selasar-loader

Bagaimana cara membuat cerita yang detail, tetapi tidak membosankan?

LINE it!
Answered Mar 21, 2017

Baskoro Aris Sansoko
Mahasiswa UNAIR; baskoroaris.com

ALTHNTidJ0S8uWYSDivY8iPVvb1m385v.jpg

Hal pertama yang perlu dilakukan sebelum menulis sebuah cerita adalah menentukan dari sudut pandang apa atau siapa cerita itu diutarakan. Setelah menentukan sudut pandang (yang bisa berganti-ganti di tengah cerita), izinkan aku perkenalkan pada suatu istilah; subjektivitas.

Subjektivitas ini tidak terbatas tentang kondisi empiris dari hasil penginderaan tokoh. Subjektivitas lebih berbicara tentang bagaimana tokoh itu memaknai hasil penginderaannya melalui olahan pemikiran atau emosinya. Untuk bisa memahami, coba bandingkan antara dokumenteri pendaratan di Normandy dan penggambaran pendaratan di Normandy di film Saving Private Ryan. Dokumenter pendaratan di Normandy adalah kondisi empiris sedangkan penggambarannya di film Saving Private Ryan adalah hasil olahan subjektivitas.

Dalam cerita, penggambaran subjektivitas adalah hal yang lebih utama ditekankan sebab dia lebih terkait dengan tokoh dalam cerita. Menggambarkan subjektivitas tokoh dapat membuat detail kondisi empiris perlu diceritakan, namun terkadang dapat membuat detail itu tidak penting diceritakan.

Semisal, ada seorang laki-laki yang menunggu seorang perempuan di sebuah kursi taman, maka penulis sebaiknya berusaha untuk memahami subjektivitas laki-laki yang sedang menunggu itu. Tentu tidak akan menarik apabila cuma diceritakan, "Laki-laki itu duduk, diam, kakinya naik turun. Menunggu. Tak lama kemudian, perempuan itu datang." Sebab menunggu banyak diasosiasikan dengan persepsi lamanya waktu sehingga diperlukan detail-detail yang dapat menggambarkan waktu sedang berjalan lama.

Di sisi lain, bayangkan jika ada seorang laki-laki sedang berbincang dengan perempuan yang dia cintai di sebuah kedai kopi, maka penulis sebaiknya berusaha untuk memahami subjektivitas laki-laki yang sedang jatuh cinta dan berbincang dengan orang yang dia cintai. Tentu akan sia-sia menceritakan pada waktu berbincang itu kondisi kedai kopinya ramai atau tidak, warna dindingnya, jam dindingnya berbahan apa, aksen motif kayu di meja kasir, dan hal-hal di luar dirinya, perempuan yang ia cintai, dan di antara keduanya.

Aku rasa, memahami subjektivitas ini dapat memberikan detail yang pas untuk cerita. Sebab detail tidak diberikan hanya karena ia butuh detail, melainkan disesuaikan dengan subjektivitas tokoh. Ketika penulis dapat menyesuaikan dengan tokoh, penulis dapat membuat pembaca lebih mudah untuk berempati atau membayangkan posisi dirinya berada di posisi karakter dalam cerita. Singkat cerita, pembaca akan lebih mudah menyelami subjektivitas karakter dan lebih merasa terhubung dengan karakter.

Keterhubungan itulah yang membuat cerita tidak membosankan.

461 Views
Write your answer View all answers to this question