selasar-loader

Siapa Yusril Ihza Mahendra?

LINE it!
Answered Mar 08, 2017

Ibnu Zubair
Menolak tua dengan rutin tertawa

_jTt_BdlRyXQGpX7wl6TPCq-hlaPGLRl.jpg

Kalau ada pertanyaan, siapa yang paling rajin menulis tiap hari, salah satu yang akan saya sebut Pepih Nugraha. Untuk mengetahui siapa orang ini, silahkan buat pertanyaan di selasar, kita akan temukan profilnya dalam tumpukan tulisan yang tak usai-selesai. Saya sengaja memulainya dengan Pepih, meski tidak ada hubungan kekerabatan antara Pepih dan Yusril. Dari nama belakangnya saja, sudah terlihat keduanya diproduksi dari mesin pabrik yang berbeda. Satu Sunda, dan lainnya Belitung.

Namun, keduanya bertemu dalam tulisan, dan saya kira orang yang paling kompeten menjelaskan tentang Yusril adalah Pepih. Sebagai penulis buku "Ranjau Biografi", Pepih atau Kang Pepih, orang yang tepat menceritakan sosok Yusril karena perspektifnya cukup lengkap, di samping objektivitasnya yang hampir netral atau bahkan netral.

Tengoklah tulisan Kang Pepih di PepNews, yang mengatakan, "Orang boleh saja nyinyir tidak suka dengan sepak terjang Yusril Ihza Mahendra, tetapi bagi saya dia adalah seorang guru jurnalistik". Tulisan yang mengundang banyak komentar di akun facebooknya itu menarik, karena di samping secuplik mengkonstruksi sifat Yusril, tapi juga menampilkan sisi positifnya. Hal yang musykil bagi banyak orang.

Yusril muncul dalam daftar orang orang yang saya kenal dan mereka tidak mengenal saya, sejak koran menjadi menu wajib di pagi hari, tepatnya pada semester-semester pertengahan atau beberapa tahun sebelum Presiden Soeharto berhenti sebagai Presiden (1998). Yusril yang saya tahu salah seorang penyusun naskah pidato Presiden, posisi itu telah mendekatkan Yusril dengan Presiden Soeharto, dan melalui perkenalan itu pula Yusril nekat meminta Presiden Soeharto berhenti ketika gelombang reformasi sudah sulit dihentikan.

Yusril dalam persepsi saya ketika itu adalah mata rantai Orde Baru, yang diambil dari Universitas Indonesia dengan dua motif sekaligus. Pertama, menumpulkan sikap kritisnya dengan mengendalikan Yusril melalui jabatan prestisius. Kedua, memadamkan amarah umat Islam sekaligus mendekatkan Presiden Soeharto dengan umat Islam.

Konon, sebagai orang dekat Natsir, Yusril dianggap memiliki akses pada kelompok kelompok Islam keras yang lazim merongrong pemerintah melalui kekerasan dan ketakutan. Belakangan, kelompok-kelompok seperti ini sebagiannya tidak murni, tapi diciptakan oleh oknum-oknum telik sandi yang kompeten dan berpengalaman.

Dan menurut analisis lainnya, selepas peristiwa Priok, hubungan umat Islam dan Presiden Soeharto cukup renggang, sehingga penunjukan Yusril dianggap sebagai usaha Presiden Soeharto menarik simpati dari umat Islam. Begitulah persepsi yang saya dapat berdasar analisis politik jalanan yang boleh jadi benar, meskipun kelirunya lebih dominan.

Selepas Orde Baru, nama Yusril semakin sering tampil di media, utamanya selepas pendirian Partai Bulan Bintang yang mendaulat Yusril sebagai Ketua Umum. Kemudian, kiprah Yusril berlanjut dengan keinginannya untuk posisi presiden namun ujung-ujungnya menjadi menteri di berbagai era pemerintahan. Belakangan, Yusril sempat muncul dalam bursa gubernur DKI.

Sekalipun gagal "nyangkut" di salah satu partai yang berwenang mengusung, Yusril berkontribusi menyatukan umat Islam Jakarta hingga meledak selepas penyataan "keseleo" Gubernur Petahana di Pulau Seribu. Yusril memang selalu tampak moderat, tetapi pendukung dan simpatisannya berlatar konservatif, dan perilaku politik Yusril akhirnya pun hanyut dalam konservatisme.

Hal itu mengkonfirmasi pilihan-pilihan politik Yusril dalam setiap kontestasi politik yang terjadi. Artinya, ke manapun Yusril berlayar, akhirnya akan bersandar di pelabuhan yang sama. Ini pendapat saya pribadi. Mohon maaf jika keliru, apalagi jika tampaknya hampir dekat dengan salah.

Jika saja pemilihan umum dilakukan hari ini, mungkin posisi suara PBB akan meningkat. Mengapa? Karena hal itu tidak lepas dari kontribusi Yusril tadi di awal-awal pencalonan bakal calon gubernur Jakarta, dan saat ini sedang demam-demamnya. Sayangnya, fase ini diperkirakan akan lekas usai, setidaknya selepas gubernur DKI terpilih. Apalagi kalau gubernur terpilih merepresentasikan kelompok konservatif tadi, hampir pasti demo-demo masif bertema ukhuwah akan menyusut pelan-pelan.

Yang saya pelajari dari Yusril adalah kemampuannya menggunakan nalar hukum dan konsistensinya dengan itu. Selainnya, semangat membacanya masih tinggi, karena itu dalam banyak kesempatan, akan kita temukan istilah dan bahan rujukan klasik yang sering dikutip Yusril. Di sini pengetahuan kesejarahannya sangat baik, dan saya belajar banyak soal itu.

Kutipan-kutipan Yusril dalam kajian tentang hukum cukup mumpuni dan kontekstual. Kalau boleh saya katakan, Yusril adalah sosok intelektual hukum masa kini yang memadukan bahan-bahan lama yang (mungkin) sudah dipensiunkan, dengan kondisi kekinian. Saya belajar banyak soal-soal itu dari Yusril.

178 Views
Write your answer View all answers to this question