selasar-loader

Apa rasanya tinggal di luar Negeri?

LINE it!
Answered Apr 06, 2017

Manoressy Tobias
Seorang skeptis. Banyak pikiran, banyak opini.

ch367zoJPeRRWY2gP118HscHSmaS40qW.jpg

via trivo.ro (FR)

Di minggu-minggu atau bulan-bulan pertama, biasanya masih excited dengan banyak hal baru yang dilihat atau dirasakan.

Lama-lama, kalau sudah mulai kerasan, rasanya biasa saja. Sebelum berangkat studi ke Eropa, saya punya pandangan "Barat" itu selalu lebih superior dari Indonesia dalam segala hal.

Ternyata tidak.

Dalam beberapa hal, betul. Sains dan teknologi, misalnya. Tentu saja "Barat" lebih unggul dari Indonesia. Tapi fasilitas umum? Tergantung. Transportasi umum di Belanda lebih bagus daripada di Jabodetabek, Bandung, atau Surabaya (saya dulu mainnya di sekitar situ saja). Tapi saya juga pernah merasakan naik kereta dalam kota Roma - Vatikan di tahun 2014. Percayalah, KRL Jabodetabek lebih bagus dan nyaman daripada kereta dalam Roma; keretanya remang-remang, kumuh, bau muntah (mungkin saya sedang sial malam itu, entahlah). Lalu saya makan malam di satu restoran kecil di pinggiran downtown Roma. Tiba-tiba, ada 2 orang berkelahi di luar sampai pukul-pukulan dan dorong-dorongan ke kaca jendela restoran. Masih untung mereka tidak baku tembak.

Bicara keamanan, tergantung juga. Di kota Leiden dimana saya dulu studi, kotanya relatif aman. Perempuan bisa jalan kaki sendiri jam 2 pagi tanpa perlu khawatir sesuatu yang buruk terjadi. Tapi di kota besar seperti Amsterdam atau Rotterdam, situasi bisa lebih rawan. Pinggiran kota Amsterdam adalah "sarang" berbagai geng narkoba; dulu pernah ada kejadian dari baku tembak sampai orang dipenggal karena perseteruan geng. Kenalan saya juga pernah ada yang rumahnya dibegal maling di Amsterdam.

Tinggal di luar negeri berpotensi membuka mata kita tentang banyak hal. Berinteraksi dengan berbagai macam orang dari berbagai asal negara, kebudayaan, agama/kepercayaan, etnisitas, gaya hidup yang berbeda-beda. Tinggal di luar negeri juga mengajarkan kita melihat Indonesia dari perspektif luar. Waktu masih di Indonesia, kita mungkin melihat Indonesia "hancur banget". Begitu dilihat dari luar, ternyata Indonesia "jauh lebih hancur" daripada yang kita duga sebelumnya. Hahahaa....

Tinggal di luar negeri bisa membuat kita lebih menghargai hal-hal yang kita take for granted di Indonesia. Selama saya tinggal di luar negeri, saya sering kangen mendadak pada warung pecel lele dekat gang kosan saya di Bandung, angkringan depan kampus, warung nasi Padang, suara ayam berkokok, atau sekadar nongkrong bersama teman-teman di kafe sampai jam 12 malam. Di Belanda banyak restoran Indonesia, tapi saya tetap rindu pada warung pecel dekat kosan saya.

Salah satu hal yang di-take for granted di Indonesia adalah agama. Teman saya yang Muslim pernah ditanya oleh temannya, seorang atheis Inggris, mengapa di bulan puasa harus tidak makan dan minum selama daylight? Kalau begitu, bagaimana nasib mereka yang tinggal di negara-negara yang siangnya sangat panjang? Apakah Allah dulu ketika menurunkan perintah-Nya tidak memikirkan kalau di masa depan akan ada Muslim yang tinggal di tempat-tempat dimana daylight bisa sampai lebih dari 12 jam?

Teman saya sempat tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Itu momen-momen dimana dia menyadari bahwa selama ini dia menjalankan agamanya di Indonesia tanpa pernah benar-benar memahami apa yang dia jalankan.

Dan masih banyak lagi cerita lain. Setidaknya, satu hal yang saya pelajari adalah, ... manusia itu pada dasarnya sama saja. Kewarganegaraan, warna kulit, agama/kepercayaan, pandangan politik, gaya hidup boleh berbeda. Tapi pada dasarnya, semua manusia sama saja.

Selain itu, orang asing/"bule" juga tidak selalu lebih baik daripada orang Indonesia. Kadang mungkin kita merasa inferior terhadap orang "bule"; kita merasa mereka lebih pintar, lebih hebat. Ada kalanya betul di beberapa kasus, tapi tidak semua orang "bule" lebih hebat daripada orang Indonesia. Saya juga pernah bertemu dengan "bule" yang bodohnya mirip orang-orang demo bayaran di Indonesia kok...

508 Views
Zulfian Prasetyo

Halo! Temennya Crystal Susiana ya?  Apr 6, 2017

Manoressy Tobias

Halo juga! Betul :)  Apr 6, 2017

Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Manoressy Tobias
Seorang skeptis. Banyak pikiran, banyak opini.