selasar-loader

Untuk apa kita hidup?

LINE it!
Answered Mar 23, 2017

Pada suatu titik dalam kehidupan, dalam kondisi yang sepi, atau mungkin 'sepi', ketika Anda terbangun pada tengah malam, ketika kendaraan Anda terhenti akibat kemacetan, ketika Anda dimarahi Bos di kantor, ketika Anda bangun di ranjang rumah sakit setelah sebelumnya tak sadarkan diri, pertanyaan ini mungkin pernah mampir ke benak Anda; untuk apa kita hidup?


Izzuddin Baqi
Mahasiswa Transportasi Laut ITS 2016 | Blogger | Maritime-Concerned

jfxLrvqENVPL2NBhkRfSVIhIRw4pA_kP.jpg

Ini adalah sebuah pertanyaan singkat, namun membutuhkan kontemplasi mendalam untuk menjawabnya. 

Lagipula, jawaban dari jenis pertanyaan ini sangat bervariasi, bergantung pada pengalaman dan wawasan yang bersangkutan semasa hidupnya. Maka, di sini, saya pun juga menjawab hanya sebatas menambah warna-warni jawaban dari pertanyaan itu sendiri, tentunya berdasarkan pada empiri saya pribadi.

Bagi saya pribadi, pertanyaan ini adalah pertanyaan fundamental. Ibarat bangunan, inilah konstruksinya. Jawaban dari pertanyaan inilah yang selanjutnya menuntun seseorang menjalankan kehidupannya di dunia.

Pertanyaan ini juga menggelayuti benak saya beberapa waktu silam, terutama saat saya melakukan pencarian jati diri. Pada akhirnya, saya sendiri yang menemukan jawaban yang menurut saya pas bagi kepribadian saya.

Sebagai penganut Islam, saya juga sering mendengar jawaban-jawaban normatif dari ustadz atau penceramah. Saya sendiri menghafal dalil/ayatnya di luar kepala bahwa tujuan hidup ini adalah untuk beribadah kepada Allah.

Tapi, apakah benar hanya sesederhana itu? Saya sendiri yakin, kalaupun Anda mendengar atau membaca jawaban tersebut, tentu merasa, "Ah, basi. Jawaban standar." Begitu pula dengan saya.

Dari sanalah, saya mencoba untuk memahami makna dari kata ibadah itu sendiri. Hingga bagi saya, terasa cocok bahwa kata tersebut berarti mengabdi. Bukankah mengabdi kepada-Nya menandakan kita harus memakmurkan bumi-Nya, mensejahterakan hamba-hamba-Nya, dan menyayangi makhluk-Nya? Pengabdian itulah yang selanjutnya akan menuntun seseorang untuk bekerja tanpa pamrih, karena ia tahu bahwa pekerjaannya adalah bentuk pengabdian kepada-Nya. Pengabdian itu pula yang pada akhirnya mampu menahan nafsu duniawinya untuk saling berebut harta atau tahta.

Dalam kitab suci disebutkan, "Dan katakanlah :Bekerjalah kamu! Niscaya Allah dan rasul-Nya beserta orang-orang yang beriman yang akan melihat pekerjaanmu itu." (QS At Taubah : 105) 

Karena, rupanya Tuhan sengaja membiarkan hamba-Nya berpikir dan membaca kehidupan di dunia itu sendiri. Bahkan, Ia membebaskan hamba-Nya untuk menginterpretasikan makna ibadah (mengabdi) dalam apapun bentuknya. Hal-hal yang dibutuhkan manusia untuk mengartikan dan memahami hidup sudah Ia sediakan dan siapkan sehingga pilihannya terletak pada kehendak manusia yang bersangkutan; mau meliriknya atau tidak?

Oleh karena itu, kita kembali ke pernyataan saya di awal bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut membutuhkan kontemplasi tersendiri bagi setiap orang yang hendak menjawabnya. Yang saya lakukan ini tidak lebih dari stimulasi kepada Anda untuk bertindak dan menemukan jawaban Anda sendiri. 

Selamat menemukan tujuan hidup! :)

 

307 Views
Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Izzuddin Baqi
Mahasiswa Transportasi Laut ITS 2016 | Blogger | Maritime-Concerned