selasar-loader

Dapatkah software MogIA yang memprediksi dengan tepat kemenangan Donald Trump 10 hari sebelum Pilpres AS menggeser peran periset di lembaga survei?

LINE it!
Answered Nov 17, 2016

Pepih Nugraha
Menulis IT, aplikasi dan perkembangan Internet di Harian Kompas dan blog

Kecerdasan buatan (AI) seperti MogIA dibuat dengan algoritma tertentu untuk mengenali prilaku users media sosial seperti Facebook. Dengan memasukkan kemudian mengolah informasi jutaan, puluhan, dan bahkan ratusan juta konten, pola tertentu dari pengguna bisa diklasifikasikan. Dalam hal memilih di antara dua kontestan, Donald Trump dan Hillary Clinton, paling mudah mesin mengenali pemisahan seberapa banyak mesin mengenali nama Trump atau Hillary.

Lalu dikaitkan dengan sentimen positif atau negatif atas kedua kontestan itu, maka akan dilihat kecenderungan mana yang mendukung secara positif kepada Trump atau sebaliknya mendukung secara positif kepada Hillary. Demikian juga penolakan terhadap kandidat. Nama mana yang muncul paling banyak sebagai sentimen negatif. 

Pada dasarnya survey berbentuk kuesioner yang diajukan kepada responden dengan jumlah yang sudah ditentukan. Jawaban atas pertanyaan itu yang kemudian ditabulasi, dihitung, dan disimpulkan. Dlam hal MogIA, kecerdasan buatan mengolah data atau informasi yang sama meskin diambil dari Facebook atau Google. Pada mesin pencari secanggih Google, preferensi pengguna sudah dipetakan sedemikian rupa, termasuk preferensinya terhadap calon tertentu.

Dalam kasus gagalnya periset memprediksi kemenangan Trump, hal itu menunjukkan adanya metoda yang keliru yang tidak bisa meraba keinginan silent majority yang tersembunyi. Periset tidak bisa mengenali mereka karena keterbatasan  akses. Sedangkan di media sosial silent majority ini bisa saja merupakan users aktif sehingga informasi tentang siapa mereka dan apa preferensinya mudah diolah.

648 Views
Write your answer View all answers to this question