selasar-loader

Bagaimana rasanya menjadi guru honorer?

LINE it!
Answered Mar 30, 2017

Tyasti Aryandini
Pendidik AUD. Juara III Guru TK Berprestasi Tangsel 2016. Mahasiswi FIP UMJ

L32uhuJ4y5EMv-clRB8G1mgtzwa76NYz.jpg

"Sanggupkah aku, menjadi guru. Honor seminggu, hanya sampai rabu" (Padhayangan Project)

Lirik lagu Kuingin Jadi Guru yang pernah menjadi hits di era tahun 1996 tersebut agaknya tepat mewakili perasaan menjadi guru honorer. Bagaimana tidak, untuk menjadi guru tentu bukanlah hal yang mudah, menjadi guru dituntut memiliki sedikitnya empat kompetensi:

1.Kompetensi Pedagogik. Kompetensi Pedagogik adalah kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Sub kompetensi dalam kompetensi Pedagogik adalah :

a.   Memahami peserta didik secara mendalam yang meliputi memahami peserta didik dengan memamfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif, prinsip-prinsip kepribadian, dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik.
b.   Merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran yang meliputi memahami landasan pendidikan, menerapkan teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar, serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.
c.   Melaksanakan pembelajaran yang meliputi menata latar (setting) pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
d.   Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran yang meliputi merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode,menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery level), dan memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.
e.   Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya meliputi memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik, dan memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi non akademik.

2. Kompetensi Kepribadian

Kompetensi Kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.

Sub kompetensi dalam kompetensi kepribadian meliputi :

a.   Kepribadian yang mantap dan stabil meliputi bertindak sesuai dengan norma sosial, bangga menjadi guru, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.
b.   Kepribadian yang dewasa yaitu menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru.
c.   Kepribadian yang arif adalah menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemamfaatan peserta didik, sekolah dan masyarakat dan menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.
d.   Kepribadian yang berwibawa meliputi memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadappeserta didik dan memiliki perilaku yangh disegani.
e.   Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan meliputibertindak sesuai dengan norma religius (imtaq, jujur, ikhlas, suka menolong) dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.

3. Kompetensi Sosial

Kompetensi Sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Sub kompetensi dalam kompetensi sosial meliputi :

a.   Bersikap inklusif, bertindak obyektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agara, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial keluarga.
b.   Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat.
c.   Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah NKRI yang memiliki keragaman sosial budaya.
d.   Berkomunikasi dengan lisan maupun tulisan.
e.   Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik memiliki indikator esensial: berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik.
f.    Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan.
g.   Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

4. Kompetensi Profesional

Kompetensi Profesional adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.

Sub kompetensi dalam kompetensi Profesional meliputi :

a.   Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung pelajaran yang diampu
b.   Mengusai standar kompentensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu
c.   Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.
d.   Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif
e.   Memanfaatkan TIK untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.

Keempat kompetensi tersebut di atas bersifat holistik dan integratif dalam kinerja guru. Oleh karena itu, secara utuh sosok kompetensi guru meliputi :

1.   pengenalan peserta didik secara mendalam;
2.   penguasaan bidang studi baik disiplin ilmu (disciplinary content) maupun bahan ajar dalam kurikulum sekolah
3.   penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi proses dan hasil belajar, serta tindak lanjut untuk perbaikan dan pengayaan; dan
4.   pengembangan kepribadian dan profesionalitas secara berkelanjutan. Guru yang memiliki kompetensi akan dapat melaksanakan tugasnya secara profesional.

Akan tetapi, dalam kenyataannya, guru tetap lah pahlawan tanpa tanda jasa, jika tanda jasanya dapat dikonversi menjadi nilai rupiah, maka berapa nilai rupiah yang harus diberikan kepada seorang guru yang memiliki empat kompetensi diatas?

Untuk menjadi guru profesional, diperlukan NUPTK, NUPTK adalah singkatan dari Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang merupakan Nomor Induk bagi seorang Pendidik atau Tenaga Kependidikan. NUPTK diberikan kepada seluruh PTK baik PNS maupun Non-PNS sebagai Nomor Identitas yang resmi untuk keperluan identifikasi dalam berbagai pelaksanaan program dan kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. 

Sedikitnya diperlukan masa kerja 8 tahun untuk mendapatkan NUPTK, dan untuk mendapatkannya tidaklah mudah, khususnya bagi guru non PNS atau dapat kita sebut sebagai guru honorer. Untuk mendapatkannya guru harus terdaftar terlebih dahulu mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG), setelah itu guru juga harus mengikuti PLPG singkatan dari Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru. PLPG ini diadakan bagi guru yang sudah memenuhi syarat untuk menerima tunjangan profesi (sertifikasi) agar dapat meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru sebagai pengganti diharapkan. PLPG sendiri hadir sebagai ganti dari portofolio yang dinilai kurang maksimal dalam menjaring guru agar lulus sertifikasi. Tidak semua guru bisa lulus mengikuti UKG maupun PLPG ini, karena untuk mengikutinya guru haruslah melek IT, bagaimana dengan guru-guru senior yang sudah masuk usia pensiun dan bahkan masih tetap berstatus sebagai guru honorer?

Lantas, apakah guru honorer tidak dapat disebut sebagai guru professional? padahal jelas mereka memiliki 4 kompetensi utama menjadi guru?

Mari kita berkaca pada 2 guru honorer yang akan saya ceritakan berikut ini, saya menemui keduanya sebagai pembicara dalam acara yang diadakan Teachers Working Group, di Masjid Gandaria City, pada medio September 2015, Teachers Working Group adalah organisasi asuhan Ustadz Herry Nurdi yang dulu saya kenal sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Sabili. 

Guru  pertama yang saya ceritakan adalah Bapak Rudy Manggala Saputra, beliau adalah seorang guru SD negeri di daerah Cikoneng, perkebunan teh Puncak, Bogor. Beliau dengan keterbatasan fisiknya, kaki kanan nya pincang akibat pernah mengalami kecelakaan semasa remaja ini rela berjalan kaki puluhan kilometer setiap harinya untuk mengajar anak didiknya,  beliau mendirikan SD Negeri Cikoneng ini sejak tahun 1982 dengan bantuan warga, awalnya beliau melihat anak-anak di Cikoneng lebih senang nonton layar tancap dibandingkan pergi ke sekolah, beliau tidak patah semangat, karena beliau didukung oleh warga dan ketua RT setempat.

Beliau, masihlah guru honorer, beliau bercerita pernah dijanjikan menjadi PNS oleh pejabat, tetapi bukanlah SK PNS yang didapat melainkan beliau dimintai sejumlah uang oleh oknum, beliau kecewa dan menunjukkan kekecewaannya dengan merobek-robek kertas pendaftaran guru PNS di depan oknum tersebut.

”Ketika saya sudah siapkan semua persyaratan yang diminta, pejabat itu bilang itu cuma untuk menyenangkan pejabat di provinsi yang bersimpati terhadap jasa saya. Dia bilang, saya tidak bisa diangkat dan tetap sebagai guru sukarelawan saja,” tutur Rudi.

Pak Rudy bercerita, "Saya tidak patah semangat karena tujuan saya mengabdikan diri di sini bukan untuk mengejar PNS. Saya melihat bangsa dan umat yang seharusnya bisa baca dan tulis tidak terlayani karena enggak ada yang peduli. Saya merasa terenyuhnya di situ. Ini anak-anak bangsa di negara yang merdeka. Saya rela menjadi guru tanpa digaji dan diberi tunjangan maupun tidak sebagai guru PNS,” Guru kelas V dan VI sekaligus penjaga sekolah di SDN Cikoneng itu pasrah saja dengan statusnya yang hanya dihargai sebagai guru sukarelawan sejak 1987. Saat ini, Rudi dibayar pihak sekolah sebesar Rp 250.000 per bulan. Dia juga diberi gaji senilai Rp 327.000 per bulan oleh perusahaan teh. Untuk menutupi kebutuhan keluarganya, beliau rela bekerja sebagai juru parkir bagi kendaraan yang mampir ke Perkebunan Teh Cikoneng. 

Guru kedua, adalah Ceu Euis, beliau adalah wanita tuna netra yang berjuang berjalan kaki mengajar mengaji kaum tuna netra lainnya dengan Al Qur'an Braille, setiap hari beliau berjalan menyusuri Bandung Selatan untuk memberi ilmu membaca Al Qur'an, dengan sukarela, beliau bercerita, ada yang menawarinya menjadi guru PNS untuk SLB dijanjikan aneka tunjangan dan sertifikasi, tetapi beliau menolaknya, apa pasal? Karena untuk mengajar dan menjadi guru PNS terbatas ruang dan waktu, "saya teh ngajar kamana-mana". Harap diketahui, 1 qur'an braille itu bukan berarti 1 buah qur'an yang bisa dikantongi di saku atau dibawa-bawa di dalam tas. 1 qur'an braille adalah 30 bundel qur'an yang tiap bundelnya memiliki berat mencapai 800 gr. Masyaa Allah...

Bagi saya, kedua guru honorer yang menjadi pembicara dalam acara talkshow yang saya ikuti hampir 2 tahun lalu itu memberikan banyak motivasi, bahwa saya yang memanglah guru honorer ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan kedua guru luar biasa diatas, bahwa untuk mendidik masyarakat dan bangsa diperlukan 1 jenis kompetensi lagi, yaitu kompetensi keikhlasan yang tidak bisa dikonversi oleh apapun juga. Maka, Allah SWT, Malaikatnya dan Makhluk yang berada di langit dan di bumi yang mendoakan seorang guru yang mengajarkan ilmunya dengan keikhlasan, itulah honor luar biasa. 

Sebagaimana Hadits Rasulullah SAW. Dari sahabat Abi Umamah RA.: sesungguhnya Rosululloh SAW., bersabda: “keutamaan Orang Alim di bandingkan dengan orang yang ahli beribadah (tapi tidak alim), seprti keutamaanku di banding orang paling rendah kalian”, kemudian Rosululloh SAW. bersabda: “Sesungguhnya Alloh, malaikatnya dan makhluk (yang berada) di langit dan bumi sampai semut di lobangnya sampai ikan, mendoakan selamat pada orang yang mengajar kebaikan pada manusia” HR. Imam Turmudzi, 

*Penulis adalah Mahasiswi Prodi PG PAUD Universitas Muhammadiyah Jakarta (Beasiswa PTK PAUDNI), guru KB/TK di sebuah sekolah Montessori bernafaskan Islam. Juara III Tingkat TK Guru Berprestasi Dinas Pendidikan Tangerang Selatan Tahun 2016. 

403 Views
Write your answer View all answers to this question
Sponsored