selasar-loader

Peristiwa apa yang menjadi titik balik kehidupan Anda, sehingga menjadi Anda yang sekarang ini?

LINE it!
Answered Aug 18, 2017

Sayembara Selasar Babak Final

Untuk tahap selanjutnya, Anda diminta untuk menjawab 2 pertanyaan berikut:

1. “Apa alasan Anda menggunakan Platform Selasar?” 

Jawab pertanyaan no 1 dalam bentuk video. Durasi 1-2 menit, kirim video tersebut ke email halo@selasar.com

2. Peristiwa apa yang menjadi titik balik kehidupan Anda, sehingga menjadi Anda yang sekarang ini?

Vivat Selasares!


Hari Nugroho
Medical Doctor with Addiction Medicine training

ib7DhunTKXgJDVDGEmOs9G4Rhcm0of7D.jpg

"Ingat lima perkara sebelum lima perkara, .....sehat sebelum sakit....". 

Begitulah petikan sebuah hadits agar menjaga nikmat-nikmat kemudahan sebelum datang kesempitan. Dan ternyata almarhum bapak saya, sebelas tahun yang lalu mendapat cobaan berupa sakit. Peristiwa ini membuat saya agak marah ke bapak, terlebih sakitnya berat, harus dirujuk ke rumah sakit rujukan provinsi, dan membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk keperluan diagnostik dan treatment, yang memang cukup misterius saat ini. Kadar gula yang meninggi, gangguan fungsi hati, dengan marker hepatitis dan USG liver yang normal. Pada akhirnya ketemu penyebabnya adalah infeksi Helicobacter Pylori.

Untuk perawatan dua bulan di rumah sakit dan pemulihan setelahnya, sumber daya keluarga begitu terkuras. Tak hanya dana, namun juga waktu dan tenaga yang memaksa saya cuti dari perkuliahaan selama dua semester. Marah, tak terima, khawatir tentang masa depan, dan cemas begitu mengaduk-aduk perasaan dan pikiran saya. Bayangan kegagalan dalam studi yang sudah di tahap akhir dan tak bisa angkat sumpah profesi bersama kawan satu angkatan terus-menerus menghantui.

Inilah suatu peristiwa yang untuk pertama kalinya membuat berbagai konflik dalam keluarga, paling tidak antara saya, adik, dan ibu. Jika diingat, rasanya aneh, kok bisa sampai demikian dahsyatnya mengguncang keluarga. Dalam waktu yang sama, bapak saya juga memasuki masa purna tugas, ada sedikit gejala post power syndrome yang muncul sehingga bumbu konflik semakin mengental dan terasa.

Buat kami, kebenaran kalam Allah begitu nyata, bahwa manusia akan diuji keimanannya, diuji dengan berbagai kesulitan, dengan kurangnya harta, dengan rasa takut, dan perasaan nestapa. Beruntung kami masih ingat, jika di balik kesulitan ada kemudahan apabila semua hal tersebut dijalani dengan ikhlas dan penuh kepasrahan kepada sang Pencipta.

Bukan perkara yang mudah untuk itu, penyangkalan masih terjadi walaupun hanya terbersit dalam hati, terlebih mengenai kelanjutan studi saya yang harus mengulang beberapa rotasi klinis, dan uang saku yang tak selancar sebelumnya. Masih membekas dalam ingatan saya harus menjual majalah, souvenir berupa boneka yang bisa tumbuh tanaman, berburu job jaga pameran kesehatan dan apa pun yang bisa dikerjakan untuk menambal uang saku yang sering bolong.

Setelah beberapa waktu, drama sekolah akhirnya selesai dalam prosesi sumpah dokter. Pertama kalinya saya melihat almarhum bapak menangis, entah karena saya yang akhirnya lulus meski sempat terseok-seok atau karena kebanggan seorang anaknya menjadi dokter. Namun itu adalah momen yang begitu terkenang dalam hati saya.

Allah memang pembuat skenario yang sempurna, kepingan puzzle kehidupan saya terasa mudah setelah hari-hari yang berat terlewati. Tak lama setelah lulus, saya mendaftar di salah satu lembaga negara, meski mendaftar di detik terakhir, semua berjalan lancar, dari soal ujian yang sangat mirip dengan buku soal yang saya baca, hingga tes wawancara terasa mudah. Barangkali itulah salah satu tanda di mana di bulan berikutnya saya melihat nama saya masuk dalam daftar urutan calon pegawai yang diterima, dan perlu dicatat sama sekali tak menggunakan uang pelicin, sogokan, atau apapun istilahnya, barang sepeser.

Akhirnya karir di lembaga ini dimulai. Saya betul-betul memanfaatkan setiap ada kesempatan belajar. Tahun 2015, beasiswa Netherlands Fellowship Programme mengantarkan saya menginjakkan kaki ke Negeri van Oranje, dan Amsterdam menjadi tujuan belajar. 

Awal-awal mendaftar beasiswa, saya banyak mendapat omongan, cibiran, bahkan ejekan. Namun semua tak digubris, dengan tekad sekeras titanium dan semboyan sekali layar terkembang pantang surut ke belakang, omongan negatif tadi sirna dengan bukti nyata keberangkatan ke Universiteit van Amsterdam. Begitupula dengan tahun ini, pemerintah UK memberi kesempatan kepada saya untuk belajar di London dengan beasiswa Chevening. Lagi-lagi cibiran dan prasangka jelek berbalik. Saya tak pernah menduga keterlambatan studi akan membuat hidup saya berubah 180 derajat, namun begitulah Illahi, yang mempunyai rahasia dan membuat kita acapkali terbengong serta malu atas syak wasangka yang terbangun dalam hati.

Kita seringkali tak sabar, terburu-buru marah dan menolak atas ujian yang Allah timpakan, padahal Allah menyiapkan puzzle yang lebih baik sebagai buah atas kesabaran tersebut. Apa yang kita anggap baik belum tentu baik dihadapan sang pemberi rizki, begitupula sebaliknya apa yang kita anggap jelek, belum tentu jelek dimata illahi rabbi. Yang kita perlukan adalah kesabaran atas ujian yang sedang dilaksanakan, berbaik sangka dan senantiasa bersikap positif.

Kepada Bapak, sakitmu merupakan jalan bagi kami putra-putramu mendapatkan kemuliaan. Kesusahanmu membuat kami belajar, dan kembali bertafakur di haribaan illahi. Meski tak sempat menyaksikan keberangkatanku ke London, semua hal ini kupersembahkan sebagai wujud baktiku, menjaga nama baikmu, dan meneladani kebaikanmu. Semoga engkau diberikan rahmat, diluaskan kuburnya, diampuni segala dosa, dan dijauhkan dari segala siksa.

 

gambar via sumur-abar.blogspot.com 

456 Views
Write your answer View all answers to this question