selasar-loader

Siapakah cinta pertama Anda?

LINE it!
Answered Dec 06, 2016

Hasil gambar untuk CINTA PERTAMA

Cinta pertama saya adalah dia, lelaki yang sekarang menjadi suami saya, ayah dari dua bujang pamenan saya, yaitu RICKY MAFILINDO.

Allah bekerja dalam cara–cara yang indah dan tidak pernah diduga oleh manusia, begitu pun dengan kehidupan saya. Suami saya adalah cinta pertama saya pada pandangan pertama. Semua bermula ketika saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan SMA di SMA 1 Padang Panjang yang merupakan SMA unggulan di Sumatera Barat.

Saya datang ke Padang Panjang untuk mengikuti tes masuk SMA 1 Padang Panjang dengan diantar oleh ayah menggunakan sepeda motor "bebek" Yamaha yang sudah jadul. Saat memasuki gerbang sekolah pandangan saya melihat lurus ke arah jalan sebelah kiri dan dari dalam lingkungan sekolah berjalan sesosok anak lelaki semampai berkulit putih dan bermata elang memandang saya tajam. Kami bersirobok pandang, darah saya mendesir ada gelenyar aneh yang saya rasakan saat kami bertatapan. Beberapa lama, saya tertegun ketika tersadar saya merasakan panas di wajah dan pastilah saat itu wajah saya memerah. Terlambat sudah untuk membelokkan langkah mengambil jalan sisi kanan, ia sudah berada tepat di depan saya dan menyapa "Kamu mau ikut tes SMA unggul juga ya?" Saya hanya mampu menjawab dengan anggukan, lidah saya kelu seperti terkunci.

“Tesnya diundur nanti tanggal 20 Juni,” ujarnya lagi. Hanya ucapan terima kasih yang meluncur dari bibir saya, kemudian saya meneruskan perjalanan masuk ke lingkungan sekolah dan ternyata dia berbalik berjalan di samping saya sampai ke depan kantor tata usaha, untuk beberapa lama kami berdekatan. Badan saya bergetar, keringat mulai terasa mengalir dan debar di dada ini makin bergemuruh kencang, ada suatu perasaan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Semenjak pertemuan pertama itu, saya tidak pernah bisa melupakan wajahnya, tatapan matanya dan siluet tubuhnya.

Setelah pengumuman penerimaan, ternyata kami berada di kelas yang sama yakni kelas I1. Dan sejak hari pertama sekolah, perasaan itu semakin kuat, gejala fisiologis yang saya rasakan saat pertama kali bertemu di gerbang sekolah tak berkurang sedikit pun bahkan makin bertambah. Saya bukanlah gadis yang gaul atau sejenisnya, jadi perasaan ini saya simpan rapat-rapat. Di kelas, dia duduk di belakang saya. Hal ini membuat saya sulit berkonsentrasi. Setiap kali berpapasan, saya senantiasa menundukkan pandangan sambil menenangkan diri dan menyembunyikan wajah ini  yang pastilah memerah. Memandangnya dari kejauhan, mengamati setiap gerak-gerik dan bahasa tubuhnya menjadi rutinitas dan kebiasaan saya. Hal yang paling saya sukai adalah memandang siluet dirinya dari belakang, karena hal itu bisa membuat saya leluasa memandangnya tanpa khawatir tertangkap basah. Kami tidak pernah bercakap-cakap panjang lebar, pernah beberapa kali dia berusaha untuk mengajak bicara, pergi ke kantin atau ke perpustakaan namun secara halus saya tolak.

Setiap malam ketika imtaq, saya berusaha salat di saf kedua dari depan berusaha untuk bisa melihatnya. Setiap sore, saya menghabiskan waktu belajar dikelas C1 yang berada di sayap kiri sekolah, duduk di dekat jendela menantikan kedatangannya lewat  tersiksa. Ya, sungguh tersiksa saat itu tapi saya menikmatinya, memandangnya dalam diam menghadirkan perasaan bahagia.

Namun, semua itu hanya satu catur wulan bisa saya nikmati, karena setelah penerimaan rapor ia pindah ke SMU1 Batusangkar. Memandangnya untuk terakhir kali ketika ia berjalan meninggalkan sekolah, membuat saya meneteskan air mata. Ada yang hilang dan ada rasa sakit setiap kali mengingatnya. Saya pernah mengiriminya surat sekali waktu namun tak berbalas. Apakah perasaan saya hilang seiring dengan kepindahannya? Ternyata tidak karena ada saja hal-hal yang menghubungkan ingatan saya kepadanya yakni melalui teman saya Putri dan Dolla yang dulu satu SMP dengannya.

Suatu ketika, Putri mengajak saya main ke rumahnya di Batusangkar, di sanalah untuk pertama kali saya ngobrol dengannya lewat telepon dengan antusias dia bercerita kalau ia membaca puisi-puisi saya yang dimuat di koran Haluan dan ia menyimpannya. Putri dan Dolla adalah dua teman yang selalu menghubungkan ingatan saya tentang seorang Ricky Mafilindo, meski kami tak pernah berkomunikasi.

Pertemuan berikutnya terjadi sewaktu saya mengikuti bimbel untuk persapan UMPTN, suatu sore kala hujan lebat di halaman Gramedia Padang. Kami bertegur sapa, ngobrol basa-basi sedikit kemudian tenggelam dalam diam, menunggu hujan reda. Saya sibuk menenangkan diri dari debaran dan perasaan yang menghentak-hentak seperti mau meledak, namun saya bahagia bisa berjumpa dan berdiri di sampingnya.

Ternyata Tuhan memang telah mengatur segalanya, saya mengira kuliah di Psikologi USU akan membuat saya jauh dari segala sesuatu yang berhubungan dengan Ricky Mafilindo, ternyata tidak. Teman satu angkatan yang saya panggil dengan panggilan kesayangan "Taripa" adalah teman sekaligus seseorang yang pernah menjadi teman dekatnya di SMA Batusangkar. Sang Taripa menyapa saya ketika ospek di hari pertama, ia mengenal nama saya melalui surat yang dulu pernah saya kirim pada Ricky yang tak pernah berbalas. Saya dan Taripa semenjak itu menjadi teman akrab  karena sama-sama orang Padang. Kos-kosan Taripa berada di SO7 ( Sipirok 07) menjadi tempat saya memupuk perasaan dan khayalan saya tentang seorang Ricky karena setiap berkunjung ke sana saya selalu membuka album–album foto milik Taripa hanya untuk sekadar melepaskan rindu pada sosoknya.

Melalui Taripa juga akhirnya saya bisa berkomunikasi lewat email, friendster, dan hp karena kami sama-sama suka membaca dan menulis kami sering berdiskusi mengenai banyak hal. Perasaan saya makin kuat padanya, bedanya sekarang saya sudah mulai bisa mengendalikan diri dan berdamai dengan debaran-debaran di dada. Namun, setelah dua tahun berkomunikasi saya merasa tidak sanggup lagi menahan gejolak perasaan dan memutuskan untuk tidak lagi berkomunikasi dengannya selama satu tahun. Namun, saya salah lagi, ternyata perasaan itu bukannya berkurang namun semakin kuat dan  dalam. Akhirnya, saya menyerah juga kembali membalas semua email, sms, dan teleponnya. Saya menyimpan rapat-rapat perasaan ini, takut apabila ia mengetahui isi hati saya akan merusak persahabatan kami dan membuat saya kehilangan sahabat terbaik saya.

Setelah hampir tujuh tahun ketika lebaran tahun 2006, kami memutuskan untuk bertemu, saat itu saya sudah jauh lebih dewasa dan bisa mengendalikan diri, sudah mampu menata emosi dan gejolak perasaan yang ada. Setelah pertemuan itu, saya benar-benar merasa tak bisa mengizinkan nama lain yang masuk ke dalam hati ini. Ternyata selama ini saya tidak bertepuk sebelah tangan. Dulu, ketika SMA sudah beberapa kali ia ingin meminta saya jadi seseorang yang spesial di hatinya, namun karena sikap saya yang dingin ia memilih mundur.

Setahun setelah itu, kami sepakat untuk mengenal satu sama lain lebih dekat, untuk memantapkan hati bahwa dia yang saya pilih jadi imam saya dan saya ia pilih menjadi makmumnya. Keinginan untuk menikah ternyata  tidaklah mulus karena dia memiliki dua orang kakak yang belum menikah. Alhamdulillah melalui kakak saya kami mempertemukan abangnya dengan jodohnya, mereka menikah bulan Juni 2011, tiga bulan berikutnya di tanggal 8 September 2011 kami menikah. Sekarang, kami sudah memiliki dua anak bujang yang sehat dan aktif yaitu Rakryan Suvarnabhumi dan Bhre Suvarnadwipa.

278 Views
Melphi Desuspa

Ma syaa Allah, indahnya membaca kisah cinta pertama mereka dpt menyatu pada akhirnya..


Surat yg terkirim wkt itu cukup sebagai penanda.. 
  Jan 4, 2019

Miftah Sabri

Sosok yang mengagumkan di tuturan ini justru Melphi Desupa. Mil undang donk Melphi ke selasar. Dan memantik pertanyaan baru bagi saya: "Bagaimana rasanya bersahabat dengan orang yang pernah mencintai pasangan kita?"

Destiny"s games
  Dec 6, 2016

Write your answer View all answers to this question