selasar-loader

Faktor apa yang menyebabkan pasangan Ahok-Djarot kalah di Pilkada DKI Putaran 2?

LINE it!
Answered Apr 26, 2017

Ma Isa Lombu
Pemerhati Indonesia

4ZoUVgSgm2sBhzfAnm6Aa-eXAy4Ynod9.jpg

Sebenarnya pertanyaan ini "agak mudah" untuk dijawab. 

Dengan pengetahuan dan informasi yang terbatas sudah "meramalkannya" di selasar tanggal 13 Desember 2016. Ramalan saya ada di sini.

(seperti) Mengulangi kemenangan Trump di US. Saya bukan ingin bilang bahwa program Anies-Sandi kurang memiliki daya tarik, namun saya pikir menjadi valid hipotesis yang dulu pernah saya keluarkan (secara informal dalam forum-forum yang informal pula) bahwa dalam kompetisi politik (manapun dan dimanapun), trofi pemenang akan dimiliki oleh orang-orang yang sanggup mengkapitasilasi dan mengekspolitasi hal-hal yang memiliki tendensi sektarian (berhubungan dengan kelompok). Which is irrational factors, yang notabene sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan konten kampanye itu sendiri.

Anyway, secara singkat, dalam jawaban ini saya ingin kembali menganalisis faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kekalahan pasangan Ahok-Djarot dalam Pilkada DKI putaran 2 ini. 

1. Mekanisme Dua Putaran

Saya percaya bahwa Ahok dan Djarot hanya akan memenangkan kursi tertinggi pemerintahan DKI jika hanya pilkada hanya berjalan satu putaran. 

Entah karena kejeniusan SBY, blessing in disguise, atau takdir Tuhan, yang jelas dengan adanya tiga calon yang bertarung, harusnya hasil akhir bisa diprediksi sejak awal. Ahok pasti kalah!

Profil demografi Jakarta cukup menarik. Meski dikenal sebagai daerah kosmopolit dan kental akan nuansa heterogen-nya, data yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa sebanyak 83% penduduk Jakarta beragama Islam. 

Mungkin jika pertarungannya adalah head to head (satu lawan satu) antara Ahok-Djarot dan Anies-Sandi, dengan kompetisi dua pasangan dan status Ahok sebagai incumbent (petahana), jelas Ahok-Djarot akan menjadi pemenangnya karena dapat dipastikan perolehan suara pemenang akan melebihi 50% + 1. Untuk itulah strategi mengalahkan Ahok (yang entah diinisiasi oleh siapa) dengan memunculkan pasangan yang dapat memecah suara dan memberikan alternatif pilihan, menjadi sebuah keniscayaan.

Semua  orang kala itu yakin, AHY-Silvy tidak akan menang, namun alasan kebanyakan orang kala itu masih seputar “investasi SBY” untuk sang putra mahkota. Tidak banyak analis politik yang memprediksi bahwa dimunculkannya AHY-Silvy adalah strategi utama untuk mengalahakan Ahok. Mungkin hal ini adalah manifestasi dendam kesumat SBY kepada Megawati yang dibawa mati.

Dengan cerdasnya, Partai Demokrat yang memiliki positioning “Partai Nasionalis Religius” ini menajamkan strategi pemecahan suara tersebut dengan merangkul partai Islam (non-PKS) dan partai berbasis masa Islam lain seperti PPP, PAN, dan PKB. Belum lagi investasi politik SBY kepada para habaib Jakarta yang waktu itu siap untuk dipanen. Dengan strategi tersebutlah maka tidak heran suara para habaib (dan ribuan pendukungnya) dan pemilih tradisional Islam Betawi, sebagian besar memilih AHY dalam putaran pertama. 

Tidak banyak memang, hanya sekitar 17.07% suara yang mendukung AHY-Silvy di putaran pertama, tetapi jumlah suara tersebut terbukti efektif untuk menghantam Ahok-Djarot di putaran dua.

2. Faktor Irrasional dalam memilih

Anies dan Sandi memiliki setiap faktor irrational yang dibutuhkan para swing voters untuk akhirnya memilih mereka sebagai Gubernur dan Wagub dalam pilkada kali ini. Terutama untuk para masa mengambang (floating mass) DKI Jakarta yang diprediksi berjumlah 40% ini.

Seperti di jawaban saya yang lalu bahwa Anies Baswedan, sang inisiator Indonesia Mengajar adalah sosok orang memiliki reputasi baik bagi anak muda urban Jakarta yang bisa jadi sebagian besarnya merupakan kelompok dari swing voters ini. Belum lagi citranya sebagai mantan menteri, tampangnya yang cukup good looking, tokoh politik muda yang reformis dan dibela mati-matian oleh Pandji, akan semakin membuat para undecided voters kelas menengah mengarahkan pilihan padanya.

Kegalauan mereka akan semakin menjadi-jadi dengan hadirnya Sandi Uno sebagai wakil dari Anies yang pintar, tajir, saleh, dan pastinya ganteng. Dengan bekal itulah maka jelas Sandi Uno jelas memiliki comparative advantage dibandingkan paslon Ahok-Djarot. 

Mereka berdua adalah sosok ideal idaman kaum hawa, mulai dari remaja putri, mahmud (mamah-mamah muda), cabe-cabean, ataupun irrational-swing voters lain, yang seperti sudah disinggung sebelumnya, mencapai 40% dari total populasi warga Jakarta. 

Jelas, "SBY effect" akan berulang.

3. Kasus Penistaan Agama

Mungkin Ahok kala itu sudah merasa di atas angin. Mungkin ia beranggapan bahwa setiap setatement yang dikeluarkannya tidak akan mendapatkan reaksi politik yang destruktif. 

Meski sampai detik ini saya menganggap bahwa apa yang Ahok merupakan "slip of the tongue”, entah karena ia mendapatkan informasi ini dari para pembisiknya, atau berusaha mengikuti Gus Dur, yang jelas poin ini yang menjadi faktor terbesar kekalahannya.

Sebelum video “penistaan agama” di upload Buni Yani, Ahok memiliki tingkat elektabilitas yang sangat baik di Jakarta. Undefeated. Tak terkalahkan. Titik balik itu terjadi ketika Ahok "salah ngomong" di Kepulauan Seribu dan menjadi viral di mana-mana. 

Sejak saat itu, isu ini seakan tidak akan pernah mati dan terus dihidupkan mulai dari adanya aksi masa besar-besaran di ibukota, hingga disiarkannya proses persidangan penistaan agama di beberapa stasiun TV nasional.

Terus hidupnya isu tersebut membuat umat muslim di dalam alam bawah sadarnya menganggap Ahok sebagai ancaman. Dengan adanya social media, “kebencian” terhadap Ahok terus dihidupkan dan akhirnya mengakar kuat di benak para pemilih muslim yang memiliki hak pilih.

4. Iwan Bopeng dan perilaku Ahokers yang tidak simpatik

Iwan Bopeng, sosok preman yang berlagak sebagai serorang praktisi hukum menjadi viral setelah pencoblosan pertama di social media dilakukan. 

Ia, dalam video yang viral tersebut” terlihat mengintimidasi salah satu TPS di Jakarta dengan berteriak-teriak, mengintimidasi panitia pemungutan suara. Tidak hanya itu, seperti layaknya Ahok, Iwan Bopeng pun mengalami "slip of the tongue”. Entah karena emosi atau jumawa, Ia berteriak-teriak di TPS sambil menantang untuk memotong-motong tentara (TNI). 

Menjadi menarik, yang menjadi viral dan membuat isu “kearoganan tim pendukung Ahok” adalah postingan balasan dari para TNI si seluruh Indonesia yang menantang duel Iwan bopeng. Di video balasan para anggota TNI tersebut, mereka menantang Iwan Bopeng seraya menunjukan kekuatan supranatural yang dimiliki sebagian anggota TNI dengan mengiris-ngiris tangan dan leher mereka masing-masing. Menantang Iwan bopeng untuk duel satu lawan satu untuk melihat siapa yang akan terpotong-potong dalam duel tersebut. 

Video itu ternyata tidak berhenti sampai di sana. Iwan Bopeng, dengan wajah ketakutan, akhirnya membuat video klarifikasi untuk meminta maaf kepada seluruh anggota TNI yang tersinggung dan tersakiti hatinya atas pernyataan yang diungkapkan sebelumnya. Alih-alih membuat masyarakat lupa dan “adem” atas video permintaan maaf tersebut, sebagian netizen malah mengcompile seluruh peristiwa tersebut dalam sebuah video kompilasi “arogansi Ahokers” dari mulai Iwan Bopeng yang mengintimidasi, video balasan dari anggota TNI hingga video klarifikasi Iwan Bopeng dengan wajah kecutnya.

Tidak disangka, video kompilasi tersebut semakin viral dan semakin membuat pendukung Ahok dicap sebagai pihak antagonis yagn “haram” untuk didukung. Belum lagi kasus kasus lain seperti penghinaan yang dilakukan oleh sejumlah artis ibukota kepada ulama.

Perlu diketahui bahwa floating mass yang ingin digarap kedua belah pihak adalah masa dari AHY-Silvy. Harusnya perilaku dua pasang yang tersisa adalah mengambil hati para pendukung AHY-Silvy yang disesuaikan dengan profil demografinya. Alih-alih  mendapatkan simpati para pendukung AHY-Silvy, perilaku Ahokers justru malah membuat mereka makin antipati. Mungkin bukan kepada Ahok secara personal, tetapi kepada para pendukungnya yang sudah melampaui batas.

5. Kehadiran Zakir Naik

Entah disengaja atau tidak, kemunculan dr. Zakir Naik di Indonesia pada saat pilkada DKI Jakarta ini membuat umat Islam semakin dikuatkan akan esensi surat Al Maidah 51 yang diributkan tersebut. 

Memang ceramah dr. Zakir Naik tidak dilakukan di Jakarta, namun dengan perkembangan teknologi informasi yang deras seperti ini, setiap orang bisa mengakses isi ceramah Zakir Naik secara lengkap. 

Statement bahwa tidak boleh memilih pemimpin muslim dari seorang Zakir Naik jelas mempengaruhi para swing voters yang masih kebingungan akan preferensi politiknya dan makin membuat para pemilih non-Ahok terkuatkan juga mendapatkan legitimasi politik-religius dari seorang ulama yang memiliki kredibilitas sebagai seorang kristolog internasional tersebut.

6. Bagi-bagi sembako di masa tenang

Entah karena panik atau karena faktor lainnya, sebagaian pendukung Ahok melakukan blunder yang sangat signifikan di masa tenang yang pada akhirnya membuat sebagian masyarakat Jakarta menganggap bahwa Ahok memang pantas berada di sisi antagonis dalam drama politik ini.

Masyarakat Jakarta (sepertinya) sudah cukup cerdas untuk bisa membedakan mana manuver politik yang dapat dikategorisasikan sebagai ‘money politics” dan mana yang bukan. Pembagian puluhan sapi di Kepulauan Seribu dan sembako di Jakarta Selatan membuat "dakwah politik" pendukung Ahok-Djarot gagal total dan bahkan mendapatkan persepsi buruk dari para swing voters.

***

Kurang lebih terdapat enam alasan versi saya mengapa pasangan Ahok-Djarot kalah dalam Pilkada DKI Jakarta ini. 

Meskipun rilis resmi perhitungan suara KPUD DKI Jakarta belum dikeluarkan, tetapi dapat kita lihat bahwa hasil quick count dari beberapa lembaga survey hanya menempatkan presentasi pendukung Ahok-Djarot berada dalam range 40%-43%. Sebuah capaian yang tidak jauh berbeda dengan perolehan suara Ahok-Djarot di putaran pertama yang berada di angka 42.99%.

Valid untuk dapat menyimpulkan, dakwah politik tim Ahok-Djarot telah gagal total.

Evaluasi politik yang menarik untuk kita bersama...

816 Views
Write your answer View all answers to this question
Sponsored

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia