selasar-loader

Apa kaitan sesungguhnya antara kejeniusan dengan penyakit mental (mental illness) ?

LINE it!
Answered Mar 27, 2017

Hari Nugroho
Suka single origin kopi Indonesia

OBMl2FtYzV6gUkXXipjj5ekIr--xJztZ.jpg

Lukisan Vincent van Gogh, Mental Illness and The Price of Genius via victoriaslist.com

Perbincangan mengenai apakah ada kaitan antara kejeniusan (atau kekreatifan) seseorang dengan gangguan jiwa, telah berlangsung sejak lama, bahkan acapkali menjadi suatu perdebatan. Perdebatan itu tentu saja dilandasi dengan kenyataan bahwa banyak orang jenius yang mengalami gangguan kejiwaan, baik ilmuwan maupun para seniman yang karya-karyanya mendunia dan melegenda. Sebutlah Vincent van Gogh, Beethoven, hingga John Nash peraih Nobel Matematika yang mengidap schizophrenia, dan kisahnya direkam dalam film Beautiful Mind.

Para ahli berdebat apakah benar ada suatu hubungan antara kejeniusan dan gangguan jiwa. Pedebatan ini tak berhenti pada perbincangan sederhana, namun sudah melibatkan perbincangan serius dengan penelitian-penelitian neurosains, bahkan genetika. Salah satu tulisan menarik dipaparkan oleh Adrienne Sussman dalam Stanford Journal of Neuroscience tahun 2007 yang berjudul Mental Illness and Creativity: A Neurological View of "Tortured Artist" yang menceritakan perkembangan penelitian hubungan gangguan jiwa dengan kreativitas (atau kejeniusan) para seniman yang dimulai dengan penelitian sederhana dan menemukan fakta bahwa gangguan jiwa sering terjadi pada orang-orang kreatif.

Meta-survey yang dilakukan oleh Erika Lauronen (2004) menemukan bahwa dari 13 penelitian korelasi yang dipublikasikan, 12 di antaranya mengemukakan ada hubungan antara gangguan jiwa dan kreativitas, meskipun penelitian ini mempunyai banyak keterbatasan dalam definisi dan batasan gangguan jiwa serta kreativitas. Sementara itu, Daniel Nettle menggarisbawahi, mungkin ada hubungan antara gangguan jiwa dan kreativitas, namun bukan sebab akibat. Hal dasarnya adalah fakta bahwa banyak orang kreatif tanpa mengalami gangguan jiwa dan sebaliknya. Fakta bahwa keduanya dapat berlangsung bersamaan merupakan suatu hubungan yang tidak langsung yang mungkin disebabkan kesamaan mekanisme neurologis atau genetik.

Makalah Alice Flaherty (2005) dari Harvard Medical School mengemukakan bahwa pikiran kreatif, manik depresif (bipolar), dan schizophrenia sama-sama melibatkan aktivitas yang tidak biasa di lobus frontal otak. Pendapat ini diperkuat oleh penelitian Kenneth Heilman dari University of Florida yang mengungkapkan bahwa aktivitas tidak biasa di lobus frontal otak bertanggung jawab pada pengkombinasian informasi yang disimpan di lobus parietal dan temporal dengan cara yang inovatif. Tak hanya karena letak regio yang sama di otak, kesamaan neurotransmiter (yaitu dopamine) yang terlibat juga bertanggung jawab pada terjadinya pikiran kreatif dan gangguan jiwa (terutama schizophrenia). Begitupula pada penderita bipolar, pada saat mengalami episode manik, terjadi peningkatan gairah, inspirasi atau ide yang meluap sehingga menyebabkan mereka lebih inovatif dan mampu melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Sementara itu, penelitian di Islandia yang dipublikasikan pada tahun 2015 serta melibatkan 86.000 penduduk menemukan bahwa orang-orang yang mempunyai pemikiran kreatif membawa gen yang meningkatkan risiko untuk mengalami bipolar atau schizophrenia sebesar 25% lebih banyak dari populasi kebanyakan.

Memang, orang-orang yang disebut jenius mempunyai daya nalar yang luar biasa, kreatif, dan cara berpikirnya acapkali berbeda dari orang-orang kebanyakan, seringkali dianggap gila atau mengalami gangguan jiwa. Yang jelas, diperlukan penelitian-penelitian lebih lanjut, terutama untuk melihat hubungan sebab akibat gangguan jiwa dan kejeniusan, apakah memang karena faktor biologi seperti kesamaan regio di otak atau mekanisme neurosains lainnya; faktor genetik, atau memang hanya hubungan tidak langsung atau malah tidak berkaitan.

549 Views
Write your answer View all answers to this question