selasar-loader

Mengapa ketika tidur lampu harus dimatikan?

LINE it!
Answered Aug 14, 2017

Resa Paksi Mandariska
Pendididikan Dokter UGM | Rumah Kepemimpinan Reg 3 Yogyakarta

lvgteEvV8dBpktCOog6qAkb7xKOTxE6g.jpg

 

Sebagaimana aktivitas lain, tidur pun memiliki kualitas. Semakin baik kualitasnya, semakin efektif pula waktu yang digunakan.

Pernahkah dirimu tidur dan ketika terbangun malah merasa lebih capek dari sebelumnya? Itulah contoh tidur yang tidak berkualitas.

Di zaman ini, fenomena tidur semacam ini menjadi hal yang mewabah. Bukan karena gen atau semacamnya, melainkan ketidakarifan kita dalam penggunaan teknologi yang ada.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Mengapa teknologi?

Ketika manusia zaman dahulu masih bergantung dengan cahaya matahari untuk beraktivitas, kini  mereka bisa merasakan penerangan 24 jam lamanya. Dalam perkembangannya, gelombang yang dipancarkan pun berbeda. Berawal dari lampu minyak hingga muncul lampu LED lengkap dengan harga yang sangat terjangkau. Jika dahulu kita lebih umum menggunakan lampu dengan spektrum kuning, maka sekarang era efisiensi energi tidak bisa melepaskan kita dari penggunaan spektrum biru. Semakin efisien, semakin kuat spektrum birunya.

lDuK_lW-4q31DDhajvWcapAcyyWqbmHn.png

Teknologi inilah yang digunakan pada layar ponsel kita, laptop, senter, lampu penerangan, dan lain sebagainya. Cahayanya menemani kita hingga matahari tiba. Cahaya itu juga muncul dalam layar gadget yang menggantikan posisi guling tidur kita.

Kini kita harus membayar kebiasaan buruk itu dengan harga yang tidak sepadan. Memang di pagi hari dan siangnya, cahaya itu bisa meningkatkan mood, produktivitas, dan perasaan nyaman dalam tubuh. Namun, cahaya spektrum biru akan lain cerita saat malam hari. Ketahuilah bahwa cahaya tersebut merusak jam biologis tubuh.

Memang secara umum semua cahaya berpengaruh, namun berbagai sumber ilmiah menyebutkan bahwa spektrum biru lebih bisa merusak kualitas tidur dengan mengganggu mekanisme sekresi hormon melatonin. Hormon melatonin adalah hormon yang berperan dalam mengatur jam biologis tubuh. Kita bangun, kita mengantuk, sadar tidak sadar tubuh kita memiliki jadwal sendiri. Semua itu merupakan bagian dari ritme surkadian yang dipengaruhi oleh hormon melatonin.

Apakah tidur yang tidak berkualitas itu baik?

Pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijawab lagi. Sangatlah tidak. Tidur yang buruk bisa menyebabkan depresi, merusak mood, dan meningkatkan emosi pada pagi hari. Kurangnya kualitas tidur akan berimbas pada hari berikutnya. Hidup yang kurang semangat, badan terasa lelah, mata yang masih mengantuk akan merusak produktivitas hari kita. Parahnya, jika dilakukan selama berulang, kebiasaan itu bisa berimbas pada komplikasi berat, seperti penyakit jantung dan obesitas.

Baca selengkapnya di tulisan saya, Cahaya Juga Memiliki Sisi Gelap.

 

Ilustrasi via Pixabay

466 Views
Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Resa Paksi Mandariska
Pendididikan Dokter UGM | Rumah Kepemimpinan Reg 3 Yogyakarta