selasar-loader

Bagaimana rasanya mengunjungi pulau-pulau terluar di Indonesia?

LINE it!
Answered Jan 30, 2017

Nuradia Puspawati
Part-Time Traveler

jh5gljvXhQdXYeShktRisF3VuYl6x9ZG.jpg

Salah satu pulau terluar paling mengesankan yang pernah saya kunjungi adalah Pulau Matakus. Ketika mendengar ini, pasti akan banyak yang bertanya. Matakus? Di mana itu? Ada di Indonesia? 

Yup. Pulau Matakus adalah pulau kecil di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), menjadi salah satu pulau terluar di Lautan Arafuru yang membatasi Indonesia dengan Australia. Gugusan kecil pulau-pulau di MTB memang jarang diketahui dan dikunjungi turis, bahkan lokasinya masih belum bisa terdeteksi google maps.Tak heran jika ia memiliki julukan "The Forgotten Island".

Untuk menuju Pulau Matakus, Anda bisa menggunakan pesawat dari Ambon menuju Saumlaki, Ibu kota Kabupaten MTB. Setelahnya, Anda bisa menumpang kapal yang menuju Pulau Matakus dari Pelabuhan Saumlaki. Jangan lupa siapkan pelampung jika Anda terpaksa menggunakan kapal kecil karena Anda akan mendapati ombak mahadahsyat yang mengajak Anda untuk arung jeram di laut lepas.

Pulau Matakus dihuni oleh penduduk Desa Matakus yang hanya berjumlah 400 orang. Mata pencaharian sebagian besar penduduknya adalah sebagai nelayan. Pelaut Matakus terkenal sebagai nelayan yang ulung. Bagaimana tidak, Lautan Arafuru adalah termasuk lautan yang 'ganas'. Aliran listrik hanya tersedia pada jam-jam tertentu saja. Selebihnya mereka mengandalkan lilin dan lampu minyak. 

Hal yang membuat saya sangat terkesan dengan Matakus, pertama adalah karena pulau ini memiliki pasir putih dan halus seperti tepung. Indah sekali! Bahkan warga di sana tidak jarang yang tidur santai di Pantai siang ataupun malam hari. Kedua, mereka memang tertinggal jauh dari kemajuan masyarakat Indonesia lainnya yang tinggal di ibukota. Akses pendidikan, listrik, teknologi masih sangat terbatas. Namun mereka adalah manusia-manusia yang bersahaja. 

Saya merasa sangat nyaman bertemu dengan mereka, meskipun baru mengenal, mereka tak pernah luput untuk menyapa saya saat berpapasan di jalan. Saya selalu dihidangkan masakan yang enak; ikan bakar lengkap dengan sambal colo-colo. Meskipun saya berkerudung (seratus persen penduduk adalah penganut Katolik), saya selalu dipersilakan untuk melakukan ibadah di rumah warga. 

Perjalanan ke Matakus menjadi satu pengalaman yang tak akan bisa saya lupakan. Mereka mengajari saya banyak hal: syukur dan kebahagiaan dalam menjalani hidup yang penuh kesederhanaan. Oiya, satu lagi. Saya sama sekali tidak diperlakukan sebagai asing, keramahan mereka adalah benar-benar keramahan Indonesia. Akhirnya, Matakus membuat saya makin cinta pada negeri ini!

 

310 Views
Write your answer View all answers to this question