selasar-loader

Apa pendapat Anda tentang bullying?

LINE it!
Answered Aug 21, 2017

Tyasti Aryandini
Pendidik AUD. Juara III Guru TK Berprestasi Tangsel 2016. Mahasiswi FIP UMJ

qkUCt0VAhdztc8hHorpgl0XnPJhEm_v0.jpg

Via, seorang siswi kelas 4 SD di Jakarta, tengah mengantri jajan bakso di kantin sekolahnya. Tiba-tiba sekelompok siswi senior kelas 6 yang sudah mengincar Via sejak awal datang ke kantin sekolah dengan sengaja menyenggol semangkuk bakso panas yang baru saja didapat Via hingga tumpah ke sekujur tubuhnya. Via berteriak dan menangis, tapi apa yang terjadi? Sekelompok siswi senior itu malah tertawa puas sedangkan teman-teman sekolah Via lainnya dan para penjaja makanan di kantin hanya bisa melongo dan menonton kejadian itu. Mereka kemudian bergegas menolong setelah Via berteriak karena badannya melepuh terkena kuah bakso panas.

Penyebabnya kejadian tersebut ternyata sepele, Via dianggap tidak tahu aturan oleh para senior jika makan di kantin, yaitu para junior tidak boleh mendahului antrian dalam setiap jajanan. Dalam menghadapi masalah aturan dari senior ini, Via tidak bisa bertindak karena setiap aduannya ke pihak sekolah malah akan menjadi ancaman baru bagi hidupnya setiap hari di sekolah. Akhirnya Via trauma dan mengadukannya ke orangtuanya hingga Via pun dipindahkan oleh orangtuanya ke sekolah lain. Tapi bagaimana nasib Via kemudian di sekolah barunya atau siswa lain yang diperlakukan kasar oleh senior? Apakah mereka akan terhindar dari kejadian serupa?

Lain halnya dengan kasus anak RK, anak lak-laki siswa  kelas V di sekolah dasar negeri di bilangan Jakarta Timur ini akhirnya meninggal dunia setelah tewas dianiaya oleh kakak kelasnya. Apa pasal? Pelaku yang tidak lain adalah kakak kelas dari korban, tidak terima ketika Riki tidak sengaja menyenggol dan menjatuhkan pisang goreng cokelat (Piscok), milik pelaku di tangga sekolah. Saat itu, RK yang hendak masuk kelas, tidak sengaja menabrak Si Kakak kelas yang sedang duduk di tangga sekolah sambil menikmati piscok.

Tidak hanya memarahi dan meminta RK minta maaf, tetapi Si Kakak kelas pun meminta RK menggantikan piscoknya seharga Rp1.000,-. Sayangnya, emosi Si Kakak kelas malah semakin menjadi setelah RK menuruti semua keinginan dari Si Kakak kelas. RK masih dimarahi sambil dipukuli berulang pada bagian perut dan punggungnya, akibat pemukulan tersebut RK mengalami kejang hingga akhirnya meninggal dunia. Sungguh ironis.

Satu tahun terakhir  ini, Saya diberikan kesempatan mengajar di tingkat pendidikan anak usia dini, kini, perhatian saya tertuju pada seorang anak yang tidak biasa, Reni seorang anak perempuan TK  yang belum genap berusia 6 tahun, Reni termasuk anak yang memiliki kecerdasan kognitif yang baik. Ketika guru bercerita di kelas misalnya tentang tata surya, Reni dengan senangnya menanggapi cerita guru bahwa tata surya itu terdiri atas matahari dan planet-planet yang memutarinya dengan pengetahuan awal yang pernah didapatnya. Demikian juga pada tema yang lain, dapat dikatakan Reni memiliki kemampuan kognitif diatas anak-anak lain di kelas.

Namun, pernah suatu kali saat peringatan hari Bumi berlangsung di sekolah Reni didapati oleh guru sedang mencabuti tanaman teman-temannya setelah  susah payah ditanam dan sekarang sudah tumbuh. Apa pasal? Setelah ditanya mengapa Reni melakukan hal itu, ia mengatakan dengan kesal, “Lagian sih…, yang lain pada tumbuh, punyaku belum”.

Lain waktu, Reni mengunci teman laki-lakinya di kamar mandi dari luar. Reni mengatakan bahwa perbuatan itu dilakukannya karena iseng, Reni juga pernah meminta teman-temannya membawa botol air minum ke sekolah yang sama dengan tokoh kartun yang sama, karena jika tidak maka teman-temannya itu tidak akan ditemaninya. Bukan hanya itu, Reni juga sering meminta makanan atau mainan temannya dan jika tidak diberikan Reni mengancam tidak akan berteman lagi.

 Sofi, seorang anak perempuan bertubuh tambun, bahwa dibuatnya ketakutan dan menangis sesenggukan setiap hendak pergi ke sekolah. Setelah guru menindaklanjuti ternyata Reni senang sekali memelototi Sofi terutama saat bermain di taman bermain. Reni menghasut teman-teman yang lainnya agar tidak mau berteman dengan Sofi, kata Reni pada teman-temannya “masih KB sih gendut, kebanyakan makan kali.” Perilaku Reni diamati oleh guru dan Reni mengatakan ia tidak menyukai jika Sofi karena memakai pakaian yang menurutnya menarik dan ia tidak ia memiliki. Selain itu masih ada beberapa kejadian lain yang dilakukan Reni yang menjadi catatan khusus bagi guru di sekolah. 

Ulah Reni, selalu menjadi catatan guru-guru di sekolah sehingga seringkali guru memanggil dan menasehatinya. Tidak hanya itu, guru di sekolah juga beberapa kali menjadikan kasus yang dilakukan Reni sebagai contoh cerita yang menarik saat kegiatan sandiwara boneka, cerita bergambar, namun tanpa sedikitkpun menyebutkan nama Reni sebagai pemeran Utama. Semua itu dilakukan dengan tujuan agar Reni mau mengubah perilakunya. Reni sering  menyadari bahwa cerita yang sedang dimainkan gurunya, mirip dengan perilakunya. Di tengah-tengah cerita Ia sering mengangkat tangan dan berbicara “kalau aku kan nggak begitu Bunda.” Guru-guru di sekolah sampai kehabisan cara bagaimana mengubah perilaku Reni terhadap teman-temannya.

Pernah pada hari Ulang Tahunnya, saya mencoba memberinya hadiah istimewa. Sebelumnya Saya tidak pernah memberi hadiah pada murid-murid saya karena saya khawatir murid lain akan menganggap saya guru yang pilih kasih. Akan tetapi dalam momen ulang tahun ini, saya memberinya hadiah sebuah buku cerita bergambar yang judulnya adalah “Aku senang berbuat baik” tetapi saya memberikan buku tersebut melalui teman sekelasnya.

Saya tahu, Reni, dari ceritanya sendiri, jarang sekali dibacakan buku cerita oleh kedua orangtuanya bahkan Bundanya di rumah juga jarang membelikan buku cerita untuknya. Setelah beberapa waktu, saya bertanya padanya, “Gimana, bukunya sudah dibaca belum?” Reni menjawab “sudah bun, dibacain sama Bunda ku,” dia melanjutkan “Bunda tau nggak ceritanya?.” Saya mengatakan tentu saya tahu ceritanya, begini kan lalu saya menjelaskan apa yang saya tahu dari buku cerita tersebut. Ternyata Reni tetap melihat bahwa hadiah tersebut dari saya sebagai gurunya, bukan hadiah ulang tahun dari temannya. Dia terkejut, lantas tiba-tiba dia melotot dan melihat saya dengan kesal “Koq, bunda tahu sih ceritanya, itu buku bekas Bunda ya?”

Masya Allah, dalam hati saya sedih, bisa-bisanya dia bilang itu buku bekas. Padahal saya beli baru dan saat membelipun saya ditemani oleh rekan se-profesi saya yang menunjukkan tempat dimana Ia membeli buku yang sama untuk anak saya. Tapi yang membuat saya lebih sedih lagi adalah saat Ia punya prasangka bahwa itu buku bekas. Anak sekecil itu seharusnya biasanya tidak punya prasangka buruk jika diberi hadiah istimewa. Saya jadi ingat apa yang dilakukannya itu tidak lain adalah meniru dari lingkungannya. Sebagai anak ke 2, Reni sering bercerita kalau Ia sering diberikan barang bekas kakaknya dan kakaknya dengan nada yang angkuh mengatakan kalau itu barang bekasnya. Hal itu sering membuat Reni merasa sedih.

Lain waktu, Reni senang sekali mengatur dan mengomentari pakaian Ibu guru di sekolah.  Ia senang mengatakan “iih, bunda koq bajunya kepanjangan sih!?” atau “Idih Bunda, koq warna baju nya itu sih!?” dan lain-lain. Kali ini ibu guru yang di sekolah sudah mulai jadi korban yang diaturnya.

Suatu hari, guru-guru di sekolah sangat prihatin melihat perilaku Reni. Para guru seperti kehabisan akal memikirkan cara memperbaiki sikap Reni.  Tiba-tiba terjadi masalah, Reni mendorong Kiki, seorang temannya, dari atas perosotan hingga jatuh tersungkur dan meninggalkan bekas luka lebam di pipi kirinya. Hal itu dilakukannya saat guru pengawas taman bermain tengah mengantar anak lain buang air kecil ke kamar mandi.

Tidak hanya mendorong, ternyata Reni mengancam temannya itu “Awas ya, kalau bilang sama Bunda, aku nggak mau lagi main sama kamu”, Guru-guru di sekolah tidak tahu, dan mengira luka lebam di pipi Kiki karena dia terjatuh di dekat rumahnya. Kiki sepanjang hari itu diam tanpa ekspresi, ketika gurunya bertanya Kiki hanya mengangguk saja.  Hingga orang tua si korbanlah yang bercerita kepada guru di sekolah tentang kejadian yang menimpa putri nya.

Masya Allah…kita harus bagaimana lagi nih” suatu hari saya mengeluh pada teman-teman sesama guru karena sudah tidak tahu cara yang tepat yang harus dilakukan untuk mengubah perilaku Reni. Apalagi kini ada korban yang sampai mengalami luka fisik, tentu kami merasa sangat bertanggung jawab akan hal ini. Hingga sekolah mengadakan rapat darurat hingga merumuskan sejumlah solusi yang harus dilakukan.

Solusi utama adalah memanggil kedua orang tuanya, ini sudah kali kesekian orang tua Reni dipanggil dan sejauh ini selalu kooperatif. Meski demikian apapun yang disampaikan oleh pihak sekolah selalu dikatakan oleh orangtuanya “kalau di rumah tidak begitu kok Bunda”. Ternyata ucapan itu, sama persis dengan yang dikatakan oleh Reni ketika gurunya sedang menyampaikan cerita, “kalau aku nggak begitu Bunda.”

Kali ini pihak sekolah meminta orangtua Reni agar membawanya ke ahli terapi. Awalnya mereka menolak karena beranggapan yang lebih penting untuk dibawa ke ahli terapi adalah kakaknya. Namun akhirnya, Reni pun dibawa ke ahli terapi dan kami pun diberi sejumlah solusi oleh ahli tersebut tentang apa yang harus dilakukan oleh kami sebagai guru. Syukur Alhamdulillah, sedikit-sedikit perilaku Reni menjadi lebih baik, meskipun sifat dominan dan mengaturnya masih terlihat meski frekuensinya sudah sedikit sekali dibandingkan dengan yang dilakukan sebelumnya.

Kisa diatas adalah segelintir kisah dari kasus bullying di sekolah yang kini sudah banyak terkespos di berbagai media massa maupun sosial media. Kasus Bullying tidak hanya terjadi pada level sekolah menengah dan menengah atas saja, sebagaimana dulu saat kegiatan bully dengan kedok perpeloncoan siswa atau mahasiswa baru dilakukan oleh para senior. Kini trend nya adalah turun ke tingkat sekolah dasar, bahkan lebih parahnya lagi pada pendidikan anak usia dini. Awalnya saya tidak percaya bahwa kasus bullying bisa terjadi pada anak usia dini, anak-anak yang seharusnya sedang berada dalam fase sensitifnya. Semestinya pada usia dini anak sedang berada dalam suatu periode dimana suatu fungsi tertentu perlu dirangsang, diarahkan sehingga tidak terhambat perkembangannya[1].

 Maria Montessori juga menyatakan bahwa masa sensitif anak pada usia ini mencakup sensitif terhadap keteraturan lingkungan, mengeksplorasi lingkungan dengan lidah dan tangan, sensitif untuk berjalan, sensitif terhadap obyek-obyek kecil dan detail, serta terhadap aspek-aspek sosial kehidupan (sumbernya?). Lantas bagaimana seorang anak yang seharusnya masih dalam tahap sensitif, tahap belajar dan masih perlu banyak dikembangkan serta diberikan stimulan yang tepat dalam berbagai aspek kognitif, motorik, bahasa dan sosial-emosionalnya ini bisa tumbuh menjadi seorang pelaku bully?

Apa yang dilakukan oleh Reni ini pada awalnya dikategorikan sebagai kasus kenakalan anak. Tetapi setelah mencermati dari kasus yang berulang, seorang pakar yang berkonsentrasi menangani praktek bullying, menyimpulkan, bullying pada anak-anak itu mencakup penjelasan antara lain: a) upaya melancarkan permusuhan atau penyerangan terhadap korban, b) korban adalah pihak yang dianggap lemah atau tak berdaya oleh pelaku, dan c) menimbulkan efek buruk bagi fisik atau jiwanya[2].

Maka apa yang dilakukan oleh Reni adalah bullying. Sebagaimana hasil penelitian Olweus bahwa  pelaku Bullying memiliki ciri-ciri diantaranya: suka mendominasi anak lain, suka memanfaatkan anak lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan, sulit melihat situasi dari titik pandang anak lain, hanya peduli pada keinginan dan kesenangannya sendiri, dan tak mau peduli dengan  perasaan anak lain. Selain itu, ciri bully adalah cenderung melukai anak lain ketika orangtua atau orang dewasa lainnya tidak ada di sekitar mereka dan memandang saudara-saudara atau rekan-rekan yang lebih lemah sebagai sasaran (sumber?).

Pihak sekolah kemudian mencermati kasus demi kasus yang dilakukan Reni. Mengumpulkan bukti dan fakta terkait perilaku yang dilakukan Reni sambil terus optimis dan berpikiran positif bahwa apa yang dilakukan Reni masih dapat diperbaiki disebabkan usianya yang masih dini. Orangtua Reni juga cukup kooperatif dan mau mengikuti setiap saran yang diberikan oleh pihak sekolah, seperti dengan membawa Reni untuk terapi dan  bersama-sama ikut mencari tahu sebab perilakunya.

Ternyata apa yang dilakukan oleh Reni kepada teman-temannya di sekolah adalah buah imitasi dari apa yang didapatkannya di rumah. Reni memiliki seorang kakak laki-laki yang perilakunya amat dominan sehingga sering menindas sebagai adiknya. Kedua orangtuanya sudah lama menghadapi kesulitan dalam mendisiplinkan si Kakak. Sehingga pola asuh yang diterapkan cenderung otoriter dan dominan. Inilah yang kemudian di imitasi oleh Reni.

Imitasi memang merupakan salah satu periode yang harus dilalui oleh seorang anak. Melalui imitasi terhadap aksi orang lain maupun persepsi terhadap rangsang yang diterima dari lingkungannya, Reni, yang berusia 5 tahun, masih berada pada tahap perkembangan mudah sekali meniru apa yang dia lihat dan menjadikan lingkungan sebagai model kehidupan. Mulai dari ucapan dan perbuatan dari apa yang didapatkannya di lingkungan tempat tinggalnya.

Sekolah sejatinya adalah rumah kedua bagi anak, orang tua menitipkan anak-anak mereka ke sekolah dengan harapan anak-anak mereka mendapatkan perlindungan, rasa nyaman dan juga rasa aman. Namun kejadian Bullying menjadi pelajaran berharga bagi pihak sekolah, betapa pihak sekolah seharusnya senantiasa memberikan pengawasan ekstra dalam setiap jam sekolah. Bahkan jam istirahat di kantin, karena di waktu-waktu inilah para pelaku Bully seringkali memanfaatkan kelengahan pengawasan guru atau petugas keamanan sekolah untuk melakukan aksinya.

Lantas apasaja yang bisa dilakukan, terutama untuk membantu korban dan juga pelaku pada kasus bullying anak usia dini?

Pada pihak sekolah, perlu adanya budaya sekolah yang sehat diantaranya dengan menanamkan empati dan teladan yang baik dari setiap warga sekolah, guru, murid, staf dan semua warga sekolah. Bila kasus bullying sudah terjadi, maka segera melakukan komunikasi dan menggali informasi dengan fakta dan data. Selain itu dengan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang menyebabkan terjadinya tindakan bullying di lingkungan sekolah, aktifkan semua komponen secara proporsional sesuai perannya dalam menanggulangi perilaku bullying, menyusun  program aksi penanggulangan bullying berdasarkan analisis menyeluruh dan melakukan evaluasi dan pemantauan secara periodik dan berkelanjutan. Dalam hal ini sekolah dapat bekerjasama dengan orang tua, pusat terapi, atau konsultasi ahli psikologi sebagaimana yang dilakukan oleh kasus Reni diatas. Dari kajian para ahli, jika korban bullying itu dibiarkan atau tidak mendapatkan penanganan, mereka akan depresi, mengalami penurunan harga diri, menjadi pemalu, penakut, prestasinya jeblok, mengisolasi diri, atau ada yang mau mencoba bunuh diri karena tidak tahan[3].

Lalu, bagaimana cara membantu korban atau melindungi siswa yang lain dari bully?

Untuk membantu si korban, Coloroso menyarankan: (1) Yakinkan  bahwa kita akan berada di sisinya dalam mengatasi masalah ini. (2) Ajari si anak untuk menjadi orang baik namun juga tidak takut melawan kesombongan. (3) Galilah inisiatif dari si anak tentang cara-cara yang bisa ditempuh.Ini untuk menumbuhkan kepercayaan diri si anak atau ajukan beberapa usulan. (4) Rancanglah pertemuan dengan pihak sekolah. Dan (5) Jangan lupa membawa penjelasan yang faktual dan detail. Misalnya bukti fisik, harinya, prosesnya, nama anak-anaknya, tempat kejadiannya, dan lain-lain. Kalau bisa, cari juga dukungan dari wali murid lain yang anaknya kerap menjadi korban (sumber?).

Adapun bagi siswa lain yang berpotensi menjadi korban Bully, orang tua dan guru bisa bekerjasama untuk melatih anak-anak untuk menyelesaikan masalah sendiri. Kemampuan anak dalam hal menyelesaikan masalah juga perlu diperhatikan. Anak yang tidak pemalu dan tidak penakut, tidak menjamin dirinya tidak akan menjadi korban bully karena pelaku cenderung akan mencari korban yang lemah dan tidak mau melawan. Itulah sebabnya, penting juga diperhatikan untuk melatih kemampuan anak dalam memecahkan masalah. Anak perlu diberi kesempatan untuk mengatasi masalahnya sendiri sehingga ia dapat belajar untuk menghadapi konsekuensi dari setiap masalah yang dihadapinya (ada sumbernya kah?).

Selain hal-hal diatas, orangtua dan guru di sekolah bisa membuat sebuah gerakan stop bullying yang dilakukan oleh anak-anak sendiri. Mereka dapat saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran, akan tetapi, hal yang pertama harus dilakukan oleh orangtua murid dan guru di sekolah adalah melakukan introspeksi diri dalam pola asuh dan pola ajarnya. Hal ini merupakan hal yang paling utama dalam upaya pencegahan bullying.

Adapun langkah pertama yang dapat dilakukan orangutan untuk mencegah terjadinya Bullying adalah adanya pendekatan emosional antara orang tua dan anak. Selain itu, banyak meminta maaf ketika berbuat salah kepada anak dan menggunakan alternatif hukuman bagi anak dengan tidak melibatkan kekerasan fisik (ada sumbernya kah?).

Untuk para guru. Guru yang baik akan melakukan langkah-langkah berikut untuk membuat siswa terhindar dari tindakan kekerasan: (1) Menjaga dan memperhatikan siswa dengan baik, selama ataupun di luar jam mengajar. Selain bertugas mengajar pada saat jam belajar, guru   harus bisa melihat anak didiknya dengan baik dan tahu apa yang mereka lakukan. (2) Menegur secara langsung anak yang melakukan kekerasan/penindasan. Jika guru melihat anak didiknya melakukan kekerasan, secepatnya memanggil anak tersebut untuk dinasehati atau diberikan hukuman yang tepat. (3) Melakukan pendekatan dengan orang tua murid. Guru juga bisa melakukan pendekatan terhadap orang tua murid untuk mengatasi masalah bullying karena orang tua dan guru harus bisa bekerjasama.

Adapun pihak sekolah sebaiknya dapat mengatasi bullying ini dengan tepat agar siswa tidak merasa takut pada saat mereka berada di sekolah. Pihak sekolah bisa melakukan hal berikut ini untuk mengatasi bullying di sekolah. (1) Mengadakan program penyuluhan anti bullying di sekolah. Pihak sekolah bisa mengadakan program penyuluhan stop bullying di sekolah sebagai bentuk pencegahan permasalahan ini di sekolah. Dengan mengadakan penyuluhan ini akan membuat para siswa tahu, jika dampak dari bullying ini sangat besar. Salah satu dampaknya adalah membuat siswa merasa trauma pada saat sekolah dan akan membuat pelaku bullying bersifat kasar saat meranjak dewasa. (2) Membuat peraturan dan tata tertib yang ketat. Selain melakukan penyuluhan, pihak sekolah juga bisa membuat peraturan yang ketat untuk seluruh peserta didik.

Insya llah dengan penanaman nilai agama yang menyenangkan, dalam diri anak akan tumbuh sikap dan sifat mulia.  Jika orang tua dan guru selalu menghadirkan Allah SWT dalam diri anak, maka anak akan selalu merasakan pengawasan Allah SWT dalam setiap tindak tanduknya. Dengan demikian, bully dapat dicegah.

 

 

*Tulisan ini dimuat dalam buku  "Berbagi Pengalaman dengan Guru PAUD, Belajar Mendidik Anak Usia Dini" Diterbitkan hasil kerjasama KB-TK Hamzah dengan Fakultas Psikologi UHAMKA. Tahun 2015.

3W0GgJrqJ2x3Cnbwm80EOdd0fSQS7IkB.png

DXV1mh1PBr98cDSa3HGYj9Qdex8vhSTd.png

*In Memoriam adik sepupu tercinta Almarhum Rahardian Rasya Wisnu Wardhana, wafat Sabtu, 6 Agustus 2017, Korban Bullying.

http://www.suratkabar.id/47303/news/siswa-kelas-5-sd-tewas-diduga-dianiaya-teman-kesaksian-sang-ibu-menyayat-hati

#ISTANDAGAINSTBULLYING

Ilustrasi via littlrockfamily.com


[1] Montesorri dalam Hurlock
[2] Preventing Bullying, Kidscape, UK, 2001
[3] Stop Bullying, Kidscape: 2005

559 Views
Randi Darmawan

Setuju banget sama tulisan ini....   Aug 22, 2017

Write your answer View all answers to this question
Sponsored