selasar-loader

Peristiwa apa yang menjadi titik balik kehidupan Anda, sehingga menjadi Anda yang sekarang ini?

LINE it!
Answered Aug 18, 2017

Sayembara Selasar Babak Final

Untuk tahap selanjutnya, Anda diminta untuk menjawab 2 pertanyaan berikut:

1. “Apa alasan Anda menggunakan Platform Selasar?” 

Jawab pertanyaan no 1 dalam bentuk video. Durasi 1-2 menit, kirim video tersebut ke email halo@selasar.com

2. Peristiwa apa yang menjadi titik balik kehidupan Anda, sehingga menjadi Anda yang sekarang ini?

Vivat Selasares!


Amril Taufik Gobel
Smiling Blogger (www.daengbattala.com) , lovely husband, restless father

IOaDjqTU7_Y2Jh0-r_hGrlCVEI0U1WBg.jpg

Peristiwa yang paling berkesan dan menjadi titik balik kehidupan saya hingga saat ini adalah kelahiran anak pertama saya, Muhammad Rizky Aulia Gobel, tanggal 25 November 2002. Saya dan istri telah menanti hingga 3 tahun sejak pernikahan kami di Yogyakarta, 10 April 1999. Berbagai upaya kami lakukan baik secara medis maupun mistis untuk mendapatkan anak (kisah "perjuangan" ini saya abadikan dalam posting di blog saya berjudul "Desperate Seeking Child - An Epic Story"). 

Sampai akhirnya Allah SWT memberikan kami kepercayaan dan amanah untuk membesarkan dan mendidik anak, di bulan penuh berkah, jelang akhir Ramadhan tahun 2002. Keharuan terasa menyesak di dada hingga tanpa terasa saya meneteskan air mata saat mengumandangkan adzan pertama kali di telinga putra pertama saya itu.

Saya hendak menandai momentum berharga ini dengan sesuatu yang monumental, unforgettable, dan tentu sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Dan pilihan itu adalah dengan menulis di blog! Karena kesibukan yang begitu padat di kantor, saya sampai tak sempat lagi menikmati hobi yang telah saya akrabi sejak masih menjadi siswa SMA dulu. Dari berbagai percakapan bersama sejumlah kawan serta chatting di Yahoo Messenger, termasuk dengan adik angkatan saya di Teknik Mesin & Penerbitan kampus "Identitas" Unhas, Tomi Lebang yang ketika itu tengah menempuh pendidikan di Inggris, saya mendapatkan inspirasi untuk menulis di blog, sebuah sarana curhat online yang gratis, bebas sensor dan bebas biaya distribusi tetapi lebih dari itu, saya bisa menampilkan refleksi kehidupan keluarga saya secara virtual lewat media internet.

Akhirnya, berkat bimbingan Tomi dan sejumlah kawan, saya berhasil meluncurkan blog http://muhrizkyauliagobel.blogspot.co.id pada Desember 2002. Kehadiran blog ini memang diniatkan menjadi catatan perjalanan kehidupan putra pertama saya itu mulai lahir dan (mudah-mudahan) hingga dewasa kelak. Saya menulis di blog tersebut dalam perspektif "Rizky" dan menceritakan segala hal yang terjadi dengan bahasa yang ringan dan riang.

Saya menyadari, blog telah menjelma menjadi sebuah kekuatan media baru yang tangguh dan layak diperhitungkan dalam membentuk opini publik bahkan menjadi struktur yang berlawanan dengan media konvensional. Pendapat ini juga disitir oleh John Katz dalam tulisannya “Here Come the Weblogs” Mei 1999,“Blog merupakan struktur terbalik dari media konvensional yang bersifat top-down, membosankan dan arogan”. Sementara itu, Rebecca Blood, penulis buku “The Weblog Handbook: Practical Advice on Creating and Maintaining your blog” berpendapat,“Weblogs are the mavericks of the online world. Two of their greatest strengths are their ability to filter and disseminate information to a widely dispersed audience, and their position outside the mainstream of mass media”.

G9Plnc-oWUltD6TFWlOsVx4ipCr81d-F.jpg

Salah satu bukti “kedashyatan” blog dapat dilihat dari skandal yang terjadi pada National Kidney Foundation (NKF) Singapore tahun 2005 silam. Skandal penyelewangan dana LSM sosial di negeri tetangga itu mendapat sorotan tajam dari masyarakat setelah publikasi si Direktur Utama yang bergaji 600 ribu Dollar Singapore per tahun dan bepergian naik pesawat dengan kelas bisnis, padahal dana yang digunakan adalah uang hasil sumbangan masyarakat itu terkuak. Tak ayal lagi, protes, demo, yel-yel, dan caci maki dari masyarakat Singapore yang konon merupakan dua pertiga dari pendonor NKF deras mengalir. Uniknya, sebagian besar “demo” tersebut memakai sarana blog via internet sebagai medianya (saya belum dapat membayangkan apakah gerakan seperti ini kelak dapat terjadi di negeri kita yang masyarakatnya belum terlalu banyak mengenal teknologi internet, apalagi blog). Publik dari berbagai kalangan menyuarakan opini dan pendapat mereka melalui media alternatif ini sekaligus salah satu bentuk baru “gerakan bawah tanah” era digital. Dan sukses. Sang Direktur Utama serta wakilnya mengundurkan diri dari jabatannya dan langsung diadili oleh pengadilan setempat.

Harus diakui, blog sebagai salah satu bagian budaya digital memberi pengaruh besar bagi perkembangan dunia informasi dewasa ini. Merebaknya layanan blog gratis yang ditawarkan seperti dari blogger.com, wordpress.com, dan lain-lain, memberi peluang tumbuh kembang blog secara spektakuler. Ditambah lagi semakin melaju pesatnya teknologi digital terbaru serta kemudahan dan kecepatan akses internet misal melalui area hot-spot memungkinkan seseorang dapat seketika melakukan update terbaru di blog masing-masing.

Mengikuti kecenderungan yang terjadi, saya menulis blog anak sesungguhnya lebih didasari keinginan untuk berbagi informasi, ekspresi, dan juga keceriaan dari aktifitas Rizky. Seperti sebuah rumah singgah maya yang nyaman di belantara virtual yang terus tumbuh. Adapun perkembangan blog yang mengambil posisi di luar dari “mainstream” media massa seperti yang sudah diungkap oleh Rebecca Blood menjadi stimulir berharga bagi saya untuk menampilkan blog yang saya tulis menjadi lebih menarik.

Amy Jo Kim seorang konsultan dan pengarang buku “Community Building on the Web: Secret Strategies for Succesful Online Communities” , seperti dikutip dari blog Enda Nasution, menulis bahwa diperlukan beberapa syarat dasar khusus untuk menjadi seorang Blogger, yaitu kemampuan untuk mengekspresikan diri, keinginan untuk berkomunikasi dengan orang banyak dan minat pribadi pada “keterusterangan”. Saya memberi aksentuasi khusus pada kalimat terakhir Amy, karena dengan menulis blog anak saya–mau tidak mau–memberi peluang bagi pembaca untuk secara “telanjang”mengetahui lika-liku dan latar belakang kehidupan keluarga saya. Tentu saya mesti siap menempuh risiko “keterus-terangan”itu. Blog sebagai refleksi personal pembuatnya pada gilirannya–secara langsung maupun tidak–menjadi “jendela” yang membingkai ide, aktifitas keseharian, emosi, kreatifitas, harapan bahkan mimpi-mimpi sang penulis blog.

Melalui blog Rizky, saya berusaha mengartikulasikan “ketelanjangan” itu lewat untaian kalimat yang (moga-moga) tidak hanya sebagai representasi aktifitas keseharian Rizky juga menjadi bahan renungan bagi semua publik pembacanya. Seperti cuplikan kisah dari blog Rizky di awal tulisan ini, selain sebagai dokumentasi aktifitasnya, saya juga “menitip” pesan tersirat pada Rizky bahwa mental pecundang mesti disingkirkan jauh-jauh dalam dirinya, sebagai lelaki. Dan itu, tidak mudah.

rW1jOaYMfOe6fE2Xm02kKwB-1FKYHxJC.jpg

Pada Posting yang lain “Bayi juga Manusia”, saya mengisahkan pertemuan Rizky dan ibunya dengan seorang bayi hasil hubungan gelap yang dititipkan di klinik tak jauh dari rumah kami. Sebuah potret kelam dari kehidupan dunia yang kian carut-marut. Sementara di posting “Mbak Ami Minggat, Mbak Ida Merapat” dipaparkan kisah lika-liku mencari pembantu rumah tangga yang memiliki beragam karakter. Atau pada posting “Menemani ayah bercukur” saya merekam percakapan konyol saya dengan seorang cukur yang mengkritisi kondisi sosial politik sekarang kemudian dituturkan lewat “kacamata” Rizky yang kebetulan ikut menemani saya waktu itu.

Sejujurnya, saya merasa lebih sreg bertutur lewat Rizky semata-mata karena dua hal. Pertama, saya bisa menggali dan meng-explore lebih luas dan bebas segala kejadian yang terjadi di sekitar Rizky, misalnya ekspresi, tindakan, dan reaksi dari kedua orang tuanya, juga suasana di sekelilingnya. Kedua, saya tidak bisa setiap hari berada dan mengamati perkembangan kegiatan Rizky di rumah. Melalui cerita dari istri saya–momen di mana Rizky juga terlibat dalam peristiwa itu–setelah kembali dari kantor, saya dapat meramu dan menuturkan kembali kejadian tadi lewat sudut pandang Rizky di blognya. Ini tantangan yang sangat mengasyikkan, meski pada akhirnya saya harus mengakui tidak dapat melakukan update secara periodik karena keterbatasan waktu dan kesibukan di kantor.

Dari sejumlah blog anak yang sempat saya kunjungi memang masih lebih banyak berisi tentang jurnal kegiatan harian sang anak, tentu saja termasuk blog anak saya, Rizky. Di sela-sela peristiwa kekerasan terhadap anak yang belakangan ini kerap terjadi, blog anak yang ditulis oleh ayah/bundanya menebar kesejukan dan memantulkan cemerlang cinta orang tua pada buah hatinya. Saya memendam harap kiranya ini akan menjadi energi positif dan wadah kontemplasi bagi sang anak kelak jika ia beranjak dewasa dan meneruskan penulisan blog itu sendiri. Baik Sang anak maupun orang tua akan membaca arsip ”jejak-jejak cinta” yang telah ditorehkan lewat blog untuk kemudian menumbuh-suburkan kasih sayang antarmereka secara intens. Saya yakin kekuatan blog anak terletak di sini: sebuah monumen cinta yang tak akan luluh digerus zaman. Dan ungkapan“From Blog, with Love”, jadi kian nyata adanya.

Thomas Friedman dalam bukunya “The World is Flat: A Brief History of the Globalized World in the 21st Century” secara gamblang menyatakan,”Kemudahan setiap individu untuk berkolaborasi di dunia global didukung oleh berbagai macam perangkat teknologi informasi berikut aplikasinya”. Lebih lanjut Friedman menjelaskan, adanya “playing field” (arena permainan) lewat web-enabled tools memberi kekuasaan kepada individu untuk berkolaborasi di dunia interaktif. Saya menyadari, di dunia yang makin tipis sekat-sekat geografisnya kini (dan kian ceper seperti diungkapkan Friedman dalam bukunya itu) karena perkembangan internet dan teknologi digital yang melaju pesat, membuka peluang berinteraksi antarindividu. Melalui blog, terlebih jika dilengkapi dengan fasilitas komentar serta link untuk akses ke topik yang terkait, membuat blog terasa lebih personal, kolegial, dan non-formal bagi pembacanya. Implikasinya adalah kedekatan emosional akan terjalin antara sang penulis blog dan khalayak pembacanya.

Sejak situs blog anak saya diluncurkan, saya mendapat pengalaman batin yang berharga lewat “feed-back” dari para pembaca blog (yang sebagian besar di antaranya juga penulis di blog masing-masing). Tidak hanya kepuasan karena mereka mampir dan membaca isi blog anak saya, tetapi pada saat yang sama, saya memperoleh jaringan interaksi virtual dari kawan-kawan maya yang bisa jadi berada ratusan bahkan ribuan kilometer dari tempat saya berpijak. Beberapa di antara kawan-kawan maya yang kebetulan juga menulis blog untuk sang anak memberi nasihat serta berbagi pengalaman mendidik anak lewat e-mail. Sebuah kolaborasi di dunia interaktif yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahkan ketika saya masih aktif menulis buku diary dulu.

Hal yang paling berkesan dan menyenangkan dari semuanya adalah ketika penerbit Gradien Mediatama, pada pertengahan tahun 2006 mengontak saya untuk membukukan blog Rizky menjadi sebuah buku bertajuk "Warna Warni Hidupku". Tentu ini sebuah hal yang jauh melampaui ekspektasi saya saat pertama kali membuat blog anak saya. Berbagai tanggapan positif (termasuk resensi buku) datang menyambut hadirnya buku ini dan saya abadikan dalam blog Buku Rizky. 

Salah satu resensinya datang dari Bapak M. Dahlan Abubakar, wartawan senior Makassar yang juga adalah mantan Kepala Humas Universitas Hasanuddin serta Pemimpin Redaksi Penerbitan Kampus "Identitas" Unhas. 

Beliau menyampaikan tanggapannya sebagai berikut:

"Menulis blog dengan menempatkan sosok anak sendiri, memang sangat menarik. Pertama, rasa yang ditawarkan meski dari orang tuanya, tetapi memiliki hubungan batin yang kental dengan sang anak. Simak saja, bagaimana ATG membuka kisahnya dengan dua alinea yang saya kutip yang dia beri judul ‘’Aku Menatap Dunia’’. Kedua, dengan menggunakan obyek yang secara emosional berhubungan dengan penulis, jelas akan memberikan bahan kisah yang tak habis-habisnya. Ketiga, pada peristiwa-peristiwa tertentu -- yang tentu saja menarik – jelas akan menjadi bagian dari cerita ini. Keempat, tulisan seperti ini akan sangat menarik lagi karena ATG menggunakan ‘bahasa anak’ (kosakata) untuk memberi pembedaan dengan kosakata orang dewasa".

Saat menulis posting ini, saya tersenyum dan kembali mengingat masa-masa yang terjadi 15 tahun silam, ketika saya menjadi seperti saat ini: sebagai blogger yang tetap setia membagi inspirasi dan ekspresi lewat dunia maya.

 

339 Views
Write your answer View all answers to this question