selasar-loader

Mengapa kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung) begitu menarik dan prestisius?

LINE it!
Answered Mar 07, 2017

Hamdi Alfansuri
Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Bandung

1P1y7fcZYq9PU1gH7epNavGPv0ypKZXj.jpg

Aula Barat ITB, salah satu bangunan tertua di ITB (Dokumentasi Pribadi)

 

Pertama mendengar nama Institut Teknologi Bandung, apa yang Anda bayangkan?

Anak-anak pintar membawa buku ke mana-mana, banyak orang berkaca mata memenuhi perpustakaan, atau gedung-gedung laboratorium dan alat-alat penelitian?

-----

Dahulu, saya memutuskan untuk memilih ITB hanya karena "kata orang" saja. Sejak di SMP, saya tertarik dengan bidang humaniora seperti sastra, sejarah, dan budaya. Hingga SMA, saya masih begitu. Walau saya memilih jurusan IPA bukan karena gengsi-gengsian, tapi mengikuti banyak saran dari guru-guru dan keluarga, saya juga berpikir bahwa hal-hal yang bersifat humaniora mungkin bisa saya dapatkan melalui media lain, di luar sekolah.

Hingga mendekati penutupan SNMPTN, sejujurnya, pilihan saya masih terpaku pada jurusan antropologi Universitas "Gajah Sebelah". Dengan banyak alasan, saya berusaha meyakinkan banyak orang, namun akhirnya saya berubah pikiran beberapa waktu sebelum penutupan pendaftaran. Seperti dahulu, mungkin saya masuk teknik saja dan bidang humaniora bisa diperoleh dari media lain, di luar kampus.

Akhirnya, saya mencari-cari jurusan yang sekiranya sesuai. Saya memutuskan dan meyakinkan diri memilih Teknik Planologi. Kebetulan, setahun sebelumnya, saya sempat mengikuti kegiatan Hari Tata Ruang Nasional 2014 yang sedikit demi sedikit telah mengenalkan saya tentang planologi. Jurusan teknik, tapi bahas sosial? Ya, itulah yang akhirnya membuat saya semakin yakin. Lalu ketika sudah ada jurusan, mau universitas mana?

Lagi-lagi, awalnya saya masih lebih tertarik dengan Universitas "Gajah Sebelah" hanya karena katanya kehidupan di sana sangat ramah dan berbudaya. Tapi setelah dipikirkan kembali, kalau memilih teknik, kenapa saya tidak memilih ITB saja yang katanya adalah kampus teknik terbaik? Kebetulan, teman ibu saya punya anak di ITB dari keluarga yang sederhana juga, hingga ibu saya sempat punya harapan anaknya bisa ke ITB juga (lagi-lagi karena katanya ITB universitas terbaik).

Mungkin harapan itu menjadi doa. Saya kemudian memutuskan memilih Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan - SAPPK ITB (ya, sebelum ke jurusan, di ITB harus memilih fakultas telebih dahulu). Saat itu, saya merasa biasa-biasa saja karena bagi saya, ITB sama saja dengan universitas-universitas lainnya. Tidak ada yang spesial.

Saat ini, ketika sudah berada hampir dua tahun di ITB, akhirnya saya baru menemukan alasan mengapa ITB dipandang begitu menarik dan prestisius. Berikut adalah ulasannya.

1. ITB terdiri dari berbagai multidisiplin ilmu. Selain teknik dan sains, ia mencakup juga manajemen bisnis dan seni rupa. Kolaborasi beberapa bidang ini menjadi perpaduan yang sangat komplet, terutama ketika kita hendak menghasilkan sesuatu produk sains atau teknik, pengemasannya dapat didukung oleh bidang seni rupa dan pemasarannya didukung oleh di bidang manajemen bisnis.

2. Kesembilan belas jurusan di ITB telah terakreditasi secara internasional. Itu tandanya, jika kamu masuk salah satu di antara 19 jurusan itu, kamu bisa setara dengan mahasiswa dari banyak universitas di dunia.

3. Luas Kampus Ganesha ITB yang hanya sekitar 28 Ha atau sepersekian dari kampus lain, namun ITB memiliki lebih dari 100 laboratorium jurusan dan penelitian.

4. Anak-anak ITB nggak sekadar belajar aja, tapi nuansa kemahasiswaan di ITB sangat terasa, baik di tingkat pusat maupun tingkat jurusan. Selain itu didukung oleh 40 himpunan mahasiswa jurusan dan sekitar 88 unit kegiatan mahasiswa dari berbagai rumpun: pendidikan, budaya, olahraga, seni, media, dan lain sebagainya.

5. Kuliah di ITB tidak perlu memikirkan persoalan biaya, bukan berarti gratis. Tapi tersedia banyak beasiswa ekonomi dan beasiswa prestasi dari pihak kampus dan lembaga-lembaga lain. ITB juga tidak pernah mengeluarkan mahasiswanya hanya karena masalah biaya. Dan katanya, beasiswa yang ditawarkan lebih banyak dari jumlah mahasiswanya!

6. Berbeda dengan perguruan tinggi lain, ITB menerapkan sistem Tahap Persiapan Bersama (TPB) selama dua semester dengan tidak langsung masuk ke jurusan melainkan berkuliah di fakultas/sekolah terlebih dahulu. Dua semester ini, kita masih akan belajar matematika, fisika, kimia, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, bahkan masih ada mata kuliah olahraga.

7. Di ITB banyak makan siang gratis, lho. Ada beasiswa voucher makan yang tiap vouchernya sekarang naik jadi 15 ribu. Lumayan banget! Terus juga ada Nasi Berkah di jam-jam tertentu yang terbuka buat siapa saja, asal kamu cepat pasti dapat. Makan murah juga bisa nih, di Koperasi Karyawan dan Pegawai (KKP) ITB juga ada nasi boks (yang sekarang harganya sudah naik) seharga 10 ribu lengkap nasi, sayur, kerupuk, dan kalau beruntung bisa dapat lauk ayam juga. Kalau di atas jam 4, kamu bisa mendapatkan cuma 5 ribu saja, tetap komplet.

8. Buat anak pesantren yang ragu masuk kampus umum seperti ITB, jangan takut, tepat di depan kampus, ada Masjid Salman ITB yang katanya sih masjid kampus pertama di Indonesia. Di Masjid Salman, terdapat banyak kegiatan yang bisa ningkatin keimanan dan pengetahuan seputar agama. Untuk agama lain juga jangan cemas, karena ada unit kegiatan mahasiswa yang berfungsi sebagai paguyuban keagamaan juga, lho!

9. Di ITB, selain belajar teoritis dan praktik, banyak yang merasa diajarkan pola pikir juga. Ingat, bukan cuci otak, lho. Jadi, umumnya, apapun jurusan dan bidangnya, anak ITB diajarkan cara menyelesaikan suatu problem. Pola pikirnya dapet banget. Karena harapannya, lulusan ITB dapat menjadi problem solver dalam menjawab tantangan bangsa ke depan.

10. Tidak hanya mahasiswanya yang luar biasa. Dosen-dosen di ITB tentu juga tidak kalah luar biasa. Tidak sedikit dosen ITB yang aktif menulis jurnal-jurnal ilmiah atau meraih penghargaan bergengsi.

11. Yang paling menarik dari ITB sih, kaderisasi awal terpusat dan penyambutan mahasiswa baru yang bikin haru banget. Terlebih ketika kamu bersama 3600 mahasiswa baru lainnya berkumpul di Sasana Budaya Ganesha mengumandangkan salam kebanggaan, salam ganesha untuk pertama kalinya! Serius bikin merinding!

 

bakti kami untukmu, tuhan, bangsa dan almamater

salam ganesha!

 

-----

Hamdi Alfansuri

Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota ITB 2015

Bandung, 7 Maret 2017

2678 Views
Write your answer View all answers to this question