selasar-loader

Siapakah pasangan calon yang akan memenangkan Pilkada di DKI Jakarta?

LINE it!
Answered Dec 13, 2016

Berapa persen persentase kemenangannya dibandingkan pasangan lainnya?


Ma Isa Lombu
Pemerhati Indonesia

hynN3AQXl8DInrZ6LYfpeNhwNogC-Wuk.jpg

Pertanyaan menarik untuk dijawab.

Saya akan mencoba menjawab pertanyaan ini lepas dari harapan dan kecenderungan, melainkan murni hitung-hitungan rasional.

Perlu kita ketahui,
berbeda dengan proxy war yang terjadi di Timur Tengah yang sangat rumit, proxy war yang terjadi di Jakarta sebenarnya relatif mudah ditebak. Ketika para politikus "bangkotan" kembali turun gunung, tidak lain pertarungan yang mereka lakukan saat ini adalah tentang perang besar lainnya di tahun 2019, Pemilu Presiden.

Kini, para tetua itu menciptakan porosnya masing-masing. Megawati dengan poros Petahana, Prabowo Subianto dengan poros Kertanegara, dan SBY dengan poros Cikeasnya.

Berdasarkan hitung-hitungan di atas kertas (di tambah variabel kasus penistaan Agama), Ahok-Djarot tetap akan mendulang suara yang besar. Bukan hanya karena Ahok merupakan petahana yang memiliki sejumlah keunggulan komparatif dengan pesaingnya yang belum menunjukkan bukti, dukungan partai politik pendukung tentu tidak dapat dianggap remeh.

Dengan semakin tersudutkannya Ahok, para pendukung akan memiliki common enemy dan semakin solid. Warga Jakarta yang sudah nyata-nyata merasakan "perubahan" saya yakin akan tetap menaruh hati kepada Ahok, meski mereka malu mengakuinya.

Catatan: Fenomena Trump yang kalah ketika survei tetap menang kala pemilihan, bisa jadi akan terjadi juga di Jakarta.

***

Jika diasumsikan bahwa perolehan jumlah kursi merepresentasikan afiliasi politik dan dukungan politik warga Jakarta, dukungan partai politik pendukung petahana saat ini sudah menentukan siapa pemenang pertarungan politik ibukota ini.

Dari data yang ada, partai pendukung Ahok-Djarot memiliki jumlah dukungan yang cukup besar, yakni jauh melampaui poros Cikeas (Demokrat, PAN, PKB, dan PPP) dan poros Kertanegara (PKS dan Gerindra). Mari kita lihat data berikut.

A. Poros Petahana (49%)
1. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dengan perolehan sebanyak 28 kursi
2. Partai Golongan Karya dengan perolehan sebanyak 9 kursi
3. Partai Hati Nurani Rakyat dengan perolehan sebanyak 10 kursi
4. Partai Nasional Demokrat dengan perolehan sebanyak 5 kursi

B. Poros Cikeas (26%)
1. Partai Demokrat dengan perolehan sebanyak 10 kursi
2. Partai Persatuan Pembangunan dengan perolehan sebanyak 10 kursi
3. Partai Kebangkitan Bangsa dengan perolehan sebanyak 6 kursi
4. Partai Amanat Nasional dengan perolehan sebanyak 2 kursi

C. Poros Kertanegara (25%)
1. Partai Gerindra dengan perolehan sebanyak 15 kursi
2. Partai Keadilan Sejahtera dengan perolehan sebanyak 11 kursi

Catatan: Perhitungan menjadi lebih rumit karena suara PPP terbelah dua: Kubu Romy ke AHY dan DF yang ke Ahok

Dengan struktur persaingan seperti ini, harusnya warga Jakarta dan tentunya para pemerhati politik dadakan yang muncul bak cendawan di musim hujan, dapat memprediksi hasil akhir yang terjadi.

Terlepas dari hitung-hitungan di atas, Pilkada Jakarta yang saya yakini akan berlangsung dua putaran: Poros Petahana versus Sang Pemenang Kedua. Konsekuensi politik dari hal ini adalah suara poros juara ketiga seketika akan jadi rebutan.

Meski di dalam percaturan dan kontestasi politik tidak ada yang pasti (karena variabel selalu bertambah dan berubah), saya memprediksi Poros Kertanegara dan tentu Poros Petahana yang akan melaju ke babak selanjutnya. Alasannya sederhana, Pasangan Agus-Sylvy masih terlalu dini untuk mendapatkan hati masyarakat Jakarta.

Profil warga Jakarta yang kritis tentu akan skeptis melihat sosok Agus Yudhoyono yang minim pengalaman menangani organisasi sipil yang dinamis, berbeda dengan militer yang menggunakan sistem komando yang mudah diprediksi dan diatur-atur. Belum lagi publik lebih mengenal Agus Yudhoyono sebagai orang yang (baru sekadar) mampu menaklukkan “buku mata pelajaran”, bukan organisasi riil yang penuh dinamika.

Ditambah pula kepercayaan masyarakat terhadap SBY dan Partai Demokrat makin menurun dari hari ke hari akibat banyak kader partainya yang terlibat kasus korupsi yang kini berakhir di penjara. Begitu pula Sylviana Murni yang tidak banyak dikenal oleh masyarakat umum.

Prediksi saya poros Cikeaslah yang akan tergusur untuk melaju ke babak selanjutnya. 

Lalu pertanyaannya, ke mana suara pendukung poros Cikeas akan mengarah?

***

Jawaban dari pertanyaan ini juga tidak kalah sederhana. Sejatinya partai politik sebagai sebuah “brand” sedang berusaha mewujudkan “positioning”-nya di mata konsumennya (voters). Untuk memenangkan kompetisi, Michael Porter dari Harvard juga menekankan arti penting sebuah brand membedakan dirinya dengan brand kompetitornya dengan menunjukan ciri khas unik yang dimiliki.

Jika melihat profil dari poros Cikeas, tiga dari empat pendukung poros ini (PPP, PKB, dan PAN) adalah Partai Islam ataupun partai yang memiliki basis massa masyarakat muslim yang relatif kuat dibandingkan partai nasionalis lain.

PPP jelas merupakan partai Islam, sedangkan PAN memiliki basis masa Muhamadiyah yang kuat, begitu pula PKB dengan dukungan dari warga NU yang tersebar di seluruh Indonesia.

Terkait dengan brand positionging yang saya singgung sebelumnya, baik PPP, PKB, ataupun PAN harusnya tetap mempertahankan ciri khasnya sebagai partai Islam atau setidaknya partai berbasis massa muslim.

Dari data ini, di pilkada putaran kedua nanti, beberapa partai politik yang saya sebut sebelumnya hampir tidak mungkin akan mengarahkan suaranya ke Ahok, terlebih lagi karena kasus penistaan agama dan proses hukum yang sedang dijalaninya. Ketiga partai politik tersebut akan dihadapkan pada pilihan yang sangat sedikit: mengarahkan suaranya ke calon tertentu (entah Ahok-Djarot/Anies-Sandi) atau membiarkan massa muslim pendukungnya untuk bebas memilih. Itu saja. Tidak ada pilihan lain. 

Apabila pilihannya adalah mengarahkan suara para pendukung muslim kepada Ahok (yang nonmuslim), saya pikir tentu hal bukan pilihan yang bijak untuk ketiga partai ini, mengingat permasalahan “Memilih pemimpin muslim” adalah persoalan ideologis-politis, derajatnya bukan lagi persoalan tepat atau kurang tepat sebagaimana layaknya dilema keputusan politik lain.

Jika mereka masih saja nekat mengambil keputusan untuk mendukung Ahok (dan Djarot), kemungkinan besar ketiga partai tersebut akan menghadapi risiko kekecewaan dari para pendukungnya dan bukan tidak mungkin akan terjadi pergeseran dukungan ke satu-satunya partai Islam yang tersisa, PKS. Belum lagi dampak gerakan 411 dan 212 yang tidak dapat dianggap remeh di akar rumput.

Tentu berpindahnya suara adalah sesuatu yang sangat tidak diinginkan oleh partai politik mana pun. Mereka jelas akan berhitung. Kemungkinan yang paling besar untuk diambil adalah mendukung Anies-Sandi atau membiarkan massa pendukung partai memilih dengan bebas calon pemimpinnya.

Pun pilihan yang diambil adalah membiarkan bebas memilih, voters muslim akan memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk memilih paslon Anies-Sandi.

Belum selesai sampai di sana. Jika pun diasumsikan seluruh poros Cikeas bergabung dengan poros Kertanegara, perbedaan suara mereka dibandingkan dengan poros Petahana hanya berselisih 2 persen (49:51).

"Jika pun diasumsikan seluruh poros Cikeas bergabung dengan poros Kertanegara, perbedaan suara mereka dibandingkan dengan poros Petahana hanya berselisih 2 persen (49:51)"

Tentu perbedaan yang tidak signifikan dan sangat susah untuk diprediksi. Namun, saya pikir prediksi akan semakin jelas ketika kita bicara tentang satu variabel kunci lain: perebutan suara!

***

Jadi mudahnya, jika Ahok ingin memenangkan pertempuran, ia harus memastikan bahwa tidak ada putaran kedua dalam Pilkada DKI tahun 2017 ini. Sayangnya itu tidak mungkin karena dengan iklim kompetisi yang ketat ini, merebut suara 50% lebih itu amatlah sulit.

Lalu, kemungkinan yang paling mungkin adalah dua putaran. Jika prediksi saya menjadi kenyataan bahwa pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi yang akan melaju ke babak selanjutnya maka pengalihan suara pendukung Agus-Sylvi yang harus kita cermati bersama.

Mari kita mulai dari hal-hal yang sederhana.

Siapa pendukung Agus-Sylvi? Profil demografi pendukung Agus-Sylvi adalah masyarakat muslim, sebagian di antaranya kelas menengah, demokrat, dan kemungkinan besar memiliki masalah dengan Ahok. Dari profiling tersebut sepertinya sudah jelas ke mana suara pendukung Agus-Sylvi akan mengarah. Probabilitas beralihnya suara pendukung Agus-Sylvi ke Anies-Sandi jauh lebih besar dibandingkan ke Ahok-Djarot.

Lalu, bagaimana dengan suara undecided voters dan para swing voters? Segolongan orang yang kabarnya memiliki jumlah mencapai kira-kira 40% dari total populasi warga Jakarta. 

Ini yang menarik.

Saya pikir, analisis ini juga tidak kalah mudah. Jadi, tidak perlu dibuat terlalu njelimet

Seperti kita tahu bahwa awalnya Ahok didukung oleh banyak anak muda dan juga orang-orang yang mendamba perubahan di Jakarta. Seperti apa dan bagaimana profil anak-anak muda pro perubahan itu? Mereka adalah kelompok masyarakat kelas menengah, kebanyakan millenials, tech-savy, dan juga berpendidikan.

Jika memang sang pembaharu hanya Ahok seorang, mungkin bulat suara segmen tersebut ke Ahok-Djarot, namun jika paslon Anies-Sandi yang akan maju ke putaran kedua, bisa jadi preferensi anak muda itu akan "terpecah-gamang" dan kemungkinan besar akan tergerus suaranya oleh Anies Baswedan, sang inisiator Indonesia Mengajar, sebuah program pendidikan-pengabdian yang memiliki reputasi baik bagi anak muda urban Jakarta.

Belum lagi citranya sebagai mantan menteri, tokoh politik muda yang reformis dan dibela mati-matian oleh Pandji, akan semakin membuat para undecided voters kelas menengah itu galau bukan kepalang.

Kegalauan mereka akan semakin menjadi-jadi dengan hadirnya Sandi Uno sebagai wakil dari Anies yang dikabarkan pintar, tajir, saleh, dan pastinya ganteng. Dengan bekal itulah, maka jelas Sandi Uno memiliki comparative advantage dibandingkan paslon Ahok-Djarot. Ia adalah sosok ideal idaman kaum hawa, mulai dari remaja putri, mahmud (mamah-mamah muda), cabe-cabean, ataupun irrational-swing voters lain, yang seperti sudah disinggung sebelumnya, mencapai 40% dari total populasi warga Jakarta. Ingat itu!

Jelas, "SBY effect" akan berulang, seperti di Pemilu Presiden tahun 2004 dan 2009.

Sudah terlihat siapa pemenangnya.

Selamat!

384 Views
Write your answer View all answers to this question
Sponsored

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia