selasar-loader

Kenapa Pilkada DKI paling menarik perhatian?

LINE it!
Answered Feb 06, 2017

Mungkin bisa ditegaskan dulu, dari mana bisa disimpulkan bahwa Pilkada DKI paling menarik. Toh, penelitian khusus yang memastikan hal itu belum ada yang betul-betul meyakinkan sekali. 

Sekadar melihat dari keriuhan di jejaring sosial, masifnya pemberitaan, mungkin iya. 

Tapi itu juga membutuhkan berbagai alat ukur di tengah fakta: masyarakat miskin dan masyarakat kalangan supersibuk. 

Pertama masyarakat miskin, jumlah mereka masih sangat tinggi dan mereka lebih tertarik urusan pemenuhan kebutuhan dapur daripada Pilkada, waktu untuk mencurahkan perhatian. 

Lagipula, kalangan miskin tersebut takkan leluasa mengikuti berita selayaknya "pecandu" berita. Sebab berita hari ini paling mereka pentingkan adalah di mana mereka bisa mencari duit, siapa yang bisa memberinya pekerjaan, dan bagaimana membayar utang-utang yang menjerat mereka saat terdesak. 

Kembali ke teori Maslow, manusia hanya memikirkan hal-hal yang lebih tinggi hanya manakala kebutuhan-kebutuhan dasar telah terjamin. 

Jadi, kalaupun ada di antara mereka yang dalam kondisi terjepit dengan kekurangan finansial akut tapi terlihat tekun sekali membaca koran, terutama dalam kendaraan umum yang dinaiki gonta-ganti, yakinlah dia bukan sedang mengikuti Pilkada DKI melainkan mungkin itu adalah COPET. 

Tidak percaya?  Cobalah sesekali duduk di sebelah orang-orang tekun baca koran di kendaraan umum. Tapi jangan langsung meneriakinya, "Copettttt. . . . " sebab mungkin juga itu adalah makelar yang betul-betul sedang meneliti halaman iklan Pos Kota di mana ada yang jual mobil dan motor bekas. Gegabah meneriaki mereka tanpa mendalami betul-betul, jelas kesalahan besar, dan Anda bisa dianggap setali tiga uang dengan Rizieq Shihab atau mungkin Jonru. 

Kedua, kalangan supersibuk. Ini identik dengan kalangan jetset, yang per detiknya bisa berharga sangat mahal. Bagi mereka, memelototi terlalu serius apa saja rencana Rizieq Shihab dan "Abbott and Costello" di DPR RI (baca: Fadli Zon dan Fahri Hamzah) untuk mencampuri DKI melebihi daerah di mana mereka terpilih, tentu bisa membuat mereka kalangan supersibuk ini rugi tujuh kali lipat.

Syahrini, seleb yang masuk kategori ini, lebih tertarik bikin iklan mie di Hollywood, atau untuk lebih variatif ke Bollywood, daripada ikut-ikut ribut bicara dan melulu menyimak Pilkada DKI. Lagian, dari semua calon, tak ada yang perjaka, atau pria yang betul-betul bisa menjanjikan akan menjadikannya sebagai istri pertama. Nekat, Annisa Pohan sendiri saja bisa mengunyahnya hidup-hidup. Ya, seperti mengunyah mie tanpa dimasak lebih dulu. 

Jadi, soal kenapa Pilkada DKI paling menarik perhatian, sejatinya hanya paling menarik bagi pria-pria yang tak digubris istri di malam Jumat saja. Lha. . . . 

Tapi itu juga fakta, daripada pikiran ngalor-ngidul. membayangkan bagaimana Syahrini jika berbulan madu dengan Saipul Jamil, atau Siti Badriah sedang berjoget dengan Babe Cabita? Ya, lebih elite rasanya bicara agak serius tentang Pilkada DKI. 

Note: Di tengah berjuta artikel atau sebanyak jamaah Rizieq Shihab saat menjalankan aksi dengan episode bersaing dengan sinetron Cinta Fitri, sesekali kita membutuhkan ulasan yang mampu mengelus hasrat tawa kita. 

 


Arifki Chaniago
Political Commentator

HMH8Ibw2BvHUdkBKXeI7uL7Xs6sHO-iT.jpg

Pilkada DKI Jakarta menarik dibandingkan daerah lain karena dilatarbelangi dengan alasan-alasan sebagai berikut: pertama, Pilkada DKI Jakarta batu loncatan bagi calon terpilih untuk memiliki posisi tawar pada pilpres 2019. Faktanya, Pikada DKI Jakarta yang memenangkan Jokowi-Ahok tahun 2012 telah mengantarkannya pada 2014 sebagai presiden.

Kedua, Pilkada DKI Jakarta hampir mirip dengan Pilpres Amerika Serikat, kompetisi Hilarry dengan Trump. Alasannya, Pilkada DKI Jakarta telah banyak melibatkan selebritis, seniman, dan intelektual yang berlomba-lomba mendukung calon masing-masing. Maka, tidak salah bila Pilkada DKI Jakarta disebut banyak orang Pilkada rasa pilpres.

 hw0CYZCnK3oOHOGxUwDoswBSey0VNCQF.jpg


Ketiga, Pilkada DKI Jakarta memerlihatkan pertarungan politik identitas atau identitas politik yang mendatangkan massa dari pelbagai daerah dalam wadah gerakan 411 dan 212. Dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki di Kepulauaan Seribu terkait surat Al-Maidah ayat 51 melibatkan Jokowi sebagai orang yang harus bertanggung jawab.

Munculnya gerakan makar terhadap Presiden Jokowi (diduga melibatkan aktor Kivlan Zein cs) telah menambah masalah dan panas Pilkada DKI Jakarta sehingga Basuki seakan-akan memiliki hubungan dengan Jokowi (Basuki adalah Jokowi)—inilah opini yang berkembang di publik yang menyebabkan Jokowi dianggab terlibat. 

Basuki kembali melakukan polemik dengan Kiai Ma’ruf Amin (Ketua MUI) yang menyeret nama SBY. Nama SBY muncul di persidangan Basuki setelah disebut Basuki dan penasihat hukumnya. Blunder Basuki untuk yang kedua kalinya menyebabkan hubungan Basuki dengan NU merenggang dengan adanya upaya protes santri bahwa ucapan Basuki kepada Ma’ruf Amin tidak pantas. 

Keempat, menariknya, Pilkada DKI Jakarta dewasa ini sampai mengupas hubungan suami-istri Firza Hussein dengan Habib Rizieq. Kabarnya, pelbagai media sudah mendapatkan bukti sah tentang hubungan Firza dan Rizieq. 

Rizieq yang namanya naik daun setelah gerakan 411 dan 212 mulai goyah. Kasus Firza-Rizieq telah mengiring opini publik bahwa Rizieq punya persoalan asusila. Benar atau salahnya kasus ini, jangan sampai ini upaya untuk menghancurkan karakter yang telah menjadi tokoh gerakan 411 dan 212. 

Kelima, dibalik kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki, nama Sylvi juga diseret-seret dengan korupsi Masjid dan Basuki menyatakan bahwa ia pernah distafkan. Polemik isu korupsi Sylvi, juga ditambah dengan isu gratifkasi yang diterima Anies yang digoreng pihak tidak bertanggung jawab.

Menurut saya, isu dengan persoalan agama yang menimpa Basuki sungguh disayangkan digoreng oleh banyak pihak, sama halnya dengan upaya-upaya mencari kasus korupsi, gratifikasi, dan asusila yang melibatkan Sylvi, Anies, dan Rizieq.

Jadi, kesimpulan yang dapat diambil bahwa menjebak politisi dengan kasus agama, korupsi, gratifikasi, dan asusila menjelang hari pemilihan (pilkada) sama saja menggadaikan nilai-nilai demi hasrat sesaat. 

 

364 Views
Write your answer View all answers to this question