selasar-loader

Bagaimana rupa Nabi Adam?

LINE it!
Answered Dec 13, 2016

Ma Isa Lombu
Masih Belajar Islam

BaNOIKIgcAt1GP0GMmbX8k-hfS_5ry93.jpg

Pertanyaan menarik.

Ada beberapa poin catatan yang bisa jadi mengarah pada satu jawaban solid.

a. Dengan menggabungkan literasi dari Ayat Alquran, bukti fosil spesies manusia purba yang ditemukan dalam berbagai proses penggalian arkeologis, akan sangat dimungkinkan bahwa Adam muncul pertama kali di muka bumi setelah bumi dan organisme lain tercipta.

Seperti kita yakini bersama bahwa Adam memang manusia pertama yang mendiami bumi, tetapi tidak ada yang pernah menjamin bahwa ia merupakan organisme pertama yang ada di planet ini.

Jika Adam merupakan organisme pertama di bumi, pasti ia akan kesulitan menemukan makanan untuk bertahan hidup. Karena ia pasti tidak akan menemukan bahan makanan tersebut. Jelas, karena memang ia adalah satu-satunya organisme hidup kala itu.

b. Adam hidup di masa pra-sejarah karena informasi tertulis tentang keberadaan Adam baru didapatkan ketika Tuhan menurunkan firmannya kepada para rasul.

c. Karena Adam merupakan manusia, sistem berjalan yang dimilikinya adalah bipedal, yakni berjalan dengan dua kaki.

d. Meski awalnya Adam berasal dari surga, tetapi ketika Tuhan menurunkannya ke muka bumi, sangat dimungkinkan Tuhan meng-convert wajah Adam dari wajah surga ke wajah manusia bumi pra-sejarah.

Saya juga yakin bahwa Adam memiliki rupa yang “awal-standar-mendasar” . Hal ini dikarenakan wajah Adam merupakan akar dari perkembangan triliunan variasi bentuk wajah manusia sampai saat ini.

Pendeknya, andaikan Adam memiliki wajah seperti Brad Pitt dan Hawa seperti Angelina Jolie, dapat dipastikan hari ini kita tidak melihat wajah Mandra dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan, karena keturunan akan selalu membawa gen nenek moyangnya.

e. Bahasa yang digunakan Adam adalah bahasa purba, bukanlah bahasa Arab seperti yang biasa didengungkan. Saya jelas meyakini menganggap bahwa “bahasa Arab adalah bahasa surga” adalah sebuah metafora. Hal ini menjadi sangat rasional karena bahasa merupakan produk kebudayaan. Dan budaya merupakan sesuatu yang berkembang.

Seperti kita ketahui bersama bahwa bahasa Arab adalah bahasa turunan dari bahasa Ibrani yang lebih kuno, jadi tidak mungkin bahasa turunan tercipta lebih awal dari bahasa pendahulunya.

Perihal bahasa Arab adalah bahasa surga, saya berpikir Tuhan sedang menggunakan kata kiasan. Seperti penggunaan frasa “pakaian takwa”, wanita sebagai “tanah bercocok tanam”, ataupun kata kiasan lain dalam Alquran.

f. Mungkin ketika Adam baru diturunkan ke bumi, ia masih "klimis", tanpa rambut, maklum dari surga. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Adam dipastikan memiliki rambut dan janggut yang terjulur lebat tidak terurus karena pada saat itu belum ditemukan pisau cukur, sisir, apalagi sampo.

g. Pakaian Adam berupa kulit binatang ataupun daun-daunan yang sederhana dan sangat fungsional, karena pada saat itu belum ditemukan teknologi pemintal benang untuk dijadikan pakaian, apalagi standar menutup aurat.

h. Adam diturunkan dalam keadaan tidak “berbudaya” karena ia adalah perintis kebudayaan itu sendiri. Akumulasi informasi yang ada dalam sebuah masyarakat menentukan tingkat kebudayaan masyarakat itu sendiri.

Dalam masa awal, Adam hanya diberi tahu Tuhan atas nama-nama benda, bukan bagaimana cara mengoperasikan fungsi benda tersebut. Oleh karena itulah, sangat dimungkinkan Adam dan keturunan awalnya adalah pihak-pihak yang juga menggunakan perkakas purba yang ditemukan oleh para arkeolog di abad 20 ini.

Bukti bahwa Adam dan keturunan awalnya belum berbudaya adalah ketika Kabil (putra Adam) harus melihat burung gagak untuk mencontoh prosesi penguburan saudaranya. Disebutkan dalam Alquran: 

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Kabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Kabil, "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?" Karena itulah, jadilah ia seorang di antara orang-orang yang menyesal  (Al-Maidah : 31).

Analogi sederhana bahwa tingkat akumulasi informasi merupakan sumber dari terciptanya sebuah kebudayaan dapat kita lihat dalam film fiksi yang sudah kita kenal bersama, Tarzan.

Diriwayatkan dalam cerita tersebut, Tarzan kecil sejatinya adalah anak yang normal dari keluarga yang cukup beradab di belahan Eropa sana. Hingga suatu saat terjadi kecelakaan pesawat di tengah hutan belantara dan menyebabkan akhirnya si Tarzan kecil harus diasuh oleh kawanan orang utan dalam masa perkembangannya.

Dengan kondisi minim “informasi” seperti itulah wajar saja ketika “Tarzan si manusia normal” akan bertindak selayaknya manusia purba yang belum mengenal peradaban. Seperti layaknya Tarzan, begitu juga Adam.

Meski demikian, saya jelas meyakini bahwa Adam adalah manusia sempurna, bukan kera seperti yang dituduhkan oleh Darwin dan para pengikutnya.

Ia adalah makhluk Tuhan yang hanif (lurus), yang mengerjakan segala apa yang diperintah, dan menjauhi segala apa yang dilarang. Adam adalah figur manusia takwa.

"Ia adalah makhluk Tuhan yang hanif (lurus), yang mengerjakan segala apa yang diperintah, dan menjauhi segala apa yang dilarang".

“... Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (49:13)

Dari analisis di atas, mungkin seperti ini wujud rupa Adam.
4K_9MRyMAV14ujGmzguv3acCfyO9ecE-.jpg

1221 Views
Write your answer View all answers to this question
Sponsored

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia