selasar-loader

Bang Fahri, mengapa Indonesia tertipu dengan tokoh sederhana tetapi lemah secara kepemimpinan?

LINE it!
Answered Aug 23, 2017

Fahri Hamzah
Wakil Ketua DPR RI

NfdjIGMs5hlXuXqHHl2G7i-4_v_iR32s.jpg

Lagi-lagi ini adalah tantangan kita secara dialektika untuk mengeksplor apa arti leadership, di mana letak kesederhanaan, dan apa arti kesederhanaan. Ini adalah konsep-konsep dasar yang kadang-kadang sering digunakan secara simbolik sehingga kemudian banyak orang yang, seperti kata Saudara Heri, tertipu. Oleh karena itulah, kemudian dialektika harus dikembangkan supaya kita bisa menemukan atau memahami konsepnya secara lebih real.

Yang kedua, sistemnya kita perbaiki. Saya berkali-kali menantang supaya penantang Presiden itu harus tampil lebih agresif untuk menjadi/menjawab antitesa dari pikiran-pikiran Presiden. Jangan diam-diam, begitu lho. Sebab yang diam-diam ini membuat masyarakat "jadi beli kucing dalam karung". Kadang-kadang masyarakat kita itu lebih suka orang yang tidak ngomong, lebih suka orang yang “bersembunyi” dalam kesederhanaannya karena dia takut terbuka bahwa kesederhanaan itu artinya kebodohan, ketidakmampuan, dan undercapacity.

Sementara itu, orang yang banyak bicara itu dianggap glamor, padahal dalam glamornya itu, dia menyimpan potensi yang kuat. Kemampuannya, kapasitasnya, keilmuannya, leadership-nya, dll.

Jadi, intinya adalah mari kita fasilitasi keterbukaan, dialektika, dialog, dan perdebatan bahkan tentang konsepsi-konsepsi dan hal-hal yang tidak mudah dipahami.

Tonton jawaban lengkap saya di video berikut ini,

Foto via merdeka.com

240 Views
Write your answer View all answers to this question