selasar-loader

Bagaimana rasanya memakai kawat gigi (dental braces)?

LINE it!
Answered Apr 20, 2017

Ma Isa Lombu
Selasares Garis Keras

EwVv4XmKXz6Eqyc-XVKkn41EKK2ZHoTr.jpg

FYI: Saya menggunakan kawat gigi (dental braces) selama lima tahun dan retainer (penahan gigi artificial tembus pandang seperti selaput petinju) yang biasa disebut Invisalign selama dua tahun. 

Jadi total saya menggunakan kawat gigi selama tujuh (7) tahun penuh! WOW!

Waktu yang cukup lama sebenarnya untuk pengguna kawat gigi. Kawat gigi (dental braces) yang biasa dikenal di Indonesia dengan sebutan behel ini seharusnya dikenakan untuk seseorang yang memiliki permasalahan struktur gigi dan rahang pada usia pertumbuhan dan ketika fix gigi permanen sudah tumbuh (bukan gigi susu), yakni pada usia 8 - 14 tahun. Karena persoalan "hidayah", saya baru melakukan treatment ini ketika berusia 19 tahun. 

Keterlambatan memperoleh "hidayah" inilah yang membuat proses normalisasi gigi berjalan lebih lama dari biasanya.

Bayangkan, karena proses treatment yang terlambat inilah saya membutuhkan waktu satu tahun penuh untuk memindahkan satu gigi geraham. Karena prosesnya bersifat serial, treatment atas gigi lain praktis tidak dapat dilakukan sebelum satu gigi geraham ini berpindah posisi.

Ketika ditanya bagaimana rasanya, saya akan membagi pengalaman ini dalam tiga bagian:

a. Saat pertama kali ke dokter spesialis ortodonti (Orthodontist)

“Hidayah” itu baru muncul ketika gigi saya mengalami pendarahan ringan setiap kali saya memakan bahan makanan yang terbuat dari daging, apapun itu. Dirasa cukup mengganggu, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan behel sebagai solusi.

Takut dan deg-degan tentunya. Belum pernah soalnya.

Proses pertama yang harus dilakukan adalah dengan foto gigi. Foto gigi saya lakukan di Fakultas Kedokteran Gigi UI. Prosesnya tidak lama memang, tapi konsekuensi setelahnya yang membuat peristiwa itu cukup menarik untuk dikenang.

Setelah hasil foto gigi didapatkan, keputusan harus diambil. Dalam rangka untuk memberi ruang untuk gigi yang akan dibentuk nanti, diputuskan oleh sang dokter untuk mencabut empat gigi geraham saya secara paksa dengan menggunakan tang gigi. Benar, secara paksa ketika akar gigi sedang menancap kuat-kuatnya dalam geraham. 

Meski menggunakan bius, saya sempat mengalami pendarahan hebat dalam salah satu episode pencabutan gigi ini. 4 jam darah mengalir dari lubang yang digali secara paksa oleh si Orthodontist tanpa berhenti sedetikpun. Meski sudah dikompres dengan es batu dan ditunjang dengan obat.

b. Control bulanan

Momen berkesan di fase ini adalah ketika sang Orthodontist mengencangkan karet gigi yang berfungsi untuk membentuk gigi sesuai posisi yang diinginkan. Rasanya gimana? Jelas sakit dan ngilu! Untuk sebagian orang, peristiwa setelah pulang dari dokter gigi adalah momok yang tidak dapat dihindari. Untuk saya pribadi, sakitnya bertahan hingga dua sampai tiga hari. Bervariasi.

Sebagai anak kost yang biasa makan “sembarangan”, kasus lepasnya bracket (bijih yang menempel pada kawat dan gigi) dari gigi (bahkan hilang tertelan) sering menjadi kasus yang saya alami. Mungkin hal inilah yang juga berperan akan lamanya pemakaian kawat gigi yang saya alami. Konsekuensi dari bracket yang lepas dari gigi adalah proses pengaturan gigi jadi terhambat. Sedangkan hilang (tertelannya) bracket berdampak pada pengeluaran yang membengkak. Perlu diketahui, harga satu bijih besi bracket itu berharga 150 - 250 ribu. Belum lagi biaya dokter, biaya rumah sakit, dll. 

FYI: Biaya ini tidak dapat ditanggung oleh perusahaan asuransi. Klaim asuransi ditolak dan harus dibayar dengan menggunakan uang pribadi karena aktivitas ini dikategorikan sebagai aktivitas “mempercantik" diri. Pyuuh!

c. Penggunaan retainer (penahan gigi)

Kebetulan saya tidak menggunakan retainer berupa kawat gigi lepasan yang pada saat itu banyak dipakai oleh pasien dokter Orthodontist. Entah karena dokternya yang cukup progresif, saya disarankan untuk menggunakan Invisalign yang tembus pandang. Lebih trendy dan tidak tampak seperti sedang menggunakan kawat gigi, katanya.

Bagaimana rasanya? Mungkin dibandingkan pasien lain yang menggunakan retainer tradisional, saya jauh lebih beruntung karena benar-benar tidak seperti menggunakan penahan gigi. Bentuknya yang mengikuti struktur dan bentuk gigi kita serta warnanya yang transparan membuat Invisalign tidak terlihat oleh lawan bicara. Mungkin yang jadi agak repot adalah Invisalign harus dilepas ketika kita makan dan harus selalu dicuci setiap hari. Dua hal yang mungkin tidak dialami oleh pasien ang menggunakan retainer tradisional.

Overall, seru sih! :)

361 Views
Write your answer View all answers to this question
Sponsored

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia