selasar-loader

Peristiwa apa yang menjadi titik balik kehidupan Anda, sehingga menjadi Anda yang sekarang ini?

LINE it!
Answered Aug 22, 2017

Sayembara Selasar Babak Final

Untuk tahap selanjutnya, Anda diminta untuk menjawab 2 pertanyaan berikut:

1. “Apa alasan Anda menggunakan Platform Selasar?” 

Jawab pertanyaan no 1 dalam bentuk video. Durasi 1-2 menit, kirim video tersebut ke email halo@selasar.com

2. Peristiwa apa yang menjadi titik balik kehidupan Anda, sehingga menjadi Anda yang sekarang ini?

Vivat Selasares!


El Hakim Law
Founder Lingkar Studi Islam & Kepemimpinan (@larsik.id)

"Sebaik - baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain." 

~ Pesan abadi dari lebih dari satu milenia lampau kepada seluruh jiwa insaniah

 

Titik Balik (demi titik balik)

Dahulu, saya termasuk manusia yang sangat bersemangat dan antusias dalam menjalani sesuatu terlebih bila berbicara tentang organisasi. Totalitas seakan menjadi hal yang tak terpisah dalam performa saya. Hal ini saya rasakan banyak ketika masih duduk di bangku SMA, mengingat almamater itu juga rutin dalam menyajikan program yang menuntut siswanya menjadi "aktifis" mulai dari kegiatan pengaderan siswa baru hingga pengaderan calon OSIS-MPK. Nampaknya, masuk SMA Negeri 5 Surabaya merupakan salah satu turning point terbaik saya mengingat prestasi akademik saya ketika di SD maupun SMP cenderung biasa bahkan dibawah rata - rata.

Hingga kemudian datanglah decision making moment ketika saya kelas 12 SMA. Saya yang termasuk dalam kelas khusus, karena satu kelas hanya 11 siswa, mendapat grojokan rezeki dari langit yakni melimpahnya jalur undangan (sekarang SNMPTN) hingga kami sekelas tak perlu merisaukan kemana kami akan kuliah sebagaimana kelas sebelah. Kelas IPS SMA ini begitu terhormat karena setiap siswanya hampir sudah diterima kuliah sebelum UNAS.

Salah satu hal yang paling saya ingat dan mungkin adalah turning point saya adalah ketika saya lebih memilih kuliah di Universitas Airlangga dibandingkan dengan Universitas Brawijaya atau bahkan Universitas Indonesia. Ya, saya dahulu pernah diterima (tinggal daftar ulang) di Ilmu Politik UB dan mendapat jatah jalur undangan ke UI. Namun entah kenapa (mungkin karena pertimbangan latar belakang sarjana ayah saya) saya lebih memilih Unair. Hal yang menarik adalah jatah undangan UI saya, karena saya masuk dalam peringat 5 besar kelas (dari 11 siswa, haha) saya berikan kepada salah satu kawan sekelas saya yang lebih membutuhkan (dan kemudian memang dia diterima kuliah di Kriminologi UI).

Masuk ke Unair merupakan salah satu momen yang harus saya syukuri karena ternyata saya kembali merasakan turning point yang mungkin benar - benar membalik benak saya atas diri saya sendiri.

ZBfJURU5_04SUsyAbCVR2tuQ-ETYOlIu.jpg

Menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa, menjadi representasi mahasiswa Unair ketika 2013. Ya, inilah turning point saya. Bukan karena terpilih menjadi mahasiswa no-1 ex officio namun pada bagaimana cara Allaah untuk menyadarkan hakikat dan tugas saya sebagai manusia. Khalifah fil Ardh wa Rahmatan lil 'Alamin, Pemimpin di bumi dan rahmat bagi alam semesta.

Sebagai mahasiswa yang sebelumnya lebih tertarik pada dunia kompetisi seperti lomba debat hukum, karya tulis hingga mawapres yang kemudian dipercaya menjadi pemegang organisasi intra kampus, menuntut paradigm shift yang cukup drastis dalam diri saya.

Dari seorang yang awalnya mementingkan personal interest dan competition based mindset menuju comunal interest dan collaborative based mindset bukan main susahnya. Namun semangat dan bantuan Allaah melalui nakama saya di BEM Unair baik para staf, jajaran menteri khususnya Wakil Ketua, Agus Shodikin menjadikan akselerasi paradigm shift saya sangat cepat. Program demi program yang tidak hanya kami tujukan sebagai pemanis LPJ namun benar - benar untuk menjawab kebutuhan konstituen kami, mahasiswa dan investor kami, rakyat Indonesia. Kontribusi saya melalui organisasi ini benar - benar dituntut seoptimal mungkin melalui kerja advokasi dan mediasi antar stakeholders khususnya mahasiswa yang membutuhkan. Dinamika konflik kepentingan dan golongan serta infiltrasi organ ekstra juga menjadi sarana pendewasaan kami di BEM Unair khususnya saya bahwa dunia ini tidak sesederhana membedakan hitam dengan putih. Memimpin organisasi ini adalah salah satu pengalaman dan kesempatan termahal dari Allaah untuk saya dalam menguji kedewasaan dan kemampuan berkontribusi pada sesama.

Hingga setahun berlalu, mungkin saya bukan Ketua BEM terbaik yang dimiliki Kampus terbaik di timur Indonesia. Namun melalui proses itulah mata dan hati saya benar - benar dibuka bahwa betapa beruntungnya saya menjadi manusia dan masih diberi kesempatan untuk berproses tumbuh kembang. Dan beruntungnya lagi Allaah mengutus para sahabat yang terbaik dan pas untuk membantu saya dalam menjalankan amanah di BEM KM untuk mewujudkan visi dan misi menjadi realita dan manfaat.

Ya, mungkin itulah turning point dalam hidup saya yang remarkable dan masih menjadi base point saya dalam mengambil keputusan.

Mungkin saya tidak akan mendapat kesempatan dan pelajaran yang sama seandainya saya memilih UB atau UI namun inilah rasa sayang Allaah kepada saya untuk mengingatkan hakikat hidup saya di dunia.

Komitmen (dalam meningkatkan kapasitas & kompetensi), Kolaborasi dan Kontribusi.

r0MyB5vO3xn-RQbj0iKIIXCyukMD4f-d.jpg

Tiga hal inilah yang saya dapatkan selama berproses untuk mengoptimalkan peran dan tugas saya sebagai manusia "Pemimpin di dunia dan rahmat alam semesta".

Pun selama di almamater Airlangga, saya pun melahirkan ide bahwa pada hakikatnya kebanggaan seseorang tidak boleh berhenti hanya ketika ia dinyatakan diterima di kampus tertentu. Itu masih level satu.

Level berikutnya dalam berproses di kampus adalah ketika ia mampu menjaga nama baik sekolahnya dengan prestasi individu sebut saja IPK.

Level ketiga ketika dia mampu berkontribusi untuk orang lain dalam bentuk apapun, melampaui prestasi individual. Dan level terakhirnya,

Menyelesaikan apa yang ia mulai dengan khusnul khatimah, wisuda.

NcUWLbccl_bqBhlzUjtG28kOigSs5iMx.jpg

Hal itulah yang juga saya coba terapkan dalam kehidupan pasca kampus bahwa hidup tidak melulu berhasil mencapai ini dan itu, foto sana foto disitu, kerja bergaji sekian atau segitu. Tri dharma perguruan tinggi menuntut saya tidak hanya cerdas dalam "mencari" pekerjaan melalui pendidikan dan kemampuan penelitian tetapi harus menelurkan dharma bakti pengabdian masyarakat sebagai klimaksnya. Keidupan manusia sebagaimana hakikatnya sebagai khalifah fil ardh wa rahmatan lil 'alamin melampaui prestasi diri yakni berkontribusi kepada yang lain baik makhluk hidup atau "benda mati".

Dan hingga saat ini, saya masih lebih memilih jalur "sulit" dari bawah memberdayakan sesama khususnya pemuda di kampung melalui karang taruna sembari melatih kemampuan wicara massa sebagai bentuk direct contribution saya dibanding menjawab panggilan wawancara senilai belasan juta perbulan (yang sebenarnya bisa menjadi indirect contribution melalui donasi).

Bukan karena sudah punya banyak duit, namun sebagai bentuk "rasa syukur" saya kepada Allaah melalui proses mahal dari titik balik demi titik balik dalam . Harus ada yang turun berpeluh bersama rakyat dan berdasarkan pengetahuan serta pengalaman saya, dibandingkan sekedar memberi sumbangan atau sekedar share-like belaka, kali ini saya harus berdiri bersama mereka bersama rakyat saya. Menjadi manfaat langsung bagi sesama, meski bergerak dibawah selimut rahasia.

Ya, karena saya hanya hidup sekali, maka hidup saya harus berarti dengan prestasi dan kontribusi.

 

Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi RabbNya, 

hingga dia ditanya tentang lima perkara : 

tentang umurnya untuk apa ia habiskan

tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan

tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan, serta 

apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.

~Sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam at Tirmidzi

 

Semoga Allaah mudahkan langkah Saya dan Anda untuk terus berprestasi - berkontribusi, walau sekedar bersitan didalam hati. Tidak ada kata terlambat, sebelum datang tamu bernama mati.

229 Views
Write your answer View all answers to this question