selasar-loader

Apa perbedaan yang dirasakan ketika menjabat sebagai wakil ketua DPR atas nama partai dan setelah keluar dari partai?

LINE it!
Answered Aug 15, 2017

Fahri Hamzah
Wakil Ketua DPR RI

rlo4xnMDPVP765D-vpgLWw2XrkmmRP58.jpg

Sebetulnya tidak ada konsep “keluar dari partai” karena di dalam undang-undang kita itu, semua anggota DPR haruslah merupakan wakil daripada partai politik. Tidak ada anggota DPR independen seperti dalam konsep sistem kongres di Amerika Serikat; ada calon-calon independen karena sistem distrik.

Nah, saya itu dipecat tapi kemudian saya gugat. Dipecat, digugat, lalu gugatannya diterima. Artinya, pemecatannya dibatalkan. Artinya, saya masih menjadi anggota DPR meskipun ada ketidakdewasaan dari segelintir kawan-kawan pimpinan di PKS yang tidak mau menerima kenyataan ini dengan mengatakan, “Kami masih banding.” Ya, banding sih banding, tapi keputusannya tetap membatalkan pemecatan yang telah dilakukan kepada saya.

Jadi, saya wakil siapa? Ya, saya tetap wakil dari PKS karena itu keputusan dari pengadilan sampai, kata pengadilan, nanti memiliki kekuatan hukum yang tetap atau inkracht.

Nah, inkracht ini masih jauh sebetulnya. Karena seharusnya ini diterima dulu sehingga tidak memunculkan kesalahpahaman seperti Saudari Nur Fadhilah yang mengatakan apa bedanya, gitu lho. Tapi memang ada bedanya. Karena ditolak, akhirnya saya kelihatan lebih bebas saja.

Padahal menurut saya, kader-kader PKS itu sebenarnya idealis, berani, independen, bertanggung jawab kepada pikiran-pikirannya, tidak hanya kepada partainya, tetapi juga kepada publik, kepada rakyat yang memilih dia. Dia harus kuat untuk mempertanggungjawabkan pikirannya. Jangan orang ditertibkan dengan rasa takut. Itu tidak bagus bagi masa depan partai dan masa depan demokrasi kita.

Tonton jawaban lengkap saya di video berikut ini,

gambar via detik.net.id

296 Views
Write your answer View all answers to this question