selasar-loader

Buku apa yang Anda baca minggu ini? Apa isi tinjauannya?

LINE it!
Answered Mar 04, 2017

Pepih Nugraha
Mengikuti perkembangan gaya hidup setelah membaca buku Jean Baudrillard

5PnUNM4ze8RP4yZQPj3B1EmS3Nt2NWrH.jpg

Minggu ini saya sedang membaca buku Beginilah Shalat Nabi karangan Syaikh Mutawalli Al-Sya'rawi, seorang ulama terkemuka Timur Tengah. Buku terbitan Mizania (2016) mengulas tuntunan shalat yang mudah dicerna, khususnya tentang keutamaan shalat sebagai tiang agama dalam agama Islam.

Kata-kata "tiang agama" ternukil di awal pembahasan buku ini. Misalnya disebutkan, Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis sahih; "Puncak dari segala perintah adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak kemuliaannya adalah jihad di jalan Allah". Bahkan Umar ibn Al-Khaththab pernah berkirim surat ke suatu wilayah kekhilafahan mengenai pentingnya umat Islam menjalankan shalat. "Sesungguhnya persoalan kalian yang paling penting bagiku adalah shalat. Barang siapa menjaganya, sesungguhnya ia telah menjaga agamanya," demikian Umar.

Shalat merupakan salah satu rukun Islam setelah berucap (ikrar) syahadat. Rukun selanjutnya adalah puasa, zakat, dan berhaji ke Rumah Allah. Yang paling berkesan dari buku ini adalah kalimat "shalat merupakan salah satu ibadah yang tidak pernah gugur dan hilang kewajibannya. Setiap manusia yang beriman wajib menunaikannya dalam keadaan sehat maupun sakit."

Meskipun shalat merupakan kewajiban, seringkali umat Islam melalaikannya, padahal ia berada dalam keadaan sehat wal afiat, dalam keadaan suka-cita. Kadang pula, shalat baru dilaksanakan jika mendapat kesusahan. Shalat menjadi semacam "pelampiasan" atau "pelabuhan" untuk singgah sementara. Padahal, shalat semestinya adalah kewajiban.

Seorang muslim dalam keadaan sakit tetap harus shalat, baik dengan berdiri, duduk, telentang, atau bahkan hanya kedipan mata sekalipun. Lalu, jika ternyata ada seseorang yang mengalami sakit keras, bahkan untuk memberi isyaratpun tidak bisa, bagaimana ia mengerjakan shalatnya? Demikian salah satu kalimat yang tertulis dalam buku itu. Jawabannya sungguh membuka kesadaran, "Ia bisa menunaikan shalat dalam hatinya!"

Perbedaan inilah yang menjadi keistimewaan shalat daripada rukun Islam lainnya. Mengapa demikian? Inilah alasannya; "Seorang muslim mengucapkan ikrar kalimat syahadat la ilaha illallah muhammad rasulullah cukup sekali seumur hidup. Dalam puasa, orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan tidak wajib melakukannya. Zakat tidak wajib bagi muslim yang tidak berkecukupan. Begitu juga haji; tidak wajib bagi orang yang tidak mampu menunaikannya."

"Kewajiban ketiga rukun Islam itu (Zakat, Puasa, haji) itu bisa gugur dari Muslim, kecuali shalat!

Saya mengambil kesimpulan; dalam konteks "kesulitan" menjalankan Rukun Islam, khususnya puasa, zakat dan haji, shalat sesungguhnya kewajiban yang "paling murah dan mudah". Murah karena dia tidak harus mengeluarkan tenaga dan uang. Mudah karena dalam keadaan apapun, muslim bisa menjalankannya. Tetapi, kenapa muslim --termasuk juga saya-- kerap melalaikan kewajiban yang "murah dan mudah" ini?

Setidak-tidaknya, buku ini menampar kesadaran saya. Alhamdulillah, saya telah menunaikan kelima Rukun Islam dalam hidup saya selaku muslim. Tetapi shalat, kadang lalai saya jalankan karena suatu hal yang tidak penting, padahal saya sedang sehat dan bugar. Shalatlah sebelum dishalatkan, demikian pernyataan itu menggedor-gedor kesadaran saya.

Buku ini mengesankan bagi saya yang membaca keseluruhan isi buku ini secara cepat, bergantian dengan istri saya sebagai si empunya buku (beberapa hari lalu ia membelinya di toko buku). Saya membaca buku apa saja.

388 Views
Write your answer View all answers to this question