selasar-loader

Apa yang dilakukan dokter untuk memeriksa pasiennya ketika belum ditemukan stetoskop?

LINE it!
Answered Apr 07, 2017

Saverinus Suhardin
Ners, Pembaca, Penulis, Pengajar

WW2mF4Le1vCA7gjSsz3TkGPAjUyANN7Y.jpg

Sebelum saya menjawab inti pertanyaan di atas, sebaiknya kita perlu ketahui dulu apa itu stetoskop. Jika perawat atau dokter ingin mendengarkan suara dari tubuh pasien, seperti suara napas dan suara jantung, diperlukan alat bantu dengar yang bernama stetoskop tadi. Jadi, secara sederhana kita artikan stestoskop sebagai alat bantu dengar.

Pengalaman saya sebagai Perawat, stetoskop biasa digunakan untuk mendengar bunyi napas (hasil pergerakan udara dalam paru-paru), bunyi jantung (hasil penutupan katub-katub jantung), banyi peristaltik usus (hasil gerakan peristaltik usus), bunyi bruit pembuluh darah arteri (hasil dari pergerakan darah yang cepat) dan bunyi dari pembuluh darah vena saat pengukuran tekanan darah secara manual.

Bunyi-bunyi yang dihasilkan tubuh tersebut, akan diserap bagian diafrgma atau bell, kemudian gelombang bunyi itu disalurkan melalui selang hingga ke kedua telinga pendengar. Agar mendengar suara secara jelas, diperlukan suasana ruangan yang tenang dan pendengar harus berkosentrasi. 

Kemampuan mendengar serta membedakan jenis suara dibutuhlah latihan yang lama. Perawat atau Dokter yang telah lama berpraktik akan semakin mudah membedakan suara yang terdengar. Beda bila dilakukan oleh mahasiswa keperawatan atau kedokteran, kemungkinan masih bingung mengartikan setiap bunyi yang didengar.

Jenis bunyi yang didengar mengandung makna tersendiri. Setiap jenis bunyi pun memiliki nama masing-masing. Bunyi suara napas yang bersih dari sekret (dahak) akan berbeda dengan bunyi napas yang bebas sekret (dahak). Perawat dan dokter  mengetahui perbedaan nama dan makna setiap suara.

Nah, kita kembali ke inti pertanyaan, apa yang dilakukan bila tidak ada stetoskop saat memeriksa pasien ?

Pertama, jika pemeriksaan bunyi pada tubuh pasien itu harus dilakukan, maka mau - tidak mau, pemeriksa harus menempelkan telinganya pada area yang ingin didengar. Situasi ini mungkin menimbulkan perasaan kurang mengenakan. Pemeriksa akan risih, takut tertular atau menularkan kuman akibat kontak secara langsung. Selain itu, pasien juga bisa merasa kurang nyaman bila telinga orang lain langsung bersentuhan dengan bagina tubuhnya. Bayangkan saja bila pemeriksa seorang lelaki dan pasiennya seorang gadis, pasti menimbulkan perasaan yang kurang nyaman. Tapi, jika terpaksa dan hasil pemeriksaan itu sangat menentukan suatu diagnosis atau pengobatan, maka harus dilakukan.

Kedua, pemeriksaan dengan cara mendengarkan (auskultasi) merupakan salah satu teknik pemeriksaan fisik, bukan satu-satunya cara. Pemeriksaan fisik lain bisa dilakukan dengan metode inspeksi (melihat), perkusi (mengetok), dan palpasi (meraba). Ketiga pemeriksaan itu sudah cukup mumpuni untuk menegakkan diagnosa. Apalagi dengan kemajuan pemeriksaan penunjang masa kini. Adanya sekret atau cairan di paru dapat terdekteksi lewat foto X-ray dada. Jadi, kalau misalnya pemeriksaan dengan cara mendengar itu sulit dilakukan, saya pikir tidak terlalu bermasalah. Perannya untuk membantu diagnosis pasien, bisa digantikan oleh metode lain.

Itulah gambaran yang akan terjadi bila stetoskop tidak ada dalam pemeriksaan pasien. Semoga ini hanya pertanyaan iseng ya, jangan sampai kejadian ini benar-benar terjadi. Saya tidak bisa bayangkan betapa repotnya perawat atau dokter jika tanpa alat ini. Sekian saja, salam selasares....

412 Views
Write your answer View all answers to this question