selasar-loader

Bagaimana cara Anda hingga berhasil menghentikan kebiasaan merokok?

LINE it!
Answered Mar 03, 2017

Saverinus Suhardin
Ners, Pembaca, Penulis, Pengajar

idK8y88ahbZ37ZApFWBYdK8Syu5qZiab.jpg

Status facebook yang saya tulis tahun 2010 lalu (lihat foto yang diposting), berisi tentang niatan berhenti merokok. Saya pastikan, itulah hari pertama saya berhenti merokok setelah sekian lama menikmatinya.

Saya mulai coba-coba merokok sudah sejak SD. Di rumah, orang tua saya menjual rokok. Begitu mudah bagi saya untuk mendapatkan rokok. Sembunyi-sembunyi, tentunya. Saya berniat mencoba gara-gara melihat orang yang begitu asik saat merokok. Apalagi, pemuda-pemuda di desa terlihat keren kalau lagi mengepul asap dari mulut atau hidungnya. Saya curi beberapa batang rokok, lalu bersembunyi di hutan. Saya mulai membakar dan menghisapnya. Rasanya aneh. Beberapa kali saya batuk, karena belum piawai mengelola asap dalam rongga pernapasan. Degup jantung saat itu lebih cepat dari biasanya. Mungkin, hal itu terjadi akibat pengaruh rokok sekaligus rasa takut ketahuan oleh orang tua. Begitu tiba di rumah, saya segera menggosok gigi biar tidak tercium bau rokok di mulut saya oleh seisi rumah.

Merokok saat SD itu memang tidak rutin dilakukan. Saya tidak ingat pasti berapa kali saya mencobanya. Sekitar dua atau tiga kali, barangkali. Meskipun tidak begitu menikmatinya, saya tetap saja mencoba.

Mamasuki masa SMP, saya semakin berani mencoba. Teman-teman sebaya saya sering mengingatkan, "Kita sudàh dewasa." Awal masuk SMP, saya belum begitu berani merokok karena tinggal di asrama. Aturan di sekolah dan asrama sudah jelas, dilarang merokok. Jika kedapatan, sanksinya cukup berat, bisa-bisa kami dikeluarkan dari sekolah.

Entah mengapa, kami saat itu suka menentang aturan. Terlebih saat kelas 3 SMP, kami mulai berani bolos dari asrama, meski harus melewati pagar yang tinggi serta berkawat duri. Kalau berhasil mendapatkan rokok, saya bersama teman sesama perokok menyepi di sudut bangunan asrama. Di sana, kami merokok dengan gembira. Bahkan, kadang-kadang kami unjuk kebolehan. Siapa yang bisa memasukan asap ke lubang hidung, atau mengeluarkan asap lewat hidung akan dianggap hebat. Kami juga biasa menguji kebolehan, siapa yang bisa mengeluarkan pola berbentuk bulat dari mulut, dialah yang paling keren.

Semasa SMP, saya menganggap merokok itu keren, gaul, dan hebat. Saya juga kurang paham, apa alasannya. Pokoknya keren saja. Oh iya, selain di sudut asrama, saya dan teman-teman juga biasa duduk tenang di WC hanya untuk merokok. Bagi kami, merokok di WC lebih aman. Pembina asrama jarang inspeksi ke sana lantaran bau yang menyengat. Bagi kami, bau itu justru semakin nikmat bersama asap rokok. Aduh!

Sejago-sejagonya kami bersembunyi, tetap saja diketahui pembina asrama. Beberapa kali saya mendapat sanksi seperti dipukul dengan rotan, disuruh berlutut, ditampar, dan membersihkan got/saluran asrama. Beberapa teman ada yang harus dikeluarkan dari sekolah akibat sering kedapatan merokok. Tidak jera-jera. Saya pun berhenti sekolah lantaran merasa aturan di sekolah dan asrama terlalu mengekang kebebasan (Kini baru saya menyesalinya).

Saat SMA, kebiasaan merokok saya lebih parah lagi. Bahkan, saya bersama teman-teman menganggap diri sebagai pemadat. Bangga dengan status tersebut. Kami merokok tiap saat. Apalagi sehabis makan atau saat menikmati kòpi, wajib hukumnya untuk merokok. Bagaimana saja caranya, asalkan bisa merokok.

Sebanyak 75% anggaran belanja bulanan dari orang tua dialokasikan untuk membeli rokok dan kadang-kadang moke (minuman berakohol). Sisanya untuk makan dan membeli kebutuhan lain di kost. Tidak pernah terpikirkan di benak saya saat itu untuk menyisihkan uang untuk membeli buku. Tentu saja saya jarang sekali bahkan tidak pernah membaca satu buku hingga tuntas. Kalau uang belanja habis dan belum mendapatkan kiriman dari orang tua, biasanya saya berhutang rokok di kios milik tetangga. Atau hal yang paling parah, kami harus memungut puntung rokok di jalanan atau tempat sampah bank/ATM. (Jika dipikirkan sekarang, betapa bodohnya saya kala itu).

Saat tahun pertama kuliah, saya tetap merokok secara aktif. Kabar baiknya, saya kuliah di bidang keperawatan. Beberapa kali dosen mengingatkan kami agar tidak merokok. "Anda itu role model bagi masyarakat. Kalau merokok, bagaimana mereka bisa percaya omongan kamu tentang bahaya merokok?" kira-kira begitulah nasihat dosen saat itu. Siapa yang mau peduli? Kami malah menganggap itu sebagai guyonan belaka.

Waktu terus berjalan. Saat itu, saya mulai membiasakan diri untuk membaca buku. Banyak hal yang mulai saya pahami. Semakin saya membaca, semakin gelisah rasanya batin saya. Kehidupan saya sudah terlalu jauh dari ideal.

Terlebih saat membaca topik tentang 'Angina Pektoris' di buku Patofisiologi yang merupakan buku pertama yang saya beli dan berusaha membacanya dengan tekun. Angina pektoris itu sederhananya adalah rasa nyeri di dada kiri, akibat kurang oksigen yang mengalir ke jantung. Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan merokok. Pembuluh darah jantung semakin menyempit dan kaku, sehingga aliran darah menuju otot jantung makin berkurang.

Setelah membaca dan merenung, saya merasa beberapa gejalanya persis seperti apa yang saya rasakan saat itu. Mulai terasa nyeri di dada. Saya semakin takut. Puncaknya, pada tanggal 3 Januari 2010, saya memutuskan berhenti untuk merokok. Puji Tuhan, upaya saya berhasil hingga saat ini.

Saya tidak mengatakan nyeri dada itu murni disebabkan merokok. Toh, masih banyak punya penyebab atau faktor risiko yang lain. Saya hanya berusaha menghindari salah satu penyebabnya, yaitu merokok.

Apakah dengan berhanti merokok, maka masalah nyeri dada itu hilang seketika? Tidak juga. Itulah repotnya organ jantung; sekali dia rusak, sulit kembali seperti keadaan semula. Kecuali kalau dioperasi, kemudian dipasang cincin pada pembuluh darah yang bermasalah tersebut.

Tapi, menurut hasil penelitian yang pernah saya baca (muda-mudahan tidak tanya jurnalnya apa, karena sudah lupa), dengan berhenti merokok, kita sudah bisa mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup.

Sebaik-baiknya pengobatan atau perawatan, tetaplah lebih baik pencegahan. Supaya tidak terjerat masalah rumit tersebut, sebaiknya tidak coba merokok sejak awal.

***

Bagaimana cara saya menghentikan kebiasaan merokok tersebut ?

Selain niat yang besar tadi, saya menggunakan teknik self hypnosis untuk mendapatkan hasil yang optimal. Cara ini saya dapatkan dari buku berjudul Kekuatan Pikiran karangan Christian H. Godefroy.

Dalam buku tersebut, dijelaskan bahwa kebiasaan kita diatur oleh pikiran bawah sadar. Agar kebiasaan itu bisa diubah, harus dilakukan pemograman ulang lewat hipnosis. Hipnosis itu sendiri itu adalah kondisi rileks yang pikiran bawah sadar bisa diubah dengan memberikan sugesti secara berulang-ulang.

Saya akan membagikan tips dengan versi saya sendiri dengan tetap mempertahankan prinsip utama yang disampaikan penulisnya. Inti dari terapi ini adalah bagaimana kita mengubah pikiran-pikiran yang salah dengan pikiran atau keyakinan yang benar. Tentunya tips ini berlaku bagi Anda yang punya pandangan bahwa merokok itu merugikan. Inilah langkah-langkahnya: 

  1. Ciptakan suasana yang tenang (bila perlu, Anda tutup kamar, dan sebaiknya dilakukan pada saat semua orang tidur atau tidak gaduh) 
  2. Tidurlah dengan posisi yang paling nyaman menurut anda. 
  3. Relaksasi dengan cara hipnotis diri anda sendiri dengan kalimat seperti ini: "Sebentar lagi kelopak mata semakin berat…. tidak lama lagi mata saya akan menutup rapat… saya akan merasa lebih relaks dari biasanya… saya akan tidur jauh lebih lelap dari sebelumnya". (katakan semuanya itu dalam hati, seolah-olah Anda adalah ahli hipnotis seperti acara di TV) setelah anda merasa tenang dan relaks… bayangkan atau visualisasikan dalam pikiran Anda bagaimana kebiasaan merokok anda setiap hari. Kemudian, visualisasikan dampak merokok dalam pikiran Anda, misalnya tidak punya uang untuk beli makanan. Anda bayangkan seolah-olah Anda sangat melarat, kemudian Anda bayangkan juga Anda mulai batuk-batuk, lebih parah lagi Anda batuk bercampur darah, sesak napas, lemah, tidak bisa melakukan apa-apa, hanya tidur dengan tidak berdaya di rumah sakit. Bayangkan hal-hal yang paling buruk.
  4. Kemudian, dalam pikiran, Anda tentunya merasa takut dengan apa yang sudah lihat dalam pikiran Anda. Lalu Anda pun bertekat dengan sungguh-sungguh dalam hati untuk berhenti merokok. Kemudian, visualisasikan kembali Anda membakar sebatang rokok kemudian mengisapnya, setelah itu dengan penuh kebencian Anda hancurkan batang rokok tersebut sambil dalam hati berkata, "Saya akan semakin baik tanpa merokok…" Selanjutnya Anda bayangkan dalam pikiran Anda perasaan bahagia karena Anda berhasil berhenti merokok sambil dalam hati berkata, "Tubuh saya semakin sehat tanpa merokok, keuangan saya semakin baik tanpa merokok, dan pernyataan positif lainnya."
  5. Akhiri langkah di atas dengan doa kepada Tuhan yang Anda yakini. Mintalah Tuhan untuk menolong anda agar bisa berhasil sesuai yang kita inginkan. 

Itulah sedikit tips bagi Anda yang punya keinginan untuk berhenti merokok. Yakinlah bahwa cara ini bisa menolong Anda. Saya telah membuktikannya, sekarang giliran Anda.

 

295 Views
Write your answer View all answers to this question