selasar-loader

Peristiwa apa yang menjadi titik balik kehidupan Anda, sehingga menjadi Anda yang sekarang ini?

LINE it!
Answered Aug 21, 2017

Sayembara Selasar Babak Final

Untuk tahap selanjutnya, Anda diminta untuk menjawab 2 pertanyaan berikut:

1. “Apa alasan Anda menggunakan Platform Selasar?” 

Jawab pertanyaan no 1 dalam bentuk video. Durasi 1-2 menit, kirim video tersebut ke email halo@selasar.com

2. Peristiwa apa yang menjadi titik balik kehidupan Anda, sehingga menjadi Anda yang sekarang ini?

Vivat Selasares!


Ibnu Zubair
Menolak tua dengan rutin tertawa

qaO7GjWi-geeZ6wRthGQdyyGtSOu6j4q.jpg
Dulu, saya seorang yang ambisius, punya banyak keinginan dan merasa memiliki kepintaran diatas rata-rata. Sekalipun berangkat dari keluarga yang sederhana, tapi tabiat saya tidak mau kalah dari orang-orang kaya. Dari penampilan sampai soal makanan, selalu minta yang terbaik, dan itu biasanya dibandrol mahal untuk ukuran keluarga saya. Tapi saya tidak peduli, karena itulah keinginan saya. Kedua orang tua saya akan berusaha memenuhi tiap keinginan tersebut, karena saya terbilang anak yang berprestasi untuk ukuran di Kampung. Sebagai anak Kampung, semua perlombaan seni dan keagamaan selalu saya ikuti dan sangat jarang menderita kekalahan, kalaupun itu terjadi, pasti akibat kondisi saya yang kurang prima saat pertandingan berlangsung.

 

Efek dari mental itu, saya sulit mengalah. Kalaupun saya terpaksa kalah, karena ada kompensasi lain yang saya dapat dari kekalahan itu. Selain itu, saya menjadi dominan dan sulit mendengar masukan dan tanggapan dari orang lainnya. Tiap ada orang yang lebih hebat dari saya, akan saya hindari, karena tidak mau bersaing dengan orang tersebut. Akibatnya saya pun menjadi anak yang tertutup, dan sulit berbagai cerita dengan lainnya, karena merasa tidak perlu ditolong orang lainnya. Jangankan junior, kawan seangkatan yang hendak memberi masukan akan saya anggap sebagai rival, sehingga kawan itupun akan saya jauhi, bila perlu ditinggalkan.

Satu waktu, terjadi pemilihan pimpinan mahasiswa di Kampus. Sebagai orang yang selalu dimintai pendapat dan banyak didengar sarannya, saya menjadi salah satu calon yang paling berpeluang terpilih menjadi pemimpin. Apalagi, lawan lainnya saya rasa berada dibawah saya. Dari sisi perkawanan, teman-teman saya lebih banyak, sebaliknya lawan lainnya sepengetahuan saya sangat sedikit teman mainnya. Sehingga saya merasa perebutan pimpinan tersebut akan dengan mudah saya menangkan.

Tibalah saat pemilihan, tanpa diduga suara yang memilih saya tidak sampai seperempat dari jumlah pemilih, dan lawan saya dipilih oleh mayoritas pemilih yang berhak memilih. Saya kecewa, marah dan dendam. Saya menduga ada pengkhianatan, ini yang disebut banyak pengamat, sebagai menggunting dalam lipatan. Selepas itu semua kesombongan yang melekat pada diri saya, rontok seketika. Anak pintar, selalu juara dari kampung lunglai dan tak berdaya, rasanya ingin pulang kampung dan sembunyi dibalik ketiak Ibu. Hampir sebulan saya hilang dari peredaran di kampus. Teman-teman dan pemimpin terpilih ingin merangkul dan mengajak saya masuk dalam kabinetnya. Tapi karena saya menghilang, saya pun tidak iikutkan dalam susunan kabinetnya. Sebenarnya saya sangat ingin aktif kembali, sayang hati terlanjur terluka. Teman-teman mahasiswa lain mengira ketidakhadiran saya, sebagai bentuk protes dan sedang memproklamirkan sikap oposisi. Padahal, saya benar-benar menghilang karena bingung, kenapa ini semua bisa terjadi. Barulah setelah bulan berikutnya saya menampakkan diri di kampus, dan betapa terkejutnya saya, spanduk satu kegiatan sudah terpampang di depan pagar kampus. Dalam hati saya berkata, memang kepengurusan sudah terbentuk ?. Rupanya semuanya sudah berjalan normal, dan saya pun ditinggal tanpa jabatan apapun dalam kabinet yang dibentuk oleh pemimpin baru tersebut. Andai saya tidak egois, mungkin saya sudah menjadi orang kedua.

Suasana hati yang sudah melunak, kembali mengeras. Tak tahu harus mengadu kemana, dan pada siapa. Saya pun kembali menghilang, dan hanya berdiam diri dirumah tempat saya menumpang. Orang-orang dirumah bertanya, kenapa saya tidak kuliah, saya jawab dosennya tidak masuk.

Ini peristiwa pertama kali yang merontokkan kesombongan saya, dan boleh jadi atas peristiwa ini, saya tersadar bahwa ada banyak orang pintar lain yang lebih hebat dari saya, dan ada banyak juara-juara lainnya yang lebih jago dari saya. Sementara saya tetaplah seorang juara Kampung, yang harus beradaptasi dengan pertandingan di Kota. Atas peristiwa ini pula, saya belajar mendengar dan lebih giat membaca. Tulis menulis pun semakin rutin saya lakukan, dan yang paling fenomenal bagi saya, meminta koreksi, saran dan kritik dari orang lain mulai menjadi kebiasaan sebelum saya benar-benar berbuat atau melakukan suatu pekerjaan. Saya mulai bisa menerima bahwa saya anak kampung yang punya kesempatan menerabas kemacetan kota. Hanya itu dan tidak lebih, karena itu saya harus lebih banyak melihat kiri kanan, atas bawah untuk lebih gigih menaklukkan Jakarta.

Tapi sesekali, sikap sombong itu terkadang muncul, mungkin watak asli memang tak bisa dihilangkan. Pada saat mulai mendapat upah, rasa angkuh datang kembali, meski dalam skala yang kecil, sampai suatu hari saya kembali bertemu dengan teman lama. Dalam pikiran saya waktu itu, teman ini secara ekonomi berada di bawah saya, artinya sekalipun dia mengajak saya, tetap biaya makan saat pertemuan saya yang menanggungnya. Semua saya menolak, tapi karena tidak enak hati saya memaksakan diri untuk menemuinya. Beruntuh jadwal upah baru satu dua hari berlalu, tabungan saya masih terbahak-bahak dalam mesin ATM, mesin uang itupun pada hari-hari itu belum mau bermaaf-maafan, mengingat saldonya masih tersedia lumayan.

Setelah bertemu di salah satu kedai makan, kami berbincang-bincang ringan dan saling bertanya kabar. Saat memesan makanan, saya agak khawatir, karena pesanan teman saya itu lumayan mahal, sekalipun saya masih sanggup membayarnya. Beruntung dengan sigap teman tadi menapik kekhawatiran saya. Nanti saya yang bayar kata teman tadi. Dan benar diakhir pertemuan dia membayar seluruh makanan yang kami santap dengan lahapnya, bahkan, dan ini yang membuat saya terkejut, dia memberi saya amplop yang berisi uang dalam jumlah lumayan untuk ukuran saya pada waktu itu. Katanya bagi-bagi rejeki.

Saya benar-benar iri sama teman itu, dia yang biasa-biasa saja dan cenderung dibawah saya, tapi secara ekonomi melesat beberapa langkah di depan saya. Saya merasa manusia tersial, karena ekonomi tidak beranjak meningkat, padahal pekerjaan dan ibadah sudah rutin dilakukan. Dari pola hidup, saya terbilang laki-laki giat, karena jauh sbelum fajar datang, saya sudah berkemas dan siap-siap bekerja. Sementara teman yang tadi memberi amplop, dari ceritanya tidak segesit saya dalam bekerja. Tapi keberuntungan lebih memihak padanya dari pada kepada saya. Sakit yang sudah mengendap, kembali berkecambah dan siap menjadi bibit bibit cemburu yang hebat.

Namun ketika itu hendak terjadi. Tiba-tiba melalui berita online, saya baca seorang pengusaha terkena operasi tangkap tangan lembaga rasuah, dan beberapa hari kemudian, dari pengembangan kasus tersebut satu diantara yang terlibat adalah teman saya. Teman yang memberi amplop dan membayari semua makanan yang lezat lezat tadi. Seketika saya sedih sekaligus bersyukur. Sedih karena teman saya terlilit masalah. Syukur karena rizki yang saya terima bukan dari sumber yang ilegal, dan tidak tersangkut kasus hukum.

Dua peristiwa tadi, telah memberi pelajaran tak terhingga dalam diri saya, bahwa lebih banyak belajar, mendengar dan mensyukuri apa yang ada, adalah kunci hidup sederhana dan jauh dari masalah. Bagi saya, hidup seperti saat ini sudah cukup, kalaupun ingin bonus, tak lain semoga semakin didekatkan dengan agama, dan dijauhi dari maksiat, serta menjadi maslahat bagi siapapun dan dapat berbakti semampunya bagi sebanyak-banyaknya orang. Itulah mengapa saya menjawab pertanyaan selasar, manatahu diantara jawaban itu ada secuil informasi bermanfaat. semoga

236 Views
Write your answer View all answers to this question