selasar-loader

(Tugas Esai) Apa solusi ketahanan pangan, ekonomi, dan energi di Indonesia?

LINE it!
Answered Aug 17, 2017

Essay Solusi Ketahanan Pangan, Ekonomi, dan Energi di Indonesia

Mahasiswa baru diwajibkan menuliskan sebuah essay dengan tema-tema yang menjadi sebuah permasalahan yang sedang dihadapi oleh Indonesia saat ini. Dalam penulisan essay ini diharapkan mahasiswa baru mampu menuangkan pemikirannya kedalam sebuah tulisan serta belajar mengenai cara penulisan karya tulis yang baik dan benar. Oleh karena itu di dalam penulisan essay ini, mahasiswa baru menuliskan essay disertai dengan latar belakang, isi, kesimpulan, dan daftar pustaka dengan bentuk paragraf bukan bentuk per bab, dari data-data yang didapatkan untuk essay tersebut. Mahasiswa baru akan mengerjakan essay ini secara online pada web Raja Brawijaya 2017 dan batas minimal penulisannya yaitu 1000 kata tidak termasuk daftar pustaka. Berikut tema dan judul penulisan essay yang dapat dipilih salah satu oleh mahasiswa baru.
 

Tema : Solusi Mahasiswa dalam Menangani 3 Permasalahan Pokok Indonesia” 
Judul : 
1. Mewujudkan Ketahanan Pangan Indonesia dengan Penerapan Pertanian Berlanjut
2. Mewujudkan Insentif bagi Masyarakat Sebagai Upaya Pemerataan Perekonomian Daerah
3. Pemanfaatan Energi Alternatif Sebagai Upaya Perwujudan Indonesia Bebas Polusi

Diharapkan dengan permasalahan yang diusung, mahasiswa baru bisa menjadi insan yang solutif dan mampu berinovasi dalam menyelesaikan 3 pokok pemasalahan yang ada di Indonesia. 

Dalam Essay tersebut cantumkan Nama, Cluster, dan Fakultas.


Nama : Nahara Putri Syifana

Cluster : 4

Fakultas : Pertanian/Agribisnis                                                                                        JUDUL 

Mewujudkab Ketahanan Pangan Indonesia dengan Penerapan Pertanian Berlanjut

PENDAHULUAN

Indonesia sebagai negara agraris dengan luas lahan pertanian mencapai30,61 juta Ha (Litbang Kementan 2011), menempatkan pertanian sebagai salahsatu sektor primer yang mendukung pembangunan nasional. Variabel pentingterhadap pembangunan nasional tidak hanya ditunjukkan atau dibuktikan dariaspek ekonomi, namun bersentuhan secara langsung dalam aspek pembangunannasional lainnya yakni politik, sosial, dan budaya yang semuanya diarahkan padaupaya mewujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Dalam rangka menjagaketersediaan pangan

 – 

hasil pertanian

 – 

dalam jangka panjang, dibutuhkan produksipertanian yang berkelanjutan (

sustainable agriculture

). Pertanian berkelanjutanmerupakan pengelolaan sumber daya alam serta perubahan teknologi dankelembagaan sedemikian rupa untuk menjamin pemenuhan dan pemuasankebutuhan manusia secara berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang(FAO 1989).

Istilah “pertanian” yang disandingkan dengan istilah “keberlanjutan”

mencakup beberapa aspek penting. Ada tiga aspek pokok pertanian berkelanjutan,yaitu: kesadaran lingkungan, bernilai ekonomis, dan berjiwa sosial. SelanjutnyaLibunao (1995) dalam Salikin (2007), menyatakan bahwa paling tidak terdapatdelapan ciri spesifik agar suatu pertanian dikatakan berkelanjutan, meliputi: 1)bernuansa ekologi; 2) berjiwa sosial; 3) bernilai ekonomis; 4) berbasis ilmuholistik; 5) berketepatan teknik; 6) berketepatan budaya; 7) dinamis; dan 8) pedulikeseimbangan gender.Semangat untuk menjaga pertanian dalam koridor keberlanjutan semakinmasif ketika terjadi degradasi tanah khususnya lahan pertanian dan air baik darisegi kualitas maupun kuantitas. Hal ini menurut Gliessman (2007), terjadi karenaselama ini pertanian konvensional hanya ditempatkan dalam konteks peningkatanproduksi (orientasi ekonomi) tanpa memperhatikan aspek lingkungan (ekologi).Fokus keberhasilan pertanian hanya menggunakan indikator produktivitas untuk mencapai keuntungan sebesar-besarnya dalam tempo yang cepat bagaimanapuncaranya, seperti penggunaan pupuk kimia, pestisida, sistem irigasi dan mesin-mesin pertanian modern.

 

WAJAH PERTANIAN KITA SAAT INI

 

 A.

 

Ketersedian Sumberdaya Pertanian

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, pertanian berkelanjutansecara sistemik menyangkut tiga aspek pokok yaitu ekologi, ekonomi dansosial budaya. Ketiga aspek tersebut merupakan mata rantai yangseharusnya tidak terpisahkan dalam membentuk dan menjaga kesinam-bungan pertanian nasional.Uraian mengenai aspek ekologi pertanian lebih difokuskan padakondisi lahan pertanian. Metrotvnews.com mengutip komentar ProfesorIswandi Anas, bahwa hampir 75 % lahan pertanian di Indonesia sudah kritiskarena penurunan kualitas kesuburan tanah. Penurunan kualitas tanah ituakibat pemakaian pupuk kimia dengan dosis tinggi dalam kurun waktu yangpanjang dan terus-menerus. Penggunaan bahan kimia untuk menghindarigagal panen dan serangan hama dan penyakit, padahal bahan kimia tersebutakan menyebabkan residu pada tanah dan hasil produksi pertanian.Dari total luas lahan Indonesia, tidak terrnasuk Maluku dan Papua,sekitar 64.783.523 ha lahan digunakan untuk pekarangan, tegalan / kebun / ladang / huma, padang rumput, lahan sementara tidak diusahakan, lahanuntuk kayu-kayuan, perkebunan dan sawah (BPS 2001). Data lahanpertanian dari BPS sejak tahun 1986

 – 

2000, memperlihatkan bahwaperluasan lahan pertanian berkembang sangat lambat. Terutama lahan sawahsebagai penghasil utama pangan; hanya berkembang dari 7,77 juta ha padatahun 1986 menjadi 8,52 juta ha pada tahun 1996 bahkan cenderungmenyusut menjadi 7,79 juta ha pada tahun 2000.Berdasarkan hasil evaluasi lahan pada skala eksplorasi untuk seluruhwilayah Indonesia, diperoleh data bahwa lahan-lahan yang sesuai untuk pertanian seluas 100,7 juta ha, terdiri dari lahan sesuai untuk tanamanpangan seluas 24,6 juta ha lahan basah dan 25,3 juta ha lahan kering, sertaseluas 50,9 juta ha sesuai untuk tanaman tahunan (Puslitbangtanak, 2002).Sementara data potensi lahan pertanian Indonesia sebagaimana yangdirilis oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, KementerianPertanian (2011) menyebutkan luas areal pertanian Indonesia adalah seluas

3-dd79091a8c.jpg

 

 

30.613.634 Ha. Ini berarti bahwa terjadi penurunan areal pertanian 70% jika dibandingkan data tahun 2002.

nstribusi Terhadap Pembangunan Nasional

Pertanian merupakan sektor penyedia pangan yang tidak pernah lepasdari berbagai persoalan, baik persoalan ekologi, ekonomi, sosial danbudaya, bahkan persoalan kebijakan politik. Hal ini tidak berlebihan karenapangan adalah kebutuhan pokok penduduk, terutama di Indonesia. Laporan

BPS tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia sudahmencapai 237,641,326 jiwa atau meningkat sebesar 15,21% dari tahunsebelumnya. Kondisi ini membutuhkan ketersediaan pangan yang cukupagar tidak menjadi salah satu penyebab instabilitas pangan nasional. Dalamrangka pemenuhan kebutuhan pangan terutama mempertahankan sekaligusmeningkatkan produksi pangan, pada level lapangan masih banyak hambatan dan kendala yang dijumpai. Dari sekian banyak hambatan dankendala tersebut, ada yang dapat ditangani melalui introduksi teknologi danupaya strategis lainnya, tetapi ada pula yang sukar untuk ditangani terutamayang berkaitan dengan fenomena alam.Pembangunan pertanian menempati prioritas utama dalam pemba-ngunan ekonomi nasional. Dalam pendekatan perhitungan pendapatannasional, sektor pertanian terdiri dari sub-sektor tanaman pangan danhortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan. Selainsektor pertanian, terdapat delapan sektor ekonomi lainnya yang secarabersama menentukan besarnya pertumbuhan ekonomi bangsa melaluipendapatan domestik (GDP) dan pendapatan nasional (GNP). Pada tahun1993, sumbangan sektor pertanian terhadap GDP adalah 18%, kemudianturun menjadi 15% pada tahun 1997. Namun dengan adanya krisis ekonomi,sektor pertanian kembali menunjukkan perannya yang lebih besar yaitusumbangannya sebesar 17% pada GDP pada tahun 1998 (BPS 1998).Sedangkan pertumbuhan PDB menurut lapangan usahanya, pada tahun 1997pertumbuhan sektor pertanian sebesar 0,7% dan memberikan sumbangansebesar 0,1%. Pada tahun 1998, pertumbuhan mengalami penurunanmenjadi 0,2% dan meningkat menjadi 2,7% pada tahun 1999.

Selain kontribusinya melalui GDP, peran sektor pertanian dalampembangunan nasional dapat dilihat dari peran sektor pertanian yang sangatluas, mencakup beberapa indikator antara lain:a.

 

Pertama, pertanian sebagai penyerap tenaga kerja yang terbesar.Data Sakernas menunjukkan bahwa pada tahun 1997, dari sekitar87 juta jumlah tenaga kerja yang bekerja, sekitar 36 jutadiantaranya bekerja di sektor pertanian (Sakernas 1986 dan 1997).b.

 

Pertanian merupakan penghasil makanan pokok penduduk. Peranini tidak dapat disubstitusi secara sempurna oleh sektor ekonomi

lainnya, kecuali apabila impor pangan menjadi pilihan. Komoditastanaman pangan yang utama adalah padi, jagung dan kedelai.

Komoditas pertanian sebagai penentu stabilitas harga. Hargaproduk-produk pertanian memiliki bobot yang besar dalam indeksharga konsumen sehingga dinamikanya sangat berpengaruhterhadap inflasi.d.

 

Akselerasi pembangunan pertanian sangat penting untuk mendorong ekspor dan mengurangi impor. Pembangunanpertanian mencakup pemasaran dan perdagangan komoditas.e.

 

Komoditas pertanian merupakan bahan industri manufakturpertanian. Masih dalam suatu sistem rantai agribisnis, industrimanufaktur (pengolahan) pertanian, baik yang mengolahkomoditas pertanian maupun yang menghasilkan input pertanianmenduduki tempat yang penting. Kegiatan industri manufakturpertanian hanya bisa berjalan apabila memang ada kegiatanproduksi yang sinergis. Dengan demikian kehadiran sektorpertanian adalah prasyarat bagi adanya sektor industri manufakturpertanian yang berlanjut.

f.

Pertanian memiliki keterkaitan sektoral yang tinggi. Keterkaitanantara sektor pertanian dengan sektor lain dapat dilihat dari aspek keterkaitan produksi, konsumsi, investasi, dan fiskal.Berdasarkan data Direktorat Jenderal Hortikultura, kontribusihortikultura pada pembentukan PDB cenderung meningkat. Pada tahun2005 PDB Hortikultura sebesar Rp. 61,79 Trilliun naik menjadi Rp. 89,057Trilliun pada tahun 2009. Pada tahun 2000 sektor pertanian menyeraptenaga kerja sebesar 38.427.606 orang atau setara 67,79% (BPS 2000).Berdasarkan data BPS mengenai penyerapan tenaga kerja terbaru, sektorpertanian menyerap tenaga kerja sebesar 41.611.840 orang pada tahun2009, mengalami kecenderungan menurun pada tahun 2010 menjadi41.494.941 orang dan tahun 2011 menjadi 39.330.000 orang.

 

 

16 

Maka menjadi sangat mengherankan jika saat ini, pengertian panganselalu identik dengan beras. Masyarakat tertentu di Indonesia memangmenempatkan beras sebagai bahan makanan pokok (

staple food 

).Sementara sebagian masyarakat yang lain ada yang memilih ubi, jagung dan sagu sebagai makanan pokok.Kecenderungan untuk menjadikan beras sebagai bahan panganpokok (

mentality rice

) sesungguhnya tidak tumbuh secara kebetulan,mendadak dan juga bukan persoalan selera rasa.

 Mentality rice

 tumbuh dan berkembang bersamaan dengan pilihan kebijakanpembangunan pertanian yang sejak awal tertuju atau menekankanpada kebutuhan beras (Usman, 2004 dalam Anonim 2011). Ketikadiasumsikan bahwa bahan pangan pokok adalah beras, makakebutuhan akan beras menjadi semakin meningkat. Tentu saja iniberpotensi menimbulkan kelangkaan akan beras, yang akhirnya akandiikuti dengan peningkatan harga bahan pangan pokok beras.Pengembangan berbagai varietas tanaman pertanian telahmembantu menaikkan produktivitas, namun di sisi lain banyak plasmanutfah atau spesies liar yang hilang. Penanaman varietas tanamanpertanian yang seragam juga membuat keanekaragaman genetik berkurang atau hilang.4.

 

Masalah infrastruktur dan teknologi pertanianTerbatasnya aspek ketersediaan infrastruktur penunjangpertanian yang juga penting namun minim ialah pembangunan danpengembangan waduk. Pasalnya, dari total areal sawah di Indonesiasebesar 7.230.183 ha, sumber airnya 11 persen (797.971 ha) berasaldari waduk, sementara 89 persen (6.432.212 ha) berasal dari non-waduk. Karena itu, revitalisasi waduk sesungguhnya harus menjadiprioritas karena tidak hanya untuk mengatasi kekeringan, tetapi jugauntuk menambah layanan irigasi nasional. Badan NasionalPenanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, 42 waduk saat inidalam kondisi waspada akibat berkurangnya pasokan air selamakemarau. Sepuluh waduk telah kering, sementara 19 waduk masih

17-34b52f4f52.jpg

 

 

17 

berstatus normal. Selain itu masih rendahnya kesadaran dari parapemangku kepentingan di daerah untuk mempertahankan lahanpertanian produksi, menjadi salah satu penyebab infrastrukturpertanian menjadi buruk.Masalah lain adalah adanya kelemahan dalam sistem alihteknologi. Ciri utama pertanian modern adalah produktivitas, efisiensi,mutu dan kontinuitas pasokan yang terus menerus harus selalumeningkat dan terpelihara. Produk-produk pertanian kita baik komoditi tanaman pangan (hortikultura), perikanan, perkebunan danpeternakan harus menghadapi pasar dunia yang telah dikemas dengankualitas tinggi dan memiliki standar tertentu. Tentu saja produk dengan mutu tinggi tersebut dihasilkan melalui suatu proses yangmenggunakan muatan teknologi standar. Indonesia menghadapipersaingan yang keras dan tajam tidak hanya di dunia tetapi bahkan dikawasan ASEAN. Namun tidak semua teknologi dapat diadopsi danditerapkan begitu saja karena pertanian di negara sumber teknologimempunyai karakteristik yang berbeda dengan negara kita, bahkankondisi lahan pertanian di tiap daerah juga berbeda-beda. Teknologitersebut harus dipelajari, dimodifikasi, dikembangkan, dan selanjutnyabaru diterapkan ke dalam sistem pertanian kita. Dalam hal ini perankelembagaan sangatlah penting, baik dalam inovasi alat dan mesinpertanian yang memenuhi kebutuhan petani maupun dalampemberdayaan masyarakat. Lembaga-lembaga ini juga dibutuhkanuntuk menilai respon sosial, ekonomi masyarakat terhadap inovasiteknologi, dan melakukan penyesuaian dalam pengambilan kebijakanmekanisasi pertanian.

D.

 

Kelembagaan dalam Pengelolaan Pertanian Nasional

Secara teknis aspek kelembagaan menjadi syarat untuk mewujudkanpertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional. Kelembagaan yangdimaksud adalah mencakup kelembagaan atau stakeholder pemerintah,petani (kelompok tani dan gapoktan), perguruan tinggi dan ormas yangmemiliki kepedulian terhadap sektor pertanian. Kelembagaan ini nantinya

18-81d2dfa407.jpg

 

 

18 

akan memainkan fungsi regulasi, inovasi, motivasi, fasilitasi danpengawasan sesuai dengan kedudukan

stakeholder 

masing. Stakeholderatau lembaga tersebut akan membentuk sistem yang sinergi yang bersifatkemitraan.Secara struktural persoalan pertanian di negeri ini ditangani langsungoleh Kementerian Pertanian. Hanya saja pada kenyataannya pelaksanaanpembangunan pertanian bersentuhan langsung dengan sektor-sektor lainnya.Hal ini mencerminkan adanya pola hubungan antara Kementerian Pertaniandengan kementerian lainnya. Pelaksanan sistem pertanian berkelanjutan danketahanan pangan tentunya melibatkan banyak pihak terkait diantaranya :-

 

Pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum (PU),Kementerian Pertanian, Badan Pusat Statistik (BPS) dan BadanPertanahan Nasional (BPN)-

 

Pemerintah daerah baik pemerintah provinsi maupun kabupaten/kotaserta pemerintah desa-

 

Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan)/kelompok tani atau petani

 

 

 

21 

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem BudidayaTanaman Pasal 2 menjelaskan bahwa sistem budidaya tanaman sebagai bagianpertanian yang dilakukan dengan asas manfaat, lestari, dan berkelanjutan. Selainitu, dalam Bab V (Tata Ruang dan Tata Guna Tanah Budidaya Tanaman) Pasal 44ayat (2) menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan pertanian dilakukan denganmemperhatikan kesesuaian dan kemampuan lahan maupun pelestarian lingkunganhidup khususnya konservasi tanah.Lebih rinci dalam Undang-Undang RI No. 41 tahun 2009 tentangPerlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Pasal 3 menjelaskan bahwaperlindungan pertanian pangan berkelanjutan diselenggarakan dengan tujuan 1)melindungi kawasan dan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan; 2)menjamin tersedianya lahan pertanian pangan secara berkelanjutan; 3)mewujudkan kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan; 4) melindungikepemilikan lahan pertanian pangan milik petani; 5) meningkatkan kemakmuranserta kesejahteraan petani dan masyarakat; 6) meningkatkan perlindungan danpemberdayaan petani; 7) meningkatkan penyediaan lapangan kerja bagikehidupan yang layak; 8) mempertahankan keseimbangan ekologis; dan 9)mewujudkan revitalisasi pertanian. Adapun peraturan-peraturan yang terkaitdengan pembangunan berkelanjutan dan ketahanan pangan disajikan dalamLampiran 2.Salikin (2011) menjelaskan bahwa pertanian berkelanjutan (

sustainableagriculture

) menyentuh tiga aspek yakni kesadaran lingkungan (

 EcolologicallySound 

), bernilai ekonomi (

 Economic Valueable

) dan berwatak sosial ataukemasyarakatan

(Socially Just)

. Ketiga aspek ini saling berkaitan membentuk satusistem pertanian secara terpadu. Mengabaikan salah satu aspek tersebut makapertanian akan berjalan timpang dan tidak berkelanjutan.

Aspek kesadaran lingkungan

menjelaskan bahwa

 

sistem budidayapertanian tidak boleh menyimpang dari sistem ekologis yang ada. Keseimbanganadalah indikator adanya harmonisasi dari sistem ekologis yang mekanismenyadikendalikan oleh hukum alam. Misalnya perburuan ular sawah untuk diambilkulitnya akan mengakibatkan terganggunya keseimbangan dan keteganganekologis berupa timbulnya ledakan populasi tikus sawah, sehingga berubah

22-f2b820e8f0.jpg

 

 

22 

menjadi hama yang merugikan. Demikian juga, penggunaan obat-obatan kimiapada sistem ekologi persawahan akan mengakibatkan terganggunya keseimbanganlingkungan karena matinya organisme non-hama yang sebenarnya bermanfaat.Misalnya, sekarang sangat sulit mendapatkan belut, katak hijau, capung, bibis,belalang, dan serangga lain yang hidup liar di sawah. Padahal hewan-hewantersebut memiliki keterkaitan manfaat, baik sebagai tambahan sumber bahanpangan potensial maupun sebagai penentu keseimbangan ekosistem persawahan.

Aspek ekonomis

 

menjelaskan bagaimana sistem budidaya pertanian harusmengacu pada pertimbangan untung rugi, baik bagi diri sendiri dan orang lain,untuk jangka pendek dan jangka panjang, serta bagi organisme dalam sistemekologi maupun di luar sistem ekologi. Motif-motif ekonomi saja tidak cukupmenjadi alasan pembenaran untuk mengeksploitasi sumberdaya pertanian secaratidak bertanggung jawab. 

Aspek Sosial atau Kemasyarakatan

 

menjelaskan sistem pertanian harusselaras dengan norma-norma sosial dan budaya yang dianut dan dijunjung tinggioleh masyarakat di sekitarnya. Norma-norma sosial dan budaya harus lebihdiperhatikan, apalagi dalam sistem pertanian di Indonesia biasanya jarak antaraperumahan penduduk dengan areal pertanian sangat berdekatan. Didukung dengantingginya nilai sosial, budaya, dan agama, maka aspek ini menjadi sangat sensitif dan harus menjadi pertimbangan utama sebelum merencanakan suatu usahapertanian dalam arti luas. Masing-masing daerah memiliki kekayaan pengetahuanlokal spesifik dan tatanan adat di bidang pertanian yang sangat dihormati olehmasyarakat setempat.Pertanian berkelanjutan juga banyak diidentikan dengan istilah LEISA(

 Low External Input Sustainable Agriculture

) atau LISA (L

ow Input Susteainable Agriculture

), yaitu sistem pertanian yang berupaya meminimalkan penggunaaninput (benih, pupuk kimia, pestisida dan bahan bakar) dari luar ekosistem, yangdalam jangka panjang dapat membahayakan kelangsungan hidup sistem pertanian(Salikin 2007). Secara umum, pertanian berkelanjutan bertujuan meningkatkankualitas kehidupan (

quality of life

). Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukanpaling tidak tujuh macam kegiatan, yaitu: meningkatkan pembangunan ekonomi,memprioritaskan kecukupan pangan, meningkatkan pengembangan sumberdaya

23-5f425cfd17.jpg

 

 

23 

manusia, meningkatkan harga diri, memberdayakan dan memerdekakan petani,menjaga stabilitas lingkungan, dan memfokuskan tujuan produktivitas untuk  jangka panjang (Manguiat 1995 dalam Salikin 2007). Masalahnya, banyak kebijakan pemerintah sejak zaman orde baru mencetak paradigma yang sangatkuat. Kebijakan seperti revolusi hijau dan penyeragaman pangan nasional yangdiperkuat oleh haegomoni politik membuat semakin sulitnya menguubahparadigma tersebut. Bahkan UNDP (United Nations Development Programs)

membuat sebuah kuadran “keberhasilan pembangunan” yang tidak menyinggung

aspek moral dan lingkungan.

 Human Capital

yang dicirikan oleh peningkatan

 physical capital

dan

 finance capital

secara implisit menjadi variable penentu darikeberhasilan pembangunan tersebut.

 

 

24 

masih belum signifikan melepaskan kinerja agribisnis dari keterpurukannya.Demikian pula pada masa pemerintahan Kabinet Persatuan Nasional,Kabinet Gotong Royong, hingga Kabinet Indonesia Bersatu, perhatianpemerintah terhadap konsep pertanian yang keberlanjutan di Indonesiamasih dinilai kurang serius.Hegemoni politik masih mendominasi lahirnya kebijakan-kebijakan disektor pertanian, sehingga ia lahir tanpa berpihak pada

kekuatansumberdaya domestik 

 — 

salah satu ciri yang paling vulgar adalah kebijakanimpor bahan pangan dengan pertimbangan statistik secara nasional. Selainitu adanya kebijakan pertanian yang kurang mendukung perkembanganagribisnis nasional seperti liberalisasi pasar pertanian, impor beras,industrialisasi yang mengikis sektor pertanian, serta kinerja lembaga-lembaga terkait yang tidak efektif dan efisien. Maka dari itu, perlu suatukebijakan yang komprehensif guna meningkatkan kesejahteraan petaniIndonesia, seperti perbaikan infrastruktur terkait,

land reform

 

 policy

agarpetani tidak lagi sekedar menjadi buruh tani, perbaikan mekanisme subsidipupuk, serta perluasan lahan pertanian, dengan harapan hasil produksimeningkat sehingga terwujud ketahanan pangan nasional dan petanisejahtera. Akan tetapi, praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yangsudah secara sistemik dan terstruktur di negara ini sangat mempengaruhipembangunan pertanian sampai pada level akar rumput. Paradigma pembangunan pertanian oleh Menteri Pertanian pada masaKabinet Reformasi bisa dikatakan hanya sebagai pendukung, bukan jiwapertanian nasional. Akibatnya, sektor pertanian diposisikan sebagaipemasok bahan kebutuhan pangan dan bahan baku industri berharga murah,pengendali stabilitas harga, dan sumber tenaga kerja murah. Jadi paradigmapembangunan pertanian masa pra-reformasi itu tidak sesuai dengankekuatan nusantara yang sebenarnya memiliki sumber daya alam tropisyang melimpah dan sumber tenaga kerja pertanian yang banyak di pedesaan. Maka pada masa Kabinet Indonesia Bersatu, paradigma itu berubah menjadiparadigma produksi yang diikuti dengan paradigma sistem dan agribisnis.

25-76ed861d86.jpg

 

 

25 

Berdasarkan paradigma baru tersebut, tampak bahwa pemerintahmenaruh harapan besar terhadap pelaksanaan pembangunan pertanian yangmemberikan kontribusi besar bagi pemeliharaan ketahanan pangan danperekonomian nasional. Namun saat ini, ketahanan pangan nasional lebihdiartikan sebagai penyediaan pangan secara nasional sehinggapendekatannya selalu berupa upaya pemenuhan kebutuhan pangan rakyatIndonesia. Namun harapan itu tidak didukung secara

nyata

melaluikebijakan-kebijakan yang termonitor terhadap tingkat harga bahan input,harga jual, dukungan teknologi dan ilmu pengetahuan, sehingga menjadikantingkat pendapatan usaha tani menjadi rendah dan menyebabkan kerawananpangan di tingkat masyarakat. Visi dan misi kementrian pertanian terbaru masih dirasa kontraproduktif dan di

nilai “

setengah h

ati”

terhadap ketahanan pangan nasional.Peluang tetap dilaksanakannya sistem pertanian yang sarat dengan masukaneksternal (HEIA,

high external input agriculture

) masih sangat terbukalebar. Aspek ekologi tidak secara tegas disebutkan dalam visi, namun hanya

ditempatkan pada misi dengan kalimat “berwawasan lingkungan”

(sistemLEISA,

low external input and sustainable agriculture

). Selain itu istilah

“k 

emandirian pangan

yang ada pada visi justru tidak secara jelas teruraidalam misinya, seharusnya pemerintah konsisten dengan visinya mendorongsetiap wilayah untuk melakukan produksi pangan yang sesuai dengan

 keragaman lokal 

. Sehingga keragamangan ini dirasa masih sebagaiparadigma lama ketahanan pangan yang bersifat pemenuhan pangan secaranasional bukan individu. Paradigma seperti itu pada kenyataannya terbuktitelah menyebabkan kerawanan pangan di keluarga, bahkan tingkat individu,seperti yang telah terbukti selama krisis pangan berlangsung. Pertanian berkelanjutan seperti sistem LEISA, memiliki keunggulantata laksana pertanian yang berkearifan lingkungan dan mengedepankankeragaman lokal tanpa mengesampingkan aspek ekonomi, sosial danbudayanya. Dengan menyeleksi dan menyesuaikan teknik dan sumberdayagenetik yang sesuai, petani dapat menciptakan sistem LEISA bagi tata letak fisik hayati dan sosiokulturnya.

Sistem-sistem terpadu

inilah yang dapat

26-107186c5e6.jpg

 

 

26 

menyediakan kebutuhan sehari-hari bagi keluarga petani. Kombinasiberbagai macam spesies tanaman dan hewan dan penerapan beraneka ragamteknik untuk menciptakan kondisi yang cocok dan untuk melindungilingkungan juga membantu petani menjaga produktivitas lahan mereka danmengurangi resiko usaha tani. Model-model pertanian berkelanjutan danterpadu yang ada bukanlah sebuah model yang dibakukan. Model-model ituberfungsi sebagai suatu basis untuk membahas pilihan-pilihan teknik yangharus disesuaikan dengan karakteristik khas tiap lahan melalui prosespengembangan teknologi partisipatoris.

 

 

30 

III.

 

SIMPULAN

 

1.

 

Konsep ketahanan pangan yang dianut dan dijalankan saat ini justru telahmenyengsarakan masyarakat tani secara individu.2.

 

Pertanian berkelanjutan dan terpadu yang mengambil pendekatan ekologidan komoditi lokal merupakan solusi untuk menghindari kerawanan pangannasional. Pertanian yang dikembangkan harus mengedepankan tiga faktorpenting yaitu ramah lingkungan / ekologi, menguntungkan secara ekonomi,serta memberikan dampak sosial yang positif.3.

 

Pertanian organik dapat menjadi solusi untuk pengembangan pertanian dimana selain produktivitas ekonomi yang tetap terjaga, lingkungan pertanianpun tetap lestari.4.

 

Pemerintah perlu membuat kebijakan yang lebih fundamental, yakni secarategas dan rinci mendukung pola pertanian berkelanjutan dan komoditi lokal,serta bertanggung jawab dalam implementasinya di lapangan.5.

 

Diperlukan langkah nyata dan terkontrol dari pemerintah melalui kebijakandan revitalisasi peran lembaga pertanian sampai ke tingkat daerah.

31-01c752ceb8.jpg

 

 

31 

DAFTAR PUSTAKA

 

[Anonim]. 2011.http://aksarasahaja.wordpress.com/2011/01/15/kerusakan-lingkungan-dan-krisis-pangan/ (diakses 20 September 2012).Anshori, Imam. 2009. Konsepsi Pengelolaan Sumber Daya Air Menyeluruh danTerpadu.

 Buletin Dewan Sumberdaya Air Nasional

tahun 2009.[BPS] Badan Pusat Statistik. 2000.

 Hasil Sensus Penduduk, Penyerapan TenagaKerja

. Jakarta: BPS.______________________. 2001.

Data Lahan Pertanian

. Jakarta: BPS.______________________. 2004.

Data Lahan Pertanian

. Jakarta: BPS.______________________. 2010.

 Data Kependudukan Nasional

. Jakarta: BPS.Daniel dan Gudon E. 1998. Menggugat Revolusi Hijau Orde Baru.

WACANA

 No. 12/Juli-Agustus.[FAO] Food and Agriculture Organization. 1989.

World, The State of Food and  Agriculture

. Rome, Italy: Food and Agriculture Organization of the UN.[FAOSTAT] Food and Agriculture Organization of the United Nations, StatisticsDatabase. www.faostat.fao.org (diakses 6 Oktoember 2012).Fauzi, A. 2006.

 Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan: Teori dan Aplikasi

. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.Gliessman SR. 2007.

 Agroecology: The Ecology of Sustainable Food System

Edke-2. Boca Raton: CRC Press.Hamm, Ulrich dan Michelsen, Johannes. 2000. Analysis of The Organic FoodMarket in Europe. Prosiding Konferensi Ilmiah IFOAM di Swiss.Hermanto dan K.S Swastika, Dewi. 2011. Penguatan Kelompok Tani: LangkahAwal Peningkatan Kesejahteraan Petani.

 Jurnal Analisis KebijakanPertanian Volume 9 Nomor 4, Desember 2011

.Jolly, Desmond. 2000. From Cottage Industry to Conglomerates: TheTransformation of The US Organic Food Industry. Prosiding KonferensiIlmiah IFOAM di Swiss.[Litbang Kementan] Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, KementerianPertanian. 2011.

 Data Potensi Lahan Pertanian Indonesia

. Jakarta:Kementerian Pertanian.

32-4839dc460b.jpg

 

 

32 

[LK Kementan] Laporan Kinerja Kementerian Pertanian RI. 2011. JakartaMetroTV. 2011.http://metrotvnews.com/read/news/2011/12/15/75484/IPB-75-Persen-Lahan-Pertanian-Indonesia.(diakses September 2012).[PSP Kementan] Direktorat Jendral Prasarana dan Sarana Pertanian, KementerianPertanian. 2011. www.psp.deptan.go.id (diakses September 2012).[Puslitbangtanak] Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat.2002.

 Data Hasil Evaluasi Lahan di Indonesia

. Jakarta: Puslitbangnak Reijntjes. 2009.Salikin KA. 2007.

Sistem Pertanian Berkelanjutan

. Yogyakarta: PenerbitKanisius.Saptana dan Ashari. 2007. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan MelaluiKemitraan Usaha.

 Jurnal Litbang Pertanian

, no 26(4): 123-130.Sutawan, Nyoman. 2001. Pengelolaan Sumberdaya Air untuk PertanianBerkelanjutan

 – 

Masalah dan Saran Kebijaksanaan.

 Ejournal UniversitasUdayana - Bali

.[Tim Sintesis Kebijakan] Balai Besar Penelitian dan Pengembangan SumberdayaLahan Pertanian. 2008. Strategi Penanggulangan Pencemaran LahanPertanian dan Kerusakan Lingkungan.

Pengembangan Inovasi Pertanian 1

 

210 Views
Write your answer View all answers to this question