arkademi.com

NQiFOu0iR_qX4EfIZrr-r85FED18EJ_i.jpg

Ketika saya percaya pada mimpi saya dan menciptakan jalan sendiri untuk mewujudkannya. Tak peduli apapun risikonya dan penilaian orang lain. Kita hanya harus menjalaninya sebagai sebuah misi dan meyakini bahwa Tuhan menciptakan kita untuk sebuah peran yang mulia dan bermanfaat bagi orang banyak.

Itu terjadi di akhir tahun 2006. Ketika saya memutuskan untuk meninggalkan karier di tempat kerja yang lama untuk mendirikan perusahaan yang baru. Saya meninggalkan terlalu banyak kenyamanan, keamanan, dan masa depan yang jelas serta terang benderang, demi sesuatu yang belum ada dan sama sekali tidak jelas.

Yang saya tinggalkan adalah sebuah karier dengan pangkat tertinggi di sebuah perusahaan media surat kabar harian nomor 1 di Kalimantan yang merupakan jaringan media terbesar di Indonesia. Usia saya 26 tahun, paling cemerlang dan paling disayang oleh para pemimpin perusahaan dan jaringan, serta dipersiapkan untuk menjadi pemimpin masa depan. Gaji saya jauh lebih dari cukup, diberi mobil dinas, memimpin lebih dari 30 staf, serta memiliki jejaring amat luas dengan orang-orang penting berkat bekerja di perusahaan ini. Saya adalah orang paling dipercaya untuk memimpin project-project baru dengan anggaran hingga miliaran, dan saya tidak pernah gagal. Bagi banyak orang, saya menjalani sebuah hidup impian bagi seorang lajang di usia 26 tahun. 

Namun tiba saatnya ketika saya menyadari bahwa saya memiliki purpose (tujuan) yang lebih besar dibanding apa yang saya miliki sekarang. Purpose yang bahkan lebih besar dari perusahaan tempat saya bekerja. Purpose yang saya miliki, sayangnya, berbeda dengan purpose perusahaan.

Setiap bangun tidur, saya bertanya kepada diri sendiri, "Apa manfaatmu bagi orang banyak? Hidup seperti apa yang kelak akan kamu jalani 10 tahun lagi? Benarkah itu hidup yang kamu inginkan?"

Purpose tersebut adalah mendirikan sebuah media surat kabar lokal yang sepenuhnya hadir atas keberpihakan kepada masyarakat, memecahkan masalah orang banyak, menjadi petunjuk, menawarkan kebijaksanaan, mengasihi yang papa, dan mengingatkan yang berkuasa.

Purpose ini saya sampaikan kepada beberapa teman yang kebetulan memiliki pandangan yang sama. Maka, kami sepakat untuk mendirikan sebuah media baru demi mewujudkan purpose kami. Namun modal finansial jelas tidak banyak dan mesti diawali dengan segala keterbatasan. Semua itu tidak masalah. Karena kami semua memiliki peran pembangun dan perintis.

Maka saya tinggalkan semua kenyamanan itu dan menyisakan banyak kekecewaan dan juga kemarahan orang-orang yang menyayangi, membina, dan menaruh harapan besar pada saya. Semua menganggap saya bodoh dan konyol, kecuali calon istri saya. Di jalan yang saya ciptakan ini, modal terbesar adalah rasa percaya pada mimpi bersama, bahwa kita hadir karena sebuah purpose yang kita yakini. Semua itu mesti saya jalani dengan gaji amat kecil, kerja sangat keras, dan hidup terpisah kota dengan wanita yang baru saja 1 bulan saya nikahi. Kenyamanan dan kesejahteraan hidup berubah 180 derajat. Namun, saya merasa hidup yang berisi karena living in purpose dan menciptakan jalan sendiri untuk mewujudkannya.

Dari waktu ke waktu, perusahaan yang kami bangun terus tumbuh sesuai ekspektasi dan berhasil meyakinkan pasar soal posisi dan purpose yang kami ambil. Bahkan kini telah memiliki 3 anak perusahaan. Padahal, para pendiri, termasuk saya, tidak pernah berencana untuk mendirikan sebuah perusahaan sebagai jalan untuk kaya raya. Namun perusahaan tetap tumbuh secara sehat sebagai sebuah entitas bisnis.

Saya akhirnya mundur dari operasional 6 tahun kemudian setelah merasa misi saya sudah selesai dalam membangun visi, misi, nilai, dan kultur dalam perusahaan sebagai sebuah tim dan keluarga. Saya menyerahkan posisi saya kepada rekan setim lainnya untuk dilanjutkan agar gerbong terus bergerak.

Pada tahun 2012, saya kembali mendirikan sebuah perusahaan, kali ini startup teknologi bernama Discover Borneo di Balikpapan. Perusahaan ini adalah pengejawantahan karakter dalam diri saya sebagai orang yang terus bergerak menemukan purpose yang lebih besar. Kali ini adalah melayani kebutuhan informasi dan komunikasi masyarakat kota saya, Balikpapan, melalui media sosial. Waktu itu kami belum mengenal istilah startup, hanya UKM saja. Namun dalam waktu singkat, perusahaan kami tumbuh menjadi perusahaan pengembang media sosial paling besar di Indonesia tengah dan Indonesia timur yang melayani lebih dari 150.000 orang dalam jejaring.

Tahun 2015, saya sendirian mendirikan startup pribadi bernama Social Lab untuk purpose lain yang saya temukan. Purpose kali ini adalah mengimplementasikan social government ke pemerintah untuk mewujudkan masyarakat yang terbuka, akuntabilitas, pelayanan publik yang lebih baik, dan kolaborasi erat antara pemerintah dan warganya sama-sama membangun daerah melalui cara-cara baru berkomunikasi. Dalam waktu kurang dari 1 tahun, saya sudah bisa melayani 3 pemerintah daerah di Kalimantan Timur dan segenap warganya dengan cara menghubungkan mereka secara langsung di media sosial sehingga terbangun bond of trust.

Purpose lain yang saya miliki di Social Lab adalah membantu institusi swasta membuat keputusan yang lebih baik dan komprehensif melalui implementasi big data. Salah satu yang saya layani adalah PT. PLN Pusat dimana layanan big data yang saya sediakan membantu level manajemen membuat keputusan lebih baik dalam hal trading komoditas energi, mengelola portofolio investasi, hingga mengetahui perkembangan terbaru dalam sektor ekonomi makro dan inovasi energi. Saya boleh berbesar hati dengan mengatakan bahwa ada peran saya dalam keputusan-keputusan terbaik yang diambil oleh PLN untuk kemaslahatan orang banyak di Indonesia.

Mulai tahun ini, saya sedang bersiap untuk menjelajahi misi yang lebih besar lagi di jalan yang berbeda.

Titik balik tahun 2006 itu menempa sebuah karakter dalam diri saya: dreamer (pemimpi), builder (pembangun), learner (pembelajar), dan risk taker (pengambil risiko). Titik balik itulah yang membentuk diri saya saat ini sebagai seorang serial sociopreneur.

Hidup yang seperti ini bukanlah sesuatu yang dimulai dengan motif ekonomi atau kesejahteraan. Jelas ia bukan jalan yang tepat untuk menjadi cepat kaya atau mendapatkan kenyamanan dalam waktu singkat. Namun inilah hidup yang indah: ketika kita menjalani hidup dengan purpose yang lebih besar dari diri kita sendiri, yakni memberi kebaikan, manfaat, dan dampak bagi orang banyak -- yang semua itu kita tempuh di jalan yang kita ciptakan sendiri demi sesuatu yang kita yakini. (*)

sumber gambar: oictraining

342 Views
Ma Isa Lombu

Salut banget, mas  Oct 31, 2017

Hilman Fajrian

Terima kasih, Mas Isa.  Nov 16, 2017

Andrian Habibi

Keereeennn semangat terus pak  Aug 29, 2017

Hilman Fajrian

Siap, Mas Andrian! Terima kasih.  Nov 16, 2017

Write your answer View all answers to this question