selasar-loader

Bagaimana rasanya melanggar norma yang berlaku di tengah masyarakat dengan dalih cinta?

LINE it!
Answered Mar 04, 2017

Baskoro Aris Sansoko
Cinta itu Ada di Segala Spektrumnya

gCxRiwGh9sE0rNvDtx1UEC-0uU6px8oQ.jpg

Saya adalah anak biasa dari keluarga biasa yang pada waktu SMA, entah bagaimana caranya, masuk dan aktif di kerohanian Islam. Saya punya dua kakak perempuan. Keduanya biasa saja. Keduanya berpacaran. Di lingkungan kerohanian Islam, pacaran itu sangat aib, tabu, dan pokoknya terasa lebih haram dari ngulur-ngulur salat atau bahkan tidak salat.

Singkat cerita, aku berpacaran waktu SMA. Posisiku di kerohanian Islam? Untung bukan ketua. Hahaha. Tapi juga bukan staf biasa.

Rasa melanggar norma waktu itu dengan dalih cinta: it feels wrong. Entah mengapa tapi rasanya salah saja. Beberapa kali kami cekcok karena posisi kami sebagai aktivis kerohanian. Hahaha!

Selepas SMA, saya putus setelah berpacaran selama 2 tahun. Pacaran lagi? Iya. Lagi-lagi tidak publikasi hubungan ke khalayak umum, masih merasa pamali. Pada awalnya, tetap merasa salah saja. Tidak nyaman. Merasa bergelut hampir setiap hari dengan diri sendiri. Tiga hampir empat tahun berjalan, rupanya saya menjadi biasa saja. Tidak lagi merasa tidak enak. Ya, biasa saja.

Akhirnya, kami putus. Dalam tiga hampir empat tahun ini, saya juga aktif di kerohanian Islam dari tingkat fakultas hingga universitas.

Akibatnya, sekalipun saya tidak pernah mengatakan atau mendakwahkan kalau pacaran itu haram. HAHAHA. Takut kena ayat 2 surat ash-Shaff. Akhirnya, saya berusaha cari alternatif penjelasan yang tidak menyelipkan kata haram tapi bisa menjelaskan bahwa pacaran itu tidak penting-penting amat.

Berhasil. Dan viral di LINE pada waktu itu. Haha. Lumayan.

Pacaran lagi? Iya.

Kali ini, baru saja di awal 2017, resmi saya menawarkannya dengan biasa saja untuk menjalin hubungan khusus pada 11 Februari 2017. Pekan depan, hubungan kami berusia sebulan.

(Meskipun demikian, rasa kenalnya seperti bertahun-tahun. Tapi, memang kami sudah saling kenal sejak masih mahasiswa baru. Cuma, ya, hubungan kami biasa saja. Dia sempat jadi staf saya di salah satu organisasi, tapi kami tidak dekat waktu itu dan karena hal itu. Kami dekat secara acak dan tidak terduga di awal tahun 2017. Tidak pernah menduga dekat dengannya.)

Kali ini, aku sudah lengser dari jabatan kerohanian. Masih ada satu posisi sih di semacam dewan pengawas. Sama, harus suci dari "bau pacaran", HAHAHA.

Empat hari setelah aku dan perempuan itu jadian, aku mengucapkan selamat datang padanya di kehidupan publikku, pun dia. Go public, istilah kerennya. Bahkan aku sengaja berfoto dengannya menggunakan kaos Selasar.com dan akhirnya diunggah di akun instagram @selasarcom haha.

Bagaimana rasanya?

Kali ini: it feels right. Even though I know it is wrong.

Mungkin karena beda perempuan? Mungkin. Bisa jadi. Sepertinya. Haha.

Syukurlah, walaupun begitu, menyadari fakta bahwa aku berpacaran, aku masih mau aktif di organisasi kerohanian Islam. Mungkin itu yang membuat keberkahan organisasiku berkurang.

Selepas dari organisasi kerohanian Islam, aku masih aktif membangun satu komunitas keislaman yang bergerak via media sosial. Coba cari: Muslimbiasa di facebook. Nanti ada link akun LINE@-nya.

Am I a living hypocrite?

Maybe yes, but let the judge judges. Saya akan tetap berbuat baik semampuku. Berbuat baik di jalan-Nya karena cinta. Dan menjalani hubungan yang salah karena cinta.

Haha, what a living paradox.

405 Views
Zulfian Prasetyo

Terobosan luar biasa dari seorang ADK, hahaha!  Mar 6, 2017

Baskoro Aris Sansoko

Saya tipikal yang tidak pernah (mau) menyebut diri saya ADK Mas hahahaha. Cuma pengurus organisasi saja.  Mar 7, 2017

Robby Syahrial

Mas bas ini pakar percintaan idola saya!  Mar 4, 2017

Baskoro Aris Sansoko

Jadi malu. Terima kasih Mas!  Mar 6, 2017

Write your answer View all answers to this question